Amalan Sederhana yang sering diabaikan


Ada amalan yang terlihat sederhana, tetapi ternyata tidak ringan untuk dilakukan secara istiqamah.
Qiyamullail, shalat Dhuha, puasa Senin Kamis, dan membaca Al-Qur’an.

Tidak ada ritual yang aneh. Tidak ada kesaktian yang dipertontonkan. Tidak ada janji kemampuan luar biasa. Tidak ada cerita tentang kebal senjata, menangkap jin, atau memperoleh kesaktian tertentu.

Hanya ibadah.
Sederhana.

Namun justru karena sederhana, terkadang manusia meremehkannya.

Padahal, amalan-amalan tersebut memiliki dasar dalam ajaran Islam dan termasuk bentuk ibadah sunnah yang dianjurkan Rasulullah ﷺ.

Jangan Meremehkan Amalan Sunnah yang Sederhana
Di tengah banyaknya informasi keagamaan, terkadang perhatian manusia justru lebih mudah tertarik kepada sesuatu yang terlihat luar biasa.

Ada orang yang tertarik kepada amalan karena dianggap memiliki keistimewaan tertentu.

Ada yang mencari amalan untuk mendapatkan kekayaan dengan cepat.

Ada yang tertarik dengan berbagai ijazah yang dikaitkan dengan kemampuan supranatural.

Bahkan ada yang lebih bersemangat mempelajari amalan yang diklaim dapat memberikan kekebalan, kemampuan menghadapi jin, atau berbagai karamah tertentu.

Sementara amalan yang benar-benar jelas diajarkan Rasulullah ﷺ terkadang justru dianggap biasa saja:

Bangun malam untuk shalat.
Shalat Dhuha.
Puasa Senin dan Kamis.
Membaca Al-Qur’an.

Padahal ukuran kemuliaan sebuah ibadah bukanlah seberapa hebat ibadah tersebut terlihat di mata manusia.

Yang paling penting adalah apakah ibadah itu memiliki tuntunan yang benar, dilakukan dengan ikhlas, dan dijaga dengan istiqamah.

1. Qiyamullail: Bangun Saat Orang Lain Terlelap
Qiyamullail adalah shalat malam yang dilakukan setelah shalat Isya hingga sebelum Subuh. Tahajud termasuk di dalamnya apabila dilakukan setelah tidur.

Amalan ini memang sederhana secara bentuk.
Hanya berdiri, membaca Al-Qur’an, rukuk, sujud, berdoa dan bermunajat kepada Allah.

Tetapi melakukannya ketika tubuh sedang ingin tidur membutuhkan perjuangan.

Allah memuji orang-orang yang menghidupkan malam dengan ibadah.

Allah berfirman:
«كَانُوا قَلِيلًا مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ ۝ وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ»
«“Mereka sedikit sekali tidur pada waktu malam. Dan pada akhir malam mereka memohon ampunan.”(QS. Adz-Dzariyat: 17–18)»

Bahkan Rasulullah ﷺ menjelaskan keutamaan shalat malam.
Dalam Shahih Muslim disebutkan bahwa shalat malam merupakan shalat yang paling utama setelah shalat wajib.

Maka jangan sampai kita sibuk mencari amalan yang dianggap luar biasa, tetapi meninggalkan kesempatan untuk berdiri menghadap Allah di penghujung malam.

Tidak harus langsung panjang.
Dua rakaat pun dapat menjadi awal.
Yang penting adalah mulai.
Kemudian berusaha istiqamah.

2. Shalat Dhuha: Dua Rakaat yang Sering Terlupakan
Pagi hari adalah waktu ketika manusia mulai sibuk.

Ada yang bekerja.
Ada yang pergi ke sekolah.
Ada yang berdagang.
Ada yang mengurus keluarga.
Ada yang mengejar berbagai urusan dunia.

Di tengah kesibukan itu, ada sebuah amalan sunnah yang sering terlupakan:

shalat Dhuha.
Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa setiap persendian manusia memiliki kewajiban sedekah setiap pagi. Berbagai bentuk kebaikan menjadi sedekah, dan dua rakaat shalat Dhuha dapat mencukupi hal tersebut.

Betapa indahnya ajaran Islam.
Tidak semua orang memiliki banyak harta untuk bersedekah setiap hari.
Tetapi Allah memberikan jalan yang luas untuk berbuat kebaikan.

Dua rakaat Dhuha.
Tidak membutuhkan biaya.
Tidak membutuhkan tempat yang mewah.
Tidak membutuhkan pengakuan manusia.
Cukup wudhu, menghadap kiblat, kemudian shalat karena Allah.

3. Puasa Senin Kamis: Menahan Lapar, Menjaga Amal
Puasa Senin Kamis juga terlihat sederhana.

Tidak makan.
Tidak minum.
Menahan hawa nafsu sejak terbit fajar hingga matahari terbenam.

Namun sebenarnya puasa adalah latihan yang sangat besar bagi jiwa.

Rasulullah ﷺ bersabda:
«تُعْرَضُ الأَعْمَالُ يَوْمَ الاِثْنَيْنِ وَالْخَمِيسِ، فَأُحِبُّ أَنْ يُعْرَضَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ»
«“Amal-amal diperlihatkan pada hari Senin dan Kamis. Maka aku suka jika amalku diperlihatkan ketika aku sedang berpuasa.”»

Hadis ini diriwayatkan oleh At-Tirmidzi.
Dalam riwayat Abu Dawud juga disebutkan bahwa Usamah bin Zaid رضي الله عنه berpuasa pada hari Senin dan Kamis karena Rasulullah ﷺ biasa berpuasa pada kedua hari tersebut.

Perhatikan keindahan sunnah ini.
Tidak ada yang perlu diketahui manusia.
Bahkan seseorang dapat berpuasa Senin Kamis tanpa seorang pun mengetahuinya.

Ia hanya lapar dan haus karena Allah.
Inilah salah satu sisi keindahan ibadah yang tersembunyi.

4. Membaca Al-Qur’an: Amalan yang Tidak Pernah Basi
Di antara amalan yang paling sederhana adalah membaca Al-Qur’an.

Kita hanya membuka mushaf.
Kemudian membaca beberapa ayat.
Namun setiap huruf yang dibaca memiliki nilai pahala.

Rasulullah ﷺ bersabda:
«مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ، وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا»
«“Barang siapa membaca satu huruf dari Kitab Allah, maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh kebaikan.”»

Kemudian Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa Alif Lam Mim bukan satu huruf, tetapi Alif satu huruf, Lam satu huruf dan Mim satu huruf. Hadis ini diriwayatkan oleh At-Tirmidzi.

Maka jangan menunggu memiliki banyak waktu untuk membaca Al-Qur’an.

Sepuluh menit pun berarti.
Satu halaman pun berarti.
Beberapa ayat pun berarti.
Yang terpenting adalah jangan sampai hubungan kita dengan Al-Qur’an terputus.

Amalan Sunnah Itu Sederhana, Tetapi Tidak Ringan
Ada alasan mengapa amalan-amalan sederhana tersebut terasa berat.

Karena masalahnya bukan selalu pada gerakannya.
Masalahnya adalah istiqamah.
Bangun malam sekali mungkin mudah.
Yang sulit adalah terus bangun ketika tidak ada yang melihat.
Shalat Dhuha satu kali mungkin mudah.
Yang sulit adalah menjadikannya kebiasaan.
Puasa Senin Kamis sekali mungkin mudah.

Yang sulit adalah tetap melakukannya ketika pekerjaan sedang banyak.

Membaca Al-Qur’an sehari mungkin mudah.
Yang sulit adalah terus membacanya setiap hari.
Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa amalan yang paling dicintai adalah amalan yang dilakukan secara terus-menerus walaupun sedikit.

Maka jangan meremehkan amalan kecil.
Bisa jadi amalan yang kita anggap kecil itulah yang menjadi sebab datangnya rahmat Allah.

Jangan Tertipu dengan Amalan yang Terlihat Hebat
Kita perlu berhati-hati agar tidak menjadikan sesuatu yang luar biasa sebagai ukuran kebenaran sebuah amalan.

Amalan yang benar tidak harus terdengar spektakuler.
Tidak harus memiliki kisah kesaktian.
Tidak harus membuat seseorang terlihat berbeda dari manusia lainnya.
Tidak harus menghasilkan kemampuan supranatural.
Dan tidak harus menjadi bahan kebanggaan di hadapan manusia.

Sunnah Rasulullah ﷺ justru banyak mengajarkan ibadah yang sangat sederhana:

shalat, puasa, membaca Al-Qur’an, berdzikir, bersedekah, berdoa, berbuat baik kepada manusia dan menjaga hati.

Karena tujuan ibadah bukan untuk membuat manusia kagum.
Tujuan ibadah adalah mendekatkan diri kepada Allah.

Lebih Baik Istiqamah dengan Sunnah yang Jelas
Jika seseorang ingin memperbaiki kehidupannya, tidak harus mencari amalan yang aneh-aneh.

Mulailah dari sesuatu yang jelas.
Bangun malam.
Kerjakan shalat Tahajud atau qiyamullail.
Ketika pagi tiba, kerjakan shalat Dhuha.
Jika mampu, biasakan puasa Senin Kamis.
Luangkan waktu untuk membaca Al-Qur’an.

Kemudian perbaiki shalat wajib.
Perbaiki akhlak.
Perbanyak istighfar.
Jaga lisan.
Jauhi maksiat.
Dan terus berusaha istiqamah.

Inilah jalan yang mungkin terlihat sederhana, tetapi membutuhkan kesungguhan.

Bukan Tentang Terlihat Hebat, Tetapi Tentang Diterima Allah

Pada akhirnya, yang perlu kita cari bukanlah pengakuan manusia.
Bukan pula gelar sebagai orang yang memiliki amalan tertentu.
Bukan kemampuan untuk membuat manusia kagum.
Yang perlu kita cari adalah ridha Allah سبحانه وتعالى.

Sebab bisa saja seseorang memiliki banyak cerita tentang keistimewaan dirinya, tetapi hatinya jauh dari Allah.

Sebaliknya, bisa jadi ada seorang hamba yang tidak dikenal manusia, tidak memiliki kemampuan luar biasa, tidak memiliki pengikut banyak, tetapi setiap malam ia bangun untuk menghadap Rabb-nya.

Pagi hari ia shalat Dhuha.
Senin dan Kamis ia berpuasa.
Setiap hari ia membaca Al-Qur’an.
Ia tidak banyak bicara tentang amalnya.
Tetapi ia terus berusaha istiqamah.
Itulah kehidupan yang patut kita renungkan.

Amalan sunnah tidak selalu terlihat hebat di mata manusia.
Tetapi nilai sebuah ibadah bukan ditentukan oleh seberapa hebat ia terlihat.

Nilainya ada pada keikhlasan, kesesuaian dengan tuntunan Rasulullah ﷺ, dan kesungguhan seorang hamba dalam menjalaninya.

Penutup
Qiyamullail.
Shalat Dhuha.
Puasa Senin Kamis.
Membaca Al-Qur’an.
Sederhana, tetapi tidak ringan.
Tidak membutuhkan ritual yang rumit.
Tidak membutuhkan pengakuan manusia.
Tidak membutuhkan cerita kesaktian.

Cukup seorang hamba yang ingin dekat dengan Allah.
Maka jangan remehkan amalan sunnah yang sederhana.
Bisa jadi, amalan yang hari ini kita anggap kecil akan menjadi amal yang sangat berarti ketika kita berdiri di hadapan Allah سبحانه وتعالى.

Mari mulai dari yang sederhana.
Tidak perlu menunggu menjadi orang baik untuk beramal.
Beramallah, lalu mintalah kepada Allah agar kita dimudahkan untuk menjadi lebih baik.

Sedikit tetapi istiqamah.
Sederhana tetapi sesuai sunnah.
Tidak terkenal di bumi, tetapi semoga dikenal di langit.

Wallāhu a‘lam.

Komentar