Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2026

Jumlah Ayat Al-Qur’an 6666 atau 6236? Ini Penjelasan Ulama

ULUMUL QUR'AN

Jumlah Ayat Al-Qur’an 6666 atau 6236? Ini Penjelasan Ulama

Mengapa jumlah ayat Al-Qur’an disebut berbeda? Simak penjelasan ilmu bilangan ayat, perbedaan sistem penghitungan ulama, dan asal populer angka 6666.

Pernah mendengar bahwa jumlah ayat Al-Qur’an adalah 6666 ayat? Angka ini sangat populer di Indonesia. Namun, dalam kajian Ulumul Qur’an, dikenal sejumlah sistem penghitungan ayat yang menghasilkan jumlah berbeda, salah satunya 6236 ayat menurut hitungan Kufah.

Lantas, apakah jumlah ayat Al-Qur’an sebenarnya 6666 atau 6236? Untuk memahaminya, kita perlu mengenal ilmu ‘Adadul Ayat, yaitu kajian tentang bilangan dan penentuan akhir ayat Al-Qur’an.

1. Berapa Jumlah Ayat Al-Qur’an?

Al-Qur’an terdiri atas 114 surah, dari Surah Al-Fatihah hingga Surah An-Nas. Salah satu jumlah ayat yang paling dikenal adalah 6236 ayat berdasarkan sistem penghitungan Kufah, yang digunakan dalam banyak mushaf saat ini.

Dalam literatur klasik, dikenal pula sistem penghitungan Madinah, Makkah, Basrah, dan Syam. Perbedaan angka tersebut tidak berarti isi Al-Qur’an berbeda, melainkan berkaitan dengan penentuan batas akhir ayat.

Catatan penting: perbedaan jumlah ayat perlu dipahami berdasarkan sistem penghitungan yang digunakan. Jangan menyimpulkan bahwa perbedaan angka berarti ada ayat Al-Qur’an yang hilang atau ditambahkan.

2. Mengapa Jumlah Ayat Al-Qur’an Bisa Berbeda?

A. Perbedaan penentuan akhir ayat

Dalam ilmu bilangan ayat, terdapat perbedaan penetapan tempat berakhirnya suatu ayat. Perbedaan di sejumlah tempat tersebut dapat menghasilkan jumlah keseluruhan yang berbeda.

B. Huruf muqaththa’ah

Beberapa surah diawali huruf muqaththa’ah, seperti الم (Alif Lam Mim), حم (Ha Mim), dan كهيعص (Kaf Ha Ya ‘Ain Shad). Penentuan batas ayat pada pembuka surah tersebut termasuk pembahasan dalam ilmu bilangan ayat. Rinciannya tidak tepat disederhanakan dengan menyatakan bahwa semua sistem selalu menghitungnya dengan cara yang sama.

C. Basmalah

Basmalah, yaitu بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ, berkaitan dengan pembahasan penomoran ayat, khususnya dalam Surah Al-Fatihah. Akan tetapi, persoalan basmalah memiliki rincian tersendiri dalam ilmu Al-Qur’an dan qiraat.

D. Penetapan batas ayat pada tempat tertentu

Perbedaan juga berkaitan dengan penentuan akhir ayat di sejumlah bagian surah. Karena itu, penjelasan yang akurat perlu merujuk kepada kitab khusus tentang ‘Adadul Ayat.

3. Apakah Jumlah Ayat Al-Qur’an Benar 6666?

Angka 6666 populer dalam tradisi pembelajaran Islam di Indonesia. Salah satu penjelasan yang sering dikutip menghubungkannya dengan pengelompokan ayat berdasarkan kandungan atau tema.

KategoriJumlah yang dikutip
Perintah1000
Larangan1000
Janji1000
Ancaman1000
Kisah dan berita1000
Ibrah dan perumpamaan1000
Penjelasan halal dan haram500
Nasikh dan mansukh100
Doa, istigfar, dan zikir66
Total6666

Penjumlahan tersebut menghasilkan 6666. Namun, pembagian ini merupakan pengelompokan berdasarkan tema yang dikutip dalam literatur, bukan daftar penomoran setiap ayat dalam mushaf. Karena itu, angka tersebut perlu dibedakan dari jumlah ayat menurut sistem penghitungan klasik.

4. Penjelasan dalam Kitab Nihayatuz Zain

Pembagian tematik tersebut sering dinisbatkan kepada kitab Nihayatuz Zain karya Syekh Nawawi Al-Jawi. Berikut kutipan Arab yang kerap dicantumkan:

فَائِدَةٌ: عَدَدُ آيَاتِ الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ سِتَّةُ آلَافٍ وَسِتُّمِائَةٍ وَسِتٌّ وَسِتُّونَ آيَةً، أَلْفٌ مِنْهَا أَمْرٌ، وَأَلْفُ نَهْيٌ، وَأَلْفُ وَعْدٌ، وَأَلْفُ وَعِيدٍ، وَأَلْفُ قَصَصٍ وَأَخْبَارٍ، وَأَلْفُ عِبَرٍ وَأَمْثَالٍ، وَخَمْسُمِائَةٍ لِتَبْيِينِ الْحَلَالِ وَالْحَرَامِ، وَمِائَةٌ لِتَبْيِينِ النَّاسِخِ وَالْمَنْسُوخِ، وَسِتَّةٌ وَسِتُّونَ دُعَاءً وَاسْتِغْفَارًا وَأَذْكَارًا.

Secara ringkas, kutipan tersebut menjelaskan pembagian berdasarkan kandungan ayat, seperti perintah, larangan, janji, ancaman, kisah, perumpamaan, hukum, doa, dan zikir.

Catatan sumber: kutipan ini sering dicantumkan dengan rujukan Nihayatuz Zain, halaman 34. Untuk penulisan ilmiah, periksa langsung edisi kitab yang digunakan agar redaksi, konteks, dan nomor halaman dapat dipastikan.

5. Kitab Rujukan tentang Bilangan Ayat Al-Qur’an

Untuk mempelajari masalah ini secara lebih mendalam, pembaca dapat menelusuri beberapa kitab berikut:

  • Al-Bayan fi ‘Addi Ayi Al-Qur’an, karya Abu Amr Ad-Dani.
  • Al-Itqan fi ‘Ulum Al-Qur’an, karya Jalaluddin As-Suyuthi.
  • Nihayatuz Zain, karya Syekh Nawawi Al-Jawi, yang sering dikutip dalam pembahasan angka 6666.

6. Kesimpulan: Al-Qur’an Tetap 114 Surah

Al-Qur’an terdiri atas 114 surah. Angka 6236 merupakan jumlah ayat menurut sistem penghitungan Kufah yang digunakan dalam banyak mushaf. Sistem penghitungan lainnya dikenal dalam literatur klasik karena perbedaan penentuan batas ayat di sejumlah tempat.

Adapun angka 6666 populer dalam tradisi pembelajaran Islam dan sering dijelaskan melalui pembagian ayat berdasarkan tema kandungannya. Angka tersebut tidak seharusnya langsung disamakan dengan jumlah ayat menurut sistem penomoran mushaf.

Kesimpulan utama: untuk memahami perbedaan jumlah ayat Al-Qur’an, perhatikan sumber dan sistem penghitungan yang digunakan. Ilmu ‘Adadul Ayat membantu membedakan penomoran ayat dalam mushaf dari pengelompokan ayat berdasarkan tema.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Berapa jumlah ayat Al-Qur’an menurut hitungan Kufah?

Jumlahnya 6236 ayat, berdasarkan sistem penghitungan Kufah yang digunakan dalam banyak mushaf.

Apakah jumlah ayat Al-Qur’an 6666?

Angka 6666 populer dalam tradisi pembelajaran Islam dan dikaitkan dengan pembagian ayat berdasarkan tema. Angka ini perlu dibedakan dari penomoran ayat dalam mushaf.

Mengapa jumlah ayat Al-Qur’an berbeda?

Perbedaan berkaitan dengan sistem penghitungan dan penentuan batas akhir ayat yang dibahas dalam ilmu ‘Adadul Ayat.

Apakah perbedaan jumlah ayat berarti isi Al-Qur’an berbeda?

Tidak. Perbedaan angka dalam sistem penghitungan ayat bukan berarti isi Al-Qur’an berbeda.


Label: Al-Qur'an, Ulumul Qur'an, Pendidikan Islam, Ilmu Al-Qur'an

Kuis Bahasa Arab Kelas 10 MA Tema Al-Madrasah: Latihan Tebak Mufrodat Interaktif

✦ MEDIA PEMBELAJARAN INTERAKTIF ✦

Kuis Bahasa Arab Kelas X MA

الْمَدْرَسَةُ (Al-Madrasah)

Latihan tebak mufrodat tema Al-Madrasah untuk membantu siswa mengenal dan mengingat kosakata Bahasa Arab tentang sekolah dengan cara yang menyenangkan.

🎓 Kelas X / 10 MA 📝 40 Soal ✓ Pilihan Ganda 💡 Interaktif

Belajar Mufrodat Bahasa Arab: Al-Madrasah

Selamat datang di latihan kosakata Bahasa Arab untuk siswa kelas X Madrasah Aliyah (MA). Pada materi ini, siswa berlatih mengenali mufrodat atau kosakata yang berkaitan dengan الْمَدْرَسَةُ, yang berarti sekolah.

Kuis ini dapat dimanfaatkan sebagai latihan mandiri, penguatan materi di kelas, maupun evaluasi ringan setelah mempelajari kosakata tentang lingkungan sekolah dalam Bahasa Arab.

🎯 Tujuan Pembelajaran

Melatih kemampuan siswa dalam mengenali arti kosakata Bahasa Arab tema Al-Madrasah melalui soal pilihan ganda dan umpan balik jawaban.

Petunjuk Mengerjakan Kuis

  1. Baca pertanyaan dengan teliti.
  2. Pilih satu jawaban yang paling tepat.
  3. Perhatikan umpan balik setelah menjawab.
  4. Lanjutkan hingga seluruh soal selesai.
  5. Periksa hasil akhir dan ulangi latihan bila diperlukan.
💡 Tips belajar:

Cobalah menjawab secara mandiri terlebih dahulu. Catat kosakata yang belum dikuasai, kemudian pelajari kembali artinya setelah menyelesaikan kuis.

Mulai Kuis Tebak Mufrodat Al-Madrasah

Kerjakan soal secara berurutan dan pilih jawaban terbaik. Pastikan perangkat terhubung ke internet agar aplikasi dapat dimuat.

Jika kuis tidak muncul di dalam halaman ini, gunakan tombol di bawah untuk membuka aplikasi secara langsung di tab baru.

Manfaat Latihan Mufrodat Bahasa Arab

📘 Menambah Kosakata

Membantu siswa mengenali dan mengingat kosakata Bahasa Arab yang berkaitan dengan lingkungan sekolah.

🧠 Melatih Ingatan

Latihan berulang membantu siswa mengingat arti kosakata dan membedakan pilihan jawaban.

💻 Belajar Fleksibel

Dapat digunakan melalui komputer, laptop, tablet, atau HP selama akses internet tersedia.

👩‍🏫 Media Pembelajaran

Dapat dimanfaatkan guru sebagai variasi latihan di kelas atau kegiatan belajar mandiri.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apa itu kuis mufrodat Al-Madrasah?

Kuis mufrodat Al-Madrasah adalah latihan kosakata Bahasa Arab bertema sekolah. Siswa menjawab pertanyaan pilihan ganda untuk melatih penguasaan arti kata.

Kuis Bahasa Arab ini ditujukan untuk kelas berapa?

Kuis ini disiapkan untuk latihan Bahasa Arab kelas X atau kelas 10 Madrasah Aliyah (MA), khususnya materi kosakata tema Al-Madrasah.

Apakah kuis dapat dikerjakan melalui HP?

Kuis dapat dicoba melalui HP, tablet, dan komputer. Tampilan serta kelancaran akses bergantung pada browser, koneksi internet, dan dukungan perangkat.

Bagaimana jika soal tidak muncul?

Periksa koneksi internet, lalu gunakan tombol Buka Kuis di Tab Baru. Jika masih bermasalah, periksa status deployment Apps Script dan izin akses Web App.

Apakah kuis ini dapat digunakan untuk belajar mandiri?

Ya. Siswa dapat mengerjakan soal secara mandiri untuk berlatih mengenali kosakata, memeriksa umpan balik, dan meninjau kembali materi yang belum dikuasai.

Materi Terkait

Latihan ini berkaitan dengan pembelajaran Bahasa Arab, penguasaan mufrodat, kosakata sekolah, dan media pembelajaran interaktif untuk Madrasah Aliyah.

Kuis Bahasa Arab Bahasa Arab Kelas 10 Mufrodat Al-Madrasah Kosakata Bahasa Arab Media Pembelajaran MA
Selamat Belajar dan Semoga Sukses!

Terus berlatih dan tingkatkan penguasaan kosakata Bahasa Arab tema الْمَدْرَسَةُ (Al-Madrasah).

Jangan Sampai Dunia Membuat Kita Lupa kepada Allah

Ilustrasi artikel: Jangan Sampai Dunia Membuat Kita Lupa kepada Allah
RENUNGAN ISLAMI

Jangan Sampai Dunia Membuat Kita Lupa kepada Allah

Ada sebuah nasihat sederhana yang layak kita renungkan di tengah kesibukan hidup:

Jangan biarkan dunia membuatmu melupakan Allah. Bekerjalah, menikahlah, bangunlah rumahmu, carilah rezeki, dan raihlah impianmu. Namun, jangan biarkan semua itu membawamu semakin jauh dari Tuhanmu.

Sebab, sebanyak apa pun yang kita miliki di dunia, kita akan tetap membutuhkan Allah dalam setiap saat. Jadikanlah dunia berada di tanganmu, tetapi jangan biarkan dunia menetap di dalam hatimu.

Nasihat ini terdengar sederhana, tetapi jika direnungkan lebih dalam, ada pelajaran besar tentang bagaimana seharusnya kita menjalani kehidupan.

Kita hidup di dunia dengan berbagai kebutuhan dan keinginan. Kita ingin memiliki pekerjaan yang baik, keluarga yang bahagia, rumah yang nyaman, penghasilan yang cukup, serta masa depan yang lebih terjamin. Semua itu wajar. Bahkan, bekerja keras dan berusaha memperbaiki kehidupan merupakan bagian dari ikhtiar yang patut dilakukan.

Namun, ada satu hal yang terkadang luput dari perhatian: jangan sampai kesibukan mengejar kehidupan membuat kita lupa kepada Dzat yang memberikan kehidupan.

1Bekerja Keraslah, tetapi Jangan Lupakan Allah

Tidak ada yang salah dengan bekerja keras. Kita membutuhkan rezeki untuk memenuhi kebutuhan hidup, menafkahi keluarga, menyekolahkan anak, dan membantu orang lain.

Islam tidak mengajarkan umatnya untuk meninggalkan urusan dunia begitu saja. Kita justru diperintahkan untuk berusaha, mencari karunia Allah, dan menjalani kehidupan dengan penuh tanggung jawab.

Allah berfirman dalam Al-Qur'an:

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا
Artinya: "Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (pahala) negeri akhirat, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia." (QS. Al-Qasas: 77).

Ayat ini mengajarkan keseimbangan yang sangat penting. Kita diperintahkan untuk menjadikan akhirat sebagai tujuan utama, tanpa mengabaikan kebutuhan hidup di dunia.

Kita boleh bekerja dari pagi hingga sore. Kita boleh membangun usaha, mengembangkan keterampilan, dan berusaha meningkatkan penghasilan. Akan tetapi, jangan sampai pekerjaan membuat kita sengaja meninggalkan salat, melupakan zikir, atau menghalalkan segala cara demi mendapatkan keuntungan.

Apa artinya penghasilan yang besar jika kita kehilangan ketenangan hati? Apa gunanya keberhasilan yang dibanggakan banyak orang jika hubungan kita dengan Allah justru semakin jauh?

Carilah rezeki dengan sungguh-sungguh, tetapi tetaplah berada di jalan yang diridai-Nya.

2Raihlah Impian, tetapi Jangan Kehilangan Arah

Setiap orang memiliki impian. Ada yang ingin menjadi pengusaha sukses, membangun rumah sendiri, melanjutkan pendidikan, memiliki keluarga yang harmonis, atau memberikan kehidupan yang lebih baik kepada orang tuanya.

Impian seperti itu bukan sesuatu yang harus dihindari. Kita boleh merencanakan masa depan dan berusaha mewujudkannya dengan kemampuan terbaik yang kita miliki.

Namun, dalam perjalanan meraih impian, kita perlu sesekali berhenti dan bertanya kepada diri sendiri: apakah semua yang sedang saya perjuangkan ini membuat saya semakin dekat kepada Allah, atau justru membuat saya semakin lalai?

Pertanyaan ini penting karena kesibukan terkadang datang tanpa terasa. Awalnya kita bekerja untuk memenuhi kebutuhan. Setelah penghasilan meningkat, kita ingin memiliki lebih banyak. Setelah satu keinginan tercapai, muncul keinginan berikutnya.

Begitu seterusnya, hingga waktu terasa habis hanya untuk mengejar sesuatu yang belum kita miliki.

Kita lupa menikmati nikmat yang sudah ada. Kita menunda ibadah karena pekerjaan. Kita jarang membaca Al-Qur'an karena terlalu sibuk. Bahkan, kita merasa tidak memiliki waktu untuk berdoa, padahal setiap hari kita berharap Allah memudahkan urusan kita.

Jangan sampai kita begitu sibuk membangun masa depan, tetapi lupa mempersiapkan kehidupan setelah kematian.

Miliki impian yang tinggi, tetapi jangan kehilangan arah. Keberhasilan yang sesungguhnya bukan hanya tentang seberapa jauh kita melangkah di dunia, melainkan juga tentang bagaimana kita menjaga iman sepanjang perjalanan.

3Jangan Menunggu Susah untuk Mengingat Allah

Ketika sedang menghadapi masalah, banyak orang dengan mudah berdoa. Saat usaha mengalami kerugian, kesehatan terganggu, keluarga ditimpa kesulitan, atau berbagai rencana tidak berjalan sesuai harapan, kita segera memohon pertolongan kepada Allah.

Namun, bagaimana ketika hidup sedang baik-baik saja?

Ketika penghasilan lancar, keluarga sehat, pekerjaan stabil, dan segala sesuatu berjalan sesuai keinginan, apakah kita masih mengingat Allah dengan sungguh-sungguh?

Di sinilah kita perlu mengoreksi diri.

Allah bukan hanya tempat kita mengadu ketika kesulitan datang. Dia juga harus kita ingat ketika kebahagiaan menghampiri. Nikmat yang kita rasakan hari ini bukan semata-mata hasil kemampuan kita, melainkan juga karunia dan pertolongan-Nya.

Allah berfirman:

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ
Artinya: "Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku." (QS. Al-Baqarah: 152).

Mengingat Allah tidak harus menunggu kita memiliki banyak waktu luang. Kita bisa menjaga zikir setelah salat, membaca Al-Qur'an setiap hari meskipun beberapa ayat, berdoa sebelum memulai pekerjaan, dan membiasakan diri mengucapkan syukur atas nikmat yang diterima.

Jangan biarkan hati hanya mengenal Allah ketika membutuhkan pertolongan. Kenalilah Dia juga ketika kita sedang bahagia, sehat, lapang, dan berkecukupan.

4Dunia Boleh di Tangan, tetapi Jangan Menguasai Hati

Ungkapan "jadikan dunia di tanganmu, bukan di hatimu" mengandung pelajaran yang mendalam.

Maksudnya bukan kita tidak boleh memiliki harta atau menikmati kehidupan. Kita boleh memiliki rumah yang bagus, kendaraan, tabungan, usaha, dan berbagai fasilitas yang membantu kehidupan.

Yang perlu dijaga adalah bagaimana hati kita memandang semua itu.

Jika harta berada di tangan, kita bisa menggunakannya untuk memenuhi kebutuhan, menafkahi keluarga, membantu orang miskin, membangun tempat ibadah, dan mendukung kegiatan yang bermanfaat.

Namun, jika harta telah menguasai hati, kita bisa menjadi orang yang tidak pernah merasa cukup. Kita terus membandingkan diri dengan orang lain, takut kehilangan kekayaan, sulit bersedekah, dan mengukur harga diri berdasarkan apa yang dimiliki.

Padahal, kekayaan tidak selalu membuat seseorang merasa cukup. Ada orang yang hartanya sederhana tetapi hidupnya penuh rasa syukur. Ada pula orang yang memiliki banyak hal, tetapi pikirannya tidak pernah tenang karena terus menginginkan lebih.

Karena itu, yang perlu kita bangun bukan hanya kekuatan ekonomi, tetapi juga kekayaan hati.

Rasulullah ﷺ bersabda:

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ
Artinya: "Kekayaan itu bukanlah karena banyaknya harta benda, tetapi kekayaan yang sebenarnya adalah kekayaan jiwa." (HR. Bukhari dan Muslim).

Harta memang penting, tetapi harta bukan ukuran tunggal kebahagiaan. Hati yang bersyukur, jiwa yang tenang, dan kehidupan yang dipenuhi ketaatan kepada Allah adalah nikmat yang tidak bisa dibeli dengan uang.

5Jangan Sampai Kesibukan Membuat Kita Melupakan Akhirat

Coba perhatikan bagaimana kita menjalani hari-hari kita.

Kita bisa meluangkan waktu berjam-jam untuk bekerja, berdagang, bermain media sosial, menonton hiburan, atau merencanakan masa depan. Akan tetapi, terkadang kita merasa berat untuk meluangkan beberapa menit membaca Al-Qur'an atau memperbaiki kualitas salat.

Kita takut tertinggal informasi tentang dunia, tetapi jarang memikirkan apakah amalan kita hari ini sudah lebih baik daripada kemarin.

Kita begitu memperhatikan apa yang akan kita makan besok, tetapi sering lupa memikirkan bekal untuk kehidupan akhirat.

Bukan berarti kita harus meninggalkan seluruh kesibukan dunia. Justru, kita perlu menata kembali prioritas agar urusan dunia tidak mengambil tempat yang seharusnya menjadi hak Allah.

Jangan menunggu pensiun untuk mulai rajin beribadah. Jangan menunggu tua untuk memperbaiki salat. Jangan menunggu sakit untuk menyadari betapa berharganya kesehatan dan kesempatan hidup.

Kematian tidak menunggu semua rencana kita selesai. Karena itu, selama masih diberi waktu, gunakanlah kehidupan ini untuk memperbaiki diri dan memperbanyak amal saleh.

Allah mengingatkan kita:

وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ
Artinya: "Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang melupakan Allah, sehingga Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri." (QS. Al-Hasyr: 19).

Ayat ini menjadi peringatan agar kita tidak larut dalam kelalaian hingga kehilangan kesadaran tentang tujuan hidup dan tanggung jawab kita di hadapan Allah.

6Bagaimana Menjaga Hati agar Tetap Dekat kepada Allah?

Menjaga hubungan dengan Allah bukan berarti kita harus berhenti dari semua kegiatan duniawi. Kita hanya perlu membangun kebiasaan yang membantu kita tetap mengingat-Nya di tengah kesibukan.

Ada beberapa langkah sederhana yang bisa mulai dilakukan.

Pertama, jangan menunda salat tanpa alasan yang dibenarkan. Sesibuk apa pun pekerjaan kita, jadikan salat sebagai prioritas. Pekerjaan dapat dilanjutkan, tetapi waktu ibadah tidak seharusnya diperlakukan sebagai sesuatu yang tidak penting.

Kedua, biasakan berzikir dan bersyukur. Luangkan waktu untuk mengingat Allah pada pagi dan petang, setelah salat, serta ketika memulai dan menyelesaikan pekerjaan.

Ketiga, cari rezeki dengan cara yang halal. Jangan mengorbankan kejujuran dan prinsip agama hanya demi keuntungan. Rezeki yang baik bukan sekadar jumlahnya, tetapi juga cara memperolehnya.

Keempat, sisihkan sebagian rezeki untuk membantu sesama. Sedekah mengajarkan kita bahwa harta bukan hanya untuk memenuhi keinginan pribadi. Di dalamnya ada kesempatan untuk meringankan beban orang lain dan menumbuhkan rasa syukur.

Kelima, sediakan waktu untuk keluarga dan ibadah. Jangan sampai orang-orang yang kita cintai hanya mendapatkan sisa waktu setelah seluruh tenaga kita habis untuk pekerjaan.

Keenam, evaluasi diri sebelum tidur. Tanyakan kepada diri sendiri: apa kebaikan yang sudah saya lakukan hari ini? Apakah ada kewajiban yang saya lalaikan? Apa yang perlu saya perbaiki esok hari?

Langkah-langkah tersebut mungkin terlihat kecil. Namun, jika dilakukan secara konsisten, semuanya dapat membantu kita menjalani kehidupan yang lebih seimbang, dengan dunia yang tetap diurus dan akhirat yang tidak dilupakan.

✓Penutup: Jangan Kehilangan Allah Saat Mengejar Dunia

Pada akhirnya, kita semua sedang menjalani perjalanan yang sama. Kita bekerja, membangun keluarga, mencari rezeki, mengejar cita-cita, dan berusaha memberikan kehidupan yang lebih baik bagi orang-orang yang kita cintai.

Semua itu boleh dilakukan. Bahkan, semua itu bisa menjadi jalan kebaikan apabila diniatkan dengan benar dan dijalankan sesuai tuntunan agama.

Namun, jangan sampai kita berhasil mengumpulkan banyak hal di dunia, tetapi kehilangan hal yang paling berharga: iman, ketenangan hati, dan kedekatan dengan Allah.

Ingatlah, sebanyak apa pun harta yang kita miliki, kita tetap membutuhkan pertolongan-Nya. Setinggi apa pun jabatan yang kita raih, kita tetap seorang hamba. Sebesar apa pun keberhasilan yang kita banggakan, semuanya tidak menjadikan kita terbebas dari ketergantungan kepada Allah.

Karena itu, teruslah bekerja. Bangunlah rumah tangga yang baik. Kejarlah impianmu. Berusahalah menjadi pribadi yang lebih bermanfaat bagi keluarga dan masyarakat.

Tetapi, jangan tinggalkan salatmu. Jangan lupakan zikir dan doa. Jangan biarkan kesibukan menghapus rasa syukur. Dan jangan sampai perjalanan panjang mengejar dunia membuatmu lupa kepada Tuhan yang telah memberikan kehidupan.

Jadikan dunia sebagai jalan untuk berbuat kebaikan, bukan alasan untuk melupakan Allah. Genggam dunia secukupnya, syukuri apa yang ada, dan persiapkan bekal untuk kehidupan akhirat.

Sebab, pada akhirnya, bukan banyaknya yang kita miliki yang paling menentukan nilai kehidupan kita, melainkan bagaimana kita menggunakan semua yang Allah titipkan untuk menjalani kehidupan yang diridai-Nya.

Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang pandai mencari rezeki tanpa melupakan ibadah, mampu menikmati nikmat dunia tanpa menjadi budaknya, dan senantiasa menjaga hati agar tetap dekat kepada-Nya. Aamiin.

Khutbah Jumat : Cara Menjaga Iman di Akhir Zaman

Ilustrasi khutbah Jumat
Khutbah Jumat

Menjaga Iman di Tengah Ujian Zaman

Menjaga salat, menata kehidupan dunia, dan memperbanyak zikir sebagai bekal menuju akhirat.

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي أَنْعَمَ عَلَيْنَا بِنِعْمَةِ الْإِيْمَانِ، وَهَدَانَا إِلَى صِرَاطِهِ الْمُسْتَقِيْمِ، وَأَمَرَنَا بِالطَّاعَةِ وَالِاسْتِقَامَةِ، وَنَهَانَا عَنِ الْغَفْلَةِ وَالْمَعْصِيَةِ.
الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي خَلَقَنَا وَرَزَقَنَا، وَهَدَانَا وَعَلَّمَنَا، وَبِفَضْلِهِ وَرَحْمَتِهِ أَحْيَانَا.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ وَلَا رَسُوْلَ.
اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ، وَخَابَ الْغَافِلُوْنَ، وَنَدِمَ الْمُفَرِّطُوْنَ.

Jamaah Jumat rahimakumullah,
Marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan sebenar-benar takwa, menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Marilah kita menjaga iman sebelum datang kematian, memperbanyak amal sebelum datang penyesalan, dan mempersiapkan bekal sebelum tiba perjalanan menuju kehidupan yang kekal dan abadi.

Jamaah yang dimuliakan Allah,
Kita hidup pada zaman yang penuh dengan ujian. Kehidupan semakin modern, teknologi semakin canggih, kebutuhan semakin banyak, dan persaingan dunia semakin keras. Banyak orang sibuk mengejar harta, mengejar jabatan, mengejar kedudukan, dan mengejar kehormatan.

Namun, di tengah kesibukan itu, ada satu hal yang terkadang kita lupakan: bagaimana keadaan iman kita di hadapan Allah SWT?

Kita begitu khawatir ketika penghasilan berkurang, tetapi terkadang tidak khawatir ketika salat mulai ditinggalkan. Kita begitu takut ketika kehilangan harta, tetapi tidak selalu takut ketika kehilangan kedekatan dengan Allah. Kita sibuk memikirkan masa depan anak-anak kita di dunia, tetapi terkadang lupa memikirkan keselamatan mereka di akhirat.

Padahal, apa artinya harta yang melimpah jika hati jauh dari Allah? Apa artinya rumah yang megah jika penghuninya melupakan salat? Dan apa artinya panjang umur jika umur tersebut tidak digunakan untuk memperbanyak amal saleh?

Allah SWT mengingatkan kita dalam Surah Al-Hasyr ayat 18:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللّٰهَ إِنَّ اللّٰهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”

Ayat ini mengajarkan kepada kita bahwa kehidupan seorang mukmin bukan hanya tentang hari ini, bukan hanya tentang kebutuhan keluarga, dan bukan hanya tentang masa depan di dunia. Kita juga harus memikirkan hari esok yang sesungguhnya, yaitu hari ketika kita berdiri di hadapan Allah SWT untuk mempertanggungjawabkan seluruh perbuatan kita.

Lalu, bagaimana cara menjaga iman di tengah berbagai ujian zaman ini?

Pertama: Jagalah salat, jangan sampai salat meninggalkan kita

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Salat adalah tiang agama dan salah satu amal yang sangat agung dalam Islam. Salat bukan sekadar kewajiban yang harus ditunaikan, melainkan hubungan antara seorang hamba dengan Rabb-nya.

Ketika kita menghadapi persoalan hidup, salat menjadi tempat kita memohon pertolongan. Ketika hati gelisah, salat menjadi jalan untuk kembali mengingat Allah. Ketika dunia membuat kita lelah, salat mengingatkan bahwa kita memiliki Tuhan yang Maha Mendengar dan Maha Menolong.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-'Ankabut ayat 45:
إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ
Artinya: “Sesungguhnya salat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.”

Namun, marilah kita bertanya kepada diri sendiri: sudahkah salat kita jaga dengan sungguh-sungguh? Sudahkah kita menunaikan salat lima waktu tepat pada waktunya? Sudahkah kita mengajak istri, suami, dan anak-anak kita untuk menjaga salat?

Jangan sampai kita begitu disiplin berangkat bekerja, tetapi lalai memenuhi panggilan Allah. Jangan sampai kita mampu meluangkan waktu untuk urusan dunia, tetapi merasa berat ketika harus berdiri menghadap-Nya.

Terlebih bagi kita yang telah memasuki usia dewasa dan lanjut usia, hendaknya semakin bertambah umur, semakin bertambah pula kesungguhan kita dalam beribadah. Kita tidak mengetahui berapa lama lagi kesempatan hidup yang Allah berikan.

Jangan menunggu tua untuk rajin ke masjid. Jangan menunggu sakit untuk memperbanyak ibadah. Jangan menunggu ajal mendekat untuk bertobat.

Selagi masih diberi napas, jagalah salat. Selagi masih diberi umur, perbaikilah ibadah. Selagi masih diberi kesempatan, dekatkanlah diri kepada Allah.

Kedua: Jangan hanya mengejar dunia, persiapkan bekal akhirat

Jamaah yang dimuliakan Allah,
Islam tidak melarang kita bekerja, mencari nafkah, membangun rumah, memiliki kendaraan, ataupun berusaha menjadi orang yang berkecukupan. Bahkan, mencari rezeki yang halal dan menunaikan tanggung jawab terhadap keluarga merupakan perkara yang mulia.

Akan tetapi, yang harus kita waspadai adalah ketika dunia memenuhi seluruh pikiran kita hingga akhirat terlupakan.

Kita bekerja dari pagi hingga malam. Kita mengumpulkan harta sedikit demi sedikit. Kita berjuang agar anak-anak mendapatkan pendidikan yang baik. Semua itu penting. Namun, jangan sampai kita berhasil membangun kehidupan dunia, tetapi lalai membangun kehidupan akhirat.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Munafiqun ayat 9:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللّٰهِ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah harta bendamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah.”

Perhatikanlah, jamaah sekalian. Allah tidak menyuruh kita meninggalkan keluarga dan harta. Allah memperingatkan agar harta dan keluarga tidak membuat kita lalai dari mengingat-Nya.

Bagi kita yang menjadi orang tua, tugas kita bukan hanya mewariskan rumah dan harta kepada anak-anak. Kita juga harus mewariskan iman, akhlak, kebiasaan salat, kecintaan kepada Al-Qur'an, dan keberanian untuk tetap berada di jalan yang benar.

Sebab, ketika kita meninggal dunia, harta yang kita kumpulkan akan ditinggalkan. Rumah yang kita bangun akan ditempati orang lain. Jabatan yang kita banggakan akan digantikan orang lain. Namun, amal saleh yang kita kerjakan dengan ikhlas, itulah yang kita harapkan menjadi bekal di hadapan Allah.

Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadis riwayat Muslim:
«يَتْبَعُ الْمَيِّتَ ثَلَاثَةٌ، فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى وَاحِدٌ، يَتْبَعُهُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ، فَيَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ، وَيَبْقَى عَمَلُهُ»
Artinya: “Ada tiga hal yang mengiringi jenazah: keluarga, harta, dan amalnya. Dua hal kembali, sedangkan satu tetap bersamanya. Keluarga dan hartanya kembali, sedangkan amalnya tetap bersamanya.” (HR. Muslim, no. 2960)

Karena itu, mari kita mencari dunia dengan cara yang halal, tetapi jangan sampai melupakan akhirat. Gunakan harta untuk menafkahi keluarga, membantu orang yang membutuhkan, bersedekah, dan mendukung kebaikan. Gunakan umur untuk beribadah. Gunakan ilmu untuk memberi manfaat.

Jangan hanya bertanya, “Berapa banyak harta yang sudah saya kumpulkan?”

Mulailah bertanya, “Sudah berapa banyak amal yang saya persiapkan untuk menghadap Allah?”

Ketiga: Perbanyak zikir agar hati tidak dikuasai kelalaian

Jamaah Jumat rahimakumullah,
Di antara cara menjaga iman adalah membiasakan diri berzikir kepada Allah SWT.

Kita hidup di tengah berbagai kesibukan. Pikiran kita dipenuhi urusan pekerjaan, kebutuhan rumah tangga, berita, media sosial, dan berbagai persoalan kehidupan. Jika tidak berhati-hati, hati kita akan semakin sibuk dengan dunia hingga lupa kepada Allah.

Karena itu, zikir harus menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, bukan hanya dilakukan ketika berada di masjid atau setelah salat.

Allah SWT berfirman dalam Surah Ar-Ra'd ayat 28:
أَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
Artinya: “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”

Ketika bangun tidur, ingatlah Allah. Ketika selesai salat, berzikirlah. Ketika bekerja, ucapkanlah kalimat yang baik. Ketika memperoleh rezeki, bersyukurlah. Ketika menghadapi kesulitan, beristigfarlah dan mohonlah pertolongan-Nya.

Basahilah lisan kita dengan ucapan subhanallah, alhamdulillah, la ilaha illallah, dan Allahu akbar. Perbanyak istigfar, selawat, serta doa kepada Allah.

Namun, ingatlah bahwa zikir bukan sekadar ucapan lisan. Zikir juga harus tercermin dalam perilaku. Orang yang mengingat Allah hendaknya menjaga lisannya dari dusta, menjaga tangannya dari kezaliman, menjaga pandangannya dari yang haram, serta menjaga hatinya dari kesombongan dan kedengkian.

Jangan sampai lisan kita berzikir, tetapi tangan kita menyakiti orang lain. Jangan sampai kita rajin membaca tasbih, tetapi masih gemar memfitnah dan membuka aib sesama. Jangan sampai kita mengaku mencintai Allah, tetapi sengaja melanggar perintah-Nya.

Marilah kita jadikan zikir sebagai pengingat agar kita selalu berhati-hati dalam menjalani kehidupan.

Rasulullah ﷺ juga mengingatkan dalam hadis riwayat Muslim:
«بَادِرُوا بِالْأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ»
Artinya: “Bersegeralah melakukan amal-amal saleh sebelum datang berbagai fitnah seperti potongan malam yang gelap gulita.” (HR. Muslim, no. 118)

Hadis ini mengingatkan kita agar tidak menunda-nunda amal saleh. Ketika masih sehat, beramallah. Ketika masih lapang, bersedekahlah. Ketika masih memiliki kesempatan, perbaikilah diri. Sebab, kita tidak mengetahui ujian apa yang akan datang dan kapan kesempatan itu berakhir.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Mari kita pulang dari masjid ini dengan membawa tiga tekad.

Pertama, kita akan menjaga salat lima waktu dan berusaha menunaikannya dengan sebaik-baiknya.

Kedua, kita akan bekerja dan mencari rezeki dengan sungguh-sungguh, tetapi tidak membiarkan dunia melalaikan kita dari akhirat.

Ketiga, kita akan membiasakan zikir, memperbanyak istigfar, dan menjaga hati agar selalu terhubung dengan Allah SWT.

Jangan menunggu dunia menjadi tenang untuk memperbaiki iman, sebab ujian akan selalu ada. Jangan menunggu semua urusan selesai untuk beribadah, sebab urusan dunia tidak pernah benar-benar selesai.

Perbaikilah hubungan kita dengan Allah mulai hari ini. Perbaikilah salat kita mulai sekarang. Ajaklah keluarga kita mendekat kepada-Nya. Semoga ketika ajal datang, kita tidak sedang jauh dari Allah, tetapi berada dalam keadaan beriman, bertobat, dan berharap akan rahmat-Nya.

بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.



KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ، كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ، اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِيْنَ رَحِمَكُمُ اللّٰهُ،

اِعْلَمُوا أَنَّ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا دَارُ فَنَاءٍ، وَأَنَّ الْآخِرَةَ دَارُ بَقَاءٍ، فَتَزَوَّدُوا مِنْ أَعْمَارِكُمْ لِآخِرَتِكُمْ، وَمِنْ صِحَّتِكُمْ لِمَرَضِكُمْ، وَمِنْ حَيَاتِكُمْ لِمَوْتِكُمْ.
حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ، وَأَكْثِرُوا مِنْ ذِكْرِ اللّٰهِ، وَاسْتَغْفِرُوهُ وَتُوْبُوا إِلَيْهِ، وَلَا تَجْعَلُوا الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّكُمْ، وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِكُمْ، بَلِ اجْعَلُوا طَاعَةَ اللّٰهِ وَرِضْوَانَهُ غَايَةَ أَمَلِكُمْ.
اللّٰهُمَّ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ، ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى دِيْنِكَ، وَيَا مُصَرِّفَ الْقُلُوْبِ، صَرِّفْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ.
اللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ إِيْمَانًا صَادِقًا، وَقَلْبًا خَاشِعًا، وَلِسَانًا ذَاكِرًا، وَعَمَلًا صَالِحًا مُتَقَبَّلًا.

اللّٰهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ.
اللّٰهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِي فِيْهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِي إِلَيْهَا مَعَادُنَا.

اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.

اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا، وَاسْتُرْ عُيُوْبَنَا، وَفَرِّجْ هُمُوْمَنَا، وَيَسِّرْ أُمُوْرَنَا، وَتَقَبَّلْ تَوْبَتَنَا، وَأَحْسِنْ خَاتِمَتَنَا.

اللّٰهُمَّ أَصْلِحْ أَزْوَاجَنَا وَذُرِّيَّاتِنَا، وَاجْعَلْهُمْ قُرَّةَ أَعْيُنٍ لَنَا، وَاجْعَلْ بُيُوْتَنَا بُيُوْتَ إِيْمَانٍ وَتَقْوَى وَصَلَاحٍ.

اللّٰهُمَّ احْفَظْنَا مِنَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَأَعِذْنَا مِنْ مُضِلَّاتِ الْفِتَنِ، وَارْزُقْنَا الثَّبَاتَ عَلَى الْحَقِّ حَتَّى نَلْقَاكَ وَأَنْتَ رَاضٍ عَنَّا.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللّٰهِ، إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ.

فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ، وَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ.


Semoga Allah SWT menerima amal ibadah kita dan meneguhkan hati kita di atas iman dan ketakwaan.

Sekolah Sekarang: Ketika Semua Harus Naik Kelas, Semua Harus Lulus, tetapi Tidak Semua Benar-Benar Belajar

Artikel pendidikan
PENDIDIKAN • OPINI

Pendidikan Harus Menghasilkan Manusia yang Mampu

Ada sesuatu yang menarik sekaligus mengkhawatirkan dalam wajah pendidikan kita hari ini.

Anak didik semakin harus dilindungi dari tekanan. Guru semakin berhati-hati dalam mendisiplinkan. Nilai semakin dibuat ramah agar tidak melukai perasaan. Kenaikan kelas harus diusahakan. Kelulusan menjadi target yang hampir tidak boleh gagal.

Di sisi lain, dunia kerja justru tidak pernah berjanji akan memperlakukan seseorang dengan cara yang sama.

Dunia kerja tetap menuntut kemampuan.

Masyarakat tetap membutuhkan orang yang bisa berpikir.

Dan kehidupan tidak selalu memberikan nilai bagus hanya karena seseorang sudah berusaha.

Di sinilah persoalannya.

Ketika Guru Takut Mendidik

Dahulu, sekolah identik dengan disiplin.

Anak yang terlambat ditegur. Anak yang tidak mengerjakan tugas diminta bertanggung jawab. Anak yang melanggar aturan mendapatkan konsekuensi. Guru memiliki kewenangan untuk membentuk perilaku dan karakter peserta didik.

Sekarang, guru berada dalam posisi yang jauh lebih rumit.

Menegur bisa dianggap membentak.

Memberikan hukuman disiplin bisa dianggap melakukan kekerasan.

Memberikan nilai rendah bisa dipersoalkan.

Bahkan ketika guru mencoba memberikan konsekuensi atas perilaku peserta didik, orang tua tidak jarang ikut turun tangan.

Tentu, pendidikan tidak boleh menggunakan kekerasan.

Anak tidak boleh dipermalukan, disakiti, atau diperlakukan secara sewenang-wenang.

Tetapi ada perbedaan besar antara kekerasan dengan ketegasan.

Anak tetap perlu belajar bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi.

Jika terlambat, ada konsekuensi.

Jika tidak mengerjakan tugas, ada konsekuensi.

Jika melanggar aturan, ada konsekuensi.

Jika tidak belajar, kemampuan akademiknya akan tertinggal.

Kalau semua konsekuensi dihilangkan atas nama menjaga perasaan anak, lalu dari mana anak belajar tentang tanggung jawab?

Semua Anak Harus Merasa Pintar

Kemudian muncul persoalan lain: bagaimana dengan prestasi?

Ranking dianggap dapat membuat anak merasa dibandingkan.

Nilai yang terlalu tegas dianggap dapat membuat anak minder.

Maka muncullah pendekatan yang semakin lunak.

Semua anak harus dihargai.

Semua anak harus merasa pintar.

Raport tidak lagi sekadar menunjukkan capaian akademik, tetapi dipenuhi dengan kalimat-kalimat positif:

«“Ananda sudah menunjukkan perkembangan yang baik dan perlu terus didukung dalam beberapa aspek.”»

Kalimat seperti itu tentu baik jika memang menggambarkan kondisi sebenarnya.

Masalahnya muncul ketika bahasa yang positif digunakan untuk menutupi kenyataan bahwa kemampuan anak memang belum memenuhi standar.

Menghargai anak tidak berarti membohongi anak.

Justru anak berhak mengetahui:

“Saya berada di level mana?”

Jika seorang anak belum mampu membaca dengan baik, katakan bahwa ia belum mampu membaca dengan baik.

Jika kemampuan matematikanya masih rendah, katakan bahwa kemampuan matematikanya masih perlu diperbaiki.

Jika kemampuan bahasa asingnya belum memenuhi target, berikan informasi tersebut secara jujur.

Bukan untuk menjatuhkan.

Tetapi supaya ada sesuatu yang bisa diperbaiki.

Naik Kelas Bukan Berarti Sudah Menguasai Pelajaran

Persoalan semakin serius ketika kenaikan kelas dianggap sebagai sesuatu yang harus selalu terjadi.

Anak malas belajar?

Naik kelas.

Nilainya rendah?

Naik kelas.

Sering bermasalah?

Naik kelas.

Tidak menguasai materi?

Tetap naik kelas.

Alasannya bermacam-macam.

Jangan sampai anak mengalami tekanan.

Jangan sampai anak merasa gagal.

Jangan sampai orang tua kecewa.

Jangan sampai sekolah dianggap tidak berhasil mendidik.

Akhirnya, sekolah dapat terjebak dalam sebuah paradoks:

anak naik kelas, tetapi kemampuan tidak ikut naik.

Kelasnya bertambah.

Umurnya bertambah.

Ijazahnya bertambah.

Tetapi kompetensinya belum tentu bertambah.

Padahal pendidikan seharusnya bukan sekadar memindahkan seorang anak dari kelas VII ke kelas VIII, dari kelas VIII ke kelas IX, lalu dari SMP menuju SMA.

Pendidikan seharusnya memastikan bahwa ada pertumbuhan kemampuan.

Ketika Semua Jalan Berujung ke Perguruan Tinggi

Setelah menyelesaikan pendidikan menengah, pintu perguruan tinggi semakin terbuka lebar.

Perguruan tinggi bertambah.

Program studi bertambah.

Pilihan kampus semakin banyak.

Ini sebenarnya sesuatu yang positif karena akses pendidikan tinggi semakin luas.

Tetapi akses yang luas tidak otomatis berarti kualitas yang tinggi.

Jika seseorang dapat masuk perguruan tinggi tanpa memiliki fondasi belajar yang cukup, persoalan lama hanya berpindah tempat.

Anak yang dahulu naik kelas meskipun belum menguasai pelajaran, sekarang menjadi mahasiswa yang harus mengikuti perkuliahan dengan kemampuan yang belum matang.

Di titik ini, dosen menghadapi persoalan baru.

Mahasiswa dan Ketergantungan pada AI

Teknologi kecerdasan buatan membawa peluang luar biasa bagi pendidikan.

ChatGPT dan berbagai AI lainnya dapat membantu mahasiswa memahami konsep, mencari ide, menyusun kerangka tulisan, melakukan brainstorming, bahkan membantu menjelaskan materi yang sulit.

Masalahnya bukan pada AI.

Masalahnya adalah ketika AI digunakan sebagai pengganti proses berpikir.

Mahasiswa ingin berbicara di depan kelas?

Tanya AI dulu.

Mendapat tugas?

Tanya AI.

Membuat makalah?

Tanya AI.

Mendapat pertanyaan?

Tanya AI.

Bahkan terkadang jawaban dari AI diterima begitu saja tanpa diperiksa.

Padahal AI juga bisa keliru.

Mahasiswa yang terlalu bergantung pada AI akhirnya bisa mengalami paradoks:

teknologinya semakin pintar, tetapi penggunanya semakin jarang berpikir.

AI seharusnya menjadi alat bantu berpikir.

Bukan otak cadangan yang digunakan untuk menggantikan otak sendiri.

Ketika Kelulusan Menjadi Angka yang Harus Dijaga

Persoalan berikutnya adalah budaya kelulusan.

Perguruan tinggi tentu memiliki tanggung jawab untuk membantu mahasiswa menyelesaikan studi tepat waktu.

Namun, jangan sampai ukuran keberhasilan pendidikan berubah menjadi:

«“Yang penting lulus.”»

Kemudian nilai harus bagus.

IPK harus tinggi.

Angka kelulusan harus baik.

Lama studi harus pendek.

Sebab berbagai indikator tersebut berhubungan dengan penilaian institusi.

Akhirnya muncul pertanyaan yang lebih mendasar:

Apakah seorang mahasiswa benar-benar lulus karena kompeten, atau lulus karena sistem pendidikan terlalu membutuhkan angka kelulusan yang baik?

Pertanyaan ini tidak berarti bahwa semua kampus atau semua dosen melakukan hal tersebut.

Tentu tidak.

Banyak dosen yang tetap menjaga standar akademik dengan serius.

Tetapi secara sistemik, kita perlu berani bertanya apakah indikator administratif sudah terlalu dominan dibandingkan kualitas kompetensi lulusan.

Gelar Bertambah, Kompetensi Belum Tentu

Setelah S1, sebagian orang melanjutkan S2.

Kemudian ada yang menjadi guru.

Ada pula yang melanjutkan hingga menjadi dosen.

Di sinilah siklus pendidikan bisa berulang.

Jika seseorang menjadi pendidik tanpa benar-benar memiliki budaya belajar yang kuat, ia berpotensi mewariskan budaya belajar yang sama kepada generasi berikutnya.

Guru yang dahulu belajar hanya untuk mendapatkan nilai bisa saja mengajar anak untuk mengejar nilai.

Mahasiswa yang terbiasa mengandalkan AI tanpa berpikir kritis bisa saja kelak membimbing siswa dengan cara yang sama.

Orang yang dahulu tidak terbiasa menerima kritik bisa menjadi pendidik yang juga tidak terbiasa memberikan kritik konstruktif.

Akhirnya pendidikan seperti berputar dalam sebuah lingkaran.

Generasi yang dididik oleh sistem yang lemah kemudian menjadi bagian dari sistem yang mendidik generasi berikutnya.

Mengapa Pesantren Masih Menarik untuk Dibicarakan?

Di tengah persoalan tersebut, pendidikan pesantren dan lembaga pendidikan yang mempertahankan tradisi kedisiplinan memiliki sesuatu yang patut diperhatikan.

Bukan berarti semua pesantren sempurna.

Bukan pula berarti pendidikan formal modern semuanya buruk.

Tetapi ada beberapa prinsip pendidikan pesantren yang semakin menarik untuk dipelajari:

Disiplin.

Pembiasaan.

Pengulangan.

Hafalan.

Penguasaan materi.

Adab kepada guru.

Tanggung jawab.

Konsekuensi atas pelanggaran.

Dan proses belajar yang tidak selalu instan.

Seorang santri tidak cukup hanya mengatakan bahwa ia memahami sesuatu.

Ia harus mampu menunjukkan bahwa ia benar-benar menguasainya.

Di sinilah kita menemukan satu prinsip pendidikan yang sederhana:

kemampuan harus dibuktikan.

Bukan sekadar diklaim.

Anak Tidak Boleh Dikerasi, tetapi Juga Tidak Boleh Dimanjakan

Kita perlu berhati-hati agar kritik terhadap pendidikan hari ini tidak berubah menjadi nostalgia terhadap masa lalu.

Pendidikan zaman dahulu juga memiliki kekurangan.

Kekerasan bukan pendidikan.

Mempermalukan anak bukan pendidikan.

Membanding-bandingkan anak secara berlebihan juga bukan pendidikan.

Tetapi pendidikan yang terlalu lembek juga bukan solusi.

Anak perlu kasih sayang sekaligus batas.

Anak perlu dihargai sekaligus dievaluasi.

Anak perlu diberi kesempatan gagal sekaligus diajarkan bangkit.

Anak perlu dilindungi dari kekerasan, tetapi tidak boleh dilindungi dari konsekuensi kehidupan.

Sebab dunia nyata tidak akan selalu berkata:

«“Tidak apa-apa, kamu belum bisa. Yang penting kamu sudah mencoba.”»

Ada saatnya dunia berkata:

«“Kamu belum memenuhi standar. Belajarlah lagi.”»

Dan justru kemampuan menerima kenyataan itulah yang perlu dilatih sejak sekolah.

Jangan Sampai Kita Menciptakan Generasi yang Takut Gagal

Kegagalan sebenarnya bukan musuh pendidikan.

Kegagalan adalah bagian dari pendidikan.

Anak yang pernah mendapatkan nilai rendah bisa belajar memperbaiki cara belajarnya.

Anak yang pernah tidak naik tingkat bisa belajar bertanggung jawab.

Mahasiswa yang pernah mendapatkan nilai buruk bisa belajar lebih serius.

Seseorang yang pernah gagal masuk perguruan tinggi bisa mencari jalan lain.

Seseorang yang ditolak pekerjaan bisa memperbaiki kompetensinya.

Masalahnya adalah ketika kita membuat anak percaya bahwa kegagalan adalah sesuatu yang tidak boleh terjadi sama sekali.

Akibatnya, ketika mereka dewasa dan bertemu dunia nyata, mereka tidak siap.

Sedikit kritik dianggap serangan.

Sedikit koreksi dianggap penghinaan.

Nilai rendah dianggap ketidakadilan.

Kegagalan dianggap kesalahan orang lain.

Padahal hidup memang tidak selalu memberikan apresiasi.

Pendidikan Seharusnya Menghasilkan Manusia yang Mampu

Pada akhirnya, tujuan pendidikan bukan membuat semua anak mendapatkan nilai bagus.

Bukan pula membuat semua anak merasa selalu hebat.

Tujuan pendidikan adalah membantu manusia menjadi lebih mampu.

Mampu membaca.

Mampu berhitung.

Mampu berpikir.

Mampu berbicara.

Mampu menulis.

Mampu memecahkan masalah.

Mampu bekerja.

Mampu menerima kritik.

Mampu mengendalikan diri.

Mampu menggunakan teknologi tanpa diperbudak teknologi.

Dan yang tidak kalah penting:

mampu membedakan antara apa yang benar-benar diketahui dan apa yang sebenarnya belum diketahui.

Sebab pada akhirnya, ijazah tidak akan mengerjakan pekerjaan kita.

IPK tidak akan menyelesaikan masalah kita.

Gelar tidak otomatis membuat seseorang kompeten.

Dan kecerdasan buatan tidak akan selalu menyelamatkan orang yang tidak mau berpikir.

Penutup

Kita tentu tidak bisa meramalkan secara pasti seperti apa masa depan bangsa.

Tetapi satu hal seharusnya menjadi perhatian bersama:

Jika sekolah terlalu takut memberikan konsekuensi, perguruan tinggi terlalu takut memberikan nilai rendah, mahasiswa terlalu bergantung pada AI, dan dunia pendidikan lebih sibuk menjaga angka kelulusan daripada memastikan kompetensi, maka kita sedang menghadapi masalah yang jauh lebih besar daripada sekadar rendahnya nilai ujian.

Kita sedang berisiko menghasilkan generasi yang memiliki banyak sertifikat, tetapi sedikit kemampuan.

Banyak gelar, tetapi kurang daya analisis.

Banyak tuntutan untuk dihargai, tetapi kurang kesiapan untuk menerima evaluasi.

Banyak akses terhadap teknologi, tetapi semakin sedikit kemauan untuk berpikir.

Dan pada akhirnya, bangsa tidak dibangun oleh banyaknya orang yang lulus.

Bangsa dibangun oleh banyaknya orang yang mampu.

Karena itu, mungkin sudah waktunya kita berhenti bertanya:

“Bagaimana agar semua anak bisa lulus?”

Dan mulai bertanya:

“Bagaimana agar setiap anak yang lulus benar-benar memiliki kemampuan?”

Nama-Nama Waktu dalam Bahasa Arab Lengkap dengan Arti dan Lagu Edukasi

Nama-Nama Waktu dalam Bahasa Arab Lengkap dengan Arti dan Lagu Edukasi

Nama-nama waktu dalam bahasa Arab merupakan kosakata dasar yang penting dipelajari oleh siswa. Dengan menguasai mufradat tentang waktu, kita dapat menyebutkan pagi, siang, sore, malam, serta waktu-waktu lainnya dalam bahasa Arab.

Dalam pembelajaran bahasa Arab, tema waktu sering dijumpai dalam materi percakapan sehari-hari. Kosakata ini juga berguna ketika kita belajar menyebutkan kegiatan berdasarkan waktu, seperti bangun tidur, berangkat sekolah, belajar, dan beristirahat.

Agar lebih mudah dihafalkan, mari pelajari nama-nama waktu dalam bahasa Arab berikut lengkap dengan harakat, tulisan latin, dan artinya. Di dalam artikel ini juga tersedia video lagu edukasi bahasa Arab yang dapat digunakan sebagai media belajar yang menyenangkan.

Video pembelajaran nama-nama waktu dalam bahasa Arab.

15 Nama Waktu dalam Bahasa Arab dan Artinya

Berikut daftar kosakata waktu dalam bahasa Arab yang sering digunakan dalam percakapan dan pembelajaran sehari-hari.

No. Bahasa Arab Tulisan Latin Arti
1 وَقْتٌ waqtun Waktu
2 صَبَاحٌ ṣabāḥun Pagi
3 ظُهْرٌ ẓuhrun Tengah hari
4 بَعْدَ الظُّهْرِ ba‘daẓ-ẓuhri Setelah tengah hari
5 عَصْرٌ ‘aṣrun Waktu sore
6 مَسَاءٌ masā'un Petang atau malam
7 لَيْلٌ laylun Malam
8 نَهَارٌ nahārun Siang hari
9 يَوْمٌ yaumun Hari
10 أُسْبُوعٌ usbū‘un Minggu atau pekan
11 شَهْرٌ syahrun Bulan
12 سَنَةٌ sanatun Tahun
13 سَاعَةٌ sā‘atun Jam
14 دَقِيقَةٌ daqīqatun Menit
15 ثَانِيَةٌ ṡāniyatun Detik

Ungkapan Waktu dalam Bahasa Arab

Selain nama waktu, ada beberapa ungkapan sederhana yang dapat digunakan dalam percakapan bahasa Arab.

Bahasa Arab Latin Arti
صَبَاحُ الْخَيْرِ ṣabāḥul-khair Selamat pagi
مَسَاءُ الْخَيْرِ masā'ul-khair Selamat petang/malam
الْيَوْمَ al-yauma Hari ini
غَدًا ghadan Besok
أَمْسِ amsi Kemarin

Cara Mudah Menghafal Nama Waktu dalam Bahasa Arab

  1. Baca kosakata bahasa Arab beserta artinya.
  2. Perhatikan harakat dan cara pengucapannya.
  3. Dengarkan lagu pada video di atas secara berulang.
  4. Ucapkan kembali kosakata tanpa melihat tabel.
  5. Gunakan kosakata waktu dalam kalimat sederhana.

Latihan Bahasa Arab: Nama-Nama Waktu

1. Apa arti kata صَبَاحٌ?

2. Apa bahasa Arab dari “malam”?

3. Apa arti kata سَاعَةٌ?

4. Apa bahasa Arab dari “hari”?

5. Apa arti kata غَدًا?

Lihat kunci jawaban
  1. Pagi.
  2. لَيْلٌ
  3. Jam.
  4. يَوْمٌ
  5. Besok.

Belajar Bahasa Arab dengan Lagu

Yuk, dengarkan lagu nama-nama waktu dalam bahasa Arab dan nyanyikan bersama. Belajar mufradat menjadi lebih menyenangkan jika dilakukan secara rutin.

▶ Tonton Video di YouTube

Kesimpulan

Menguasai nama-nama waktu dalam bahasa Arab membantu kita memahami percakapan dan materi pembelajaran sehari-hari. Mulailah dengan menghafal kosakata dasar, memahami artinya, lalu berlatih menggunakannya dalam kalimat sederhana.

Semoga daftar kosakata dan video lagu edukasi ini bermanfaat bagi siswa, guru, serta siapa saja yang ingin belajar bahasa Arab dengan cara yang mudah dan menyenangkan.

Fikri Almabrur | Belajar Bahasa Arab Lebih Mudah

20 Kosakata Bahasa Arab tentang Olahraga Lengkap dengan Lagu Edukasi

20 Kosakata Bahasa Arab tentang Olahraga Lengkap dengan Lagu Edukasi

Bahasa Arab tentang olahraga merupakan salah satu tema kosakata yang penting dipelajari oleh siswa karena banyak digunakan dalam materi Bahasa Arab tingkat MI, MTs, hingga MA.

Pada artikel ini, kita akan belajar 20 kosakata Bahasa Arab tentang olahraga lengkap dengan harakat, transliterasi, arti Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris.

Agar proses menghafal menjadi lebih menyenangkan, kosakata tersebut juga disajikan melalui lagu edukasi Bahasa Arab. Dengan mendengarkan dan menyanyikan lagu secara berulang, siswa dapat lebih mudah mengingat mufradat yang berkaitan dengan olahraga.

20 Kosakata Bahasa Arab tentang Olahraga

Berikut adalah kosakata Bahasa Arab yang berkaitan dengan olahraga yang dapat digunakan untuk menambah perbendaharaan mufradat Bahasa Arab.

No. Bahasa Arab Latin Bahasa Indonesia English
1 رِيَاضَةٌ riyāḍatun olahraga sport
2 كُرَةٌ kuratun bola ball
3 مَلْعَبٌ mal'abun lapangan field
4 لَاعِبٌ lā'ibun pemain player
5 فَرِيقٌ farīqun tim team
6 رَكْضٌ rakḍun lari running
7 مَشْيٌ masyyun berjalan walking
8 سِبَاقٌ sibāqun perlombaan race
9 سِبَاحَةٌ sibāḥatun berenang swimming
10 قَفْزٌ qafzun melompat jumping
11 رِيَاضِيٌّ riyāḍiyyun olahragawan athlete
12 مُبَارَاةٌ mubārātun pertandingan match
13 فَوْزٌ fawzun kemenangan victory
14 خَسَارَةٌ khasāratun kekalahan defeat
15 مُدَرِّبٌ mudarribun pelatih coach
16 حَكَمٌ ḥakamun wasit referee
17 مِضْمَارٌ miḍmārun lintasan track
18 تَمْرِينٌ tamrīnun latihan training
19 صِحَّةٌ ṣiḥḥatun kesehatan health
20 قُوَّةٌ quwwatun kekuatan strength

Cara Belajar Kosakata Bahasa Arab dengan Lagu

Belajar kosakata dengan lagu dapat menjadi salah satu cara yang menarik untuk membantu siswa mengingat kata-kata Bahasa Arab. Dengarkan lagu beberapa kali, kemudian coba ikuti pengucapannya.

  1. Dengarkan lagu sampai selesai.
  2. Perhatikan kosakata Bahasa Arab yang muncul.
  3. Ulangi pengucapan setiap kosakata.
  4. Coba hafalkan arti Bahasa Indonesianya.
  5. Nyanyikan kembali tanpa melihat teks.

Latihan Kosakata Bahasa Arab tentang Olahraga

1. Apa arti dari kata رِيَاضَةٌ?

2. Apa Bahasa Arab dari "bola"?

3. Apa arti dari مَلْعَبٌ?

4. Apa Bahasa Arab dari "pelatih"?

5. Apa arti dari فَوْزٌ?

Belajar Bahasa Arab dengan Lagu

Jangan hanya membaca kosakata. Dengarkan lagunya dan ikuti pengucapannya agar proses menghafal menjadi lebih menyenangkan.

▶ Tonton di YouTube

Kesimpulan

Menguasai kosakata Bahasa Arab tentang olahraga akan membantu siswa memahami berbagai materi pembelajaran Bahasa Arab yang berkaitan dengan aktivitas fisik, kesehatan, dan kehidupan sehari-hari.

Dengan menggabungkan mufradat, pengucapan, dan lagu edukasi, belajar Bahasa Arab dapat menjadi lebih mudah, menyenangkan, dan tidak membosankan.

Fikri Almabrur — Belajar Bahasa Arab Lebih Mudah