Postingan

Menampilkan postingan dengan label Quraish Shihab

Perbedaan Sehat dan Afiat


Bahasa al-Qur’an ada sehat dan ‘afiat. Keduanya memiliki makna yang berbeda. Sehat itu adalah berfungsinya anggota badan sesuai dengan tujuan diciptakannya anggota badan. ‘Afiat sendiri ada beberapa makna, antara lain adalah berfungsinya anggota badan sesuai dengan tujuan Allah menganugerahkan anggota badan, misal mata yang sehat bisa baca koran, tetapi mata itu tidak ‘afiat kalau digunakan untuk melihat hal-hal yang terlarang. Pengertian lain dari ‘afiat adalah perlindungan Allah kepada hamba-Nya sehingga terhindar dari bencana dan tipu daya. ‘Afiat bisa berkaitan dengan jasmani, rohani, dan juga pikiran.

Idul Fitri; Hari Kemenangan

Hari Raya Idul Fitri populer dikenal sebagai “Hari Kemenangan”. Kalau itu dianggap sebagai “Hari Kemenangan“ maka kemenangan tersebut bukanlah kemenangan akhir. Ia – bagi yang benar-benar meraih kemenangan -baru menang dalam satu pertempuran - belum lagi kemenangan dalam peperangan. Peperangan melawan nafsu dan setan tidak berhenti dengan hadirnya Idul Fitri tetapi berlanjut selama hayat dikandung badan, karena nafsu dan setan menyertai manusia selama hidupnya dan setan telah bersumpah di hadapan Allah untuk menyesatkan manusia – dari arah kiri dan kanan- atas dan bawah – menyesatkannya sampai dengan detik terakhir dari hayat manusia (Q.S. Al-Araf [7]: 17).

Kemenangan melawan setan dan nafsu ditandai oleh tertawan dan terkendalinya syahwat dan teratasinya rayuan setan yang mengantar pemenang patuh mengikuti perintah agama, akal dan budaya. Bukan sebaliknya, karena jika sebaliknya, maka itulah kekalahan bahkan perbudakan manusia oleh setan dan nafsu.

Di sisi lain harus disadari bahwa kemenangan bermacam-macam. Ada yang hanya menghasilkan kelezatan jasmani; makan, minum dan seks. Jelas bukan itu yang dikehendaki oleh kemenangan setelah bepuasa walau memang dengan Idul Fitri kita telah memperoleh kebebasan dalam batas-batas tertentu untuk makan, minum dan seks.

Kemenangan hakiki adalah yang mengantar kepada diraihnya nilai-nilai spiritual, yang tidak bisa dipisahkan dari fithrah dalam arti kesucian – yang mencakup tiga unsur pokok yaitu: Keindahan, Kebenaran, dan Kebaikan. Upaya mencari yang benar menghasilkan ilmu, melakukan yang baik membuahkan budi dan mengekspresikan keindahan melahirkan seni. Karena itu pula peperangan yang perlu kita menangkan adalah peperangan melawan aneka keburukan seperti kebodohan, kemiskinan, penyakit dan kezaliman.

Kemenangan hakiki menghasilkan pencerahan akal dan jiwa sekaligus penyerahan diri -raga, rasa, dan pikir- kepada Allah swt. Kemenangan hakiki menghasilkan pengakuan atas kebenaran walau pengakuan itu tidak sejalan dengan keinginan nafsu atau dorongan setan. Itu sebabnya yang kalah dinilai sebagai pemenang jika ia mengakui secara ksatria kekalahannya, karena ketika itu ia berhasil mengalahkan nafsu dan syahwatnya yang berkolusi dengan setan.

Sebaliknya, yang menang dinilai kalah jika itu diperolehnya melalui proses yang terlepas dari nilai-nilai etik dan spiritual karena ketika itu ia dikuasi oleh nafsu dan setan. Itu juga sebabnya kemenangan hakiki tidak selalu harus dikaitkan dengan hasil dan karena itu pula kegagalan dapat menjadi kemenangan yang tertunda, ini jika yang kalah dapat mengambil pelajaran dari kegagalannya.

Di sisi lain, kemenangan hakiki tidak dapat diperoleh tanpa bantuan Allah, baik kemenangan menghadapi nafsu dan setan, maupun kemenangan di bidang politik, militer atau aktivitas apapun. Allah menegaskan bahwa, Kemenangan tidak bersumber kecuali dari sisi Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (Q.S. Ali Imran [3]: 126), bahkan Allah menegaskan bahwa: Bukan engkau – Wahai Nabi Muhammad – yang membunuh mereka, tetapi Allah yang membunuh mereka, bukan engkau yang melempar ketika engkau melempar tetapi Allah Yang melempar… (Q.S. Al-Anfal [8]: 17).

Dalam suasana menjelang Idul Fitri, yang dikenal dengan nama “Hari Kemenangan” itu, pemenang dalam Pilpres 2014 diumumkan dan dirayakan kemenangannya. Tetapi, harus diingat bahwa pemenang tidaklah dinilai menang kalau kemenangannya hanya dinikmati oleh pendukungnya saja. Kemenangannya harus dinikmati oleh seluruh bangsa bahkan harus berdampak kepada lingkungan seluas mungkin.

Akhirnya, Taqabbala Allahu Minna Wa Minkum Minal Aidin Wa Al-Faizin. Semoga Allah menerima ibadah dan doa kita dan semoga kita kembali ke Fithrah Kesucian dan meraih kemenangan abadi dengan hidup damai di dunia dan diakhirat. Maaf lahir dan batin. [M. Quraish Shihab]

Teks Doa untuk Indonesia

Alhamdulilah segala puji bagi-Mu yang telah menganugerahkan kami tanah air yang dilukiskan sebagai sekeping taman surga. Segala puji bagi-Mu yang menjadikan kami ber-Bhineka Tunggal Ika. Segala puji bagi-Mu yang telah menakdirkan kami bebas merdeka. Segala puji bagi-Mu yang menjadikan kami berpeluang memilih sendiri pemimpin yang kami rasa lebih dekat kepada kami dan kami pikir lebih mampu menganggulangi keluhan dan mewujudkan keinginan kami serta lebih bisa -atas bantuan-Mu Ya Allah- memberi rasa aman dan tenteram bagi kami dan anak cucu kami. 

Ya Allah, peliharalah bangsa dan negara kami. Perkukuhlah persatuan dan kesatuan kami. Janganlah jadikan Pilpres ini benih perpecahan dendam kesumat apalagi sengketa di antara kami. Ya Allah, jangan jatuhkan bencana atas bangsa kami karena ulah orang-orang picik dan jahil. Ya Allah, jangan sampai kebohongan dan fitnah menggerogoti kesatuan dan persatuan kami. Belenggulah daya dan tangan mereka yang menyebarkan fitnah dan bongkarlah kemunafikan dan kebohongan yang menyertai mereka, siapapun mereka. 

Ya Allah, kami semua lemah tanpa bantuan-Mu. Karena itu Ya Allah, turunkalah para malaikat, untuk mendukung, membentengi, dan mengukuhkan jiwa kami, sehingga tidak rayuan, tidak pula intimidasi dan ancaman, dapat mengotori keikhlasan kami dan mengubah pilihan tulus kami. 

Ya Allah, cegahlah siapapun yang bermaksud memaksakan pilihannya, yang bukan kehendak kami. Anugerahi pula kami limpahan ganjaran karena pilihan kami yang tulus dan benar, dan jangan tidak memberi ganjaran saudara-saudara kami sebangsa yang telah memilih dengan tulus kendati pilihan mereka keliru. 

Ya Allah, kami sepenuhnya sadar bahwa Kekuasaan penuh berada dalam gengaman tangan-Mu. Engkau yang memberi kekuasaan bagi siapa yang Engkau kehendaki dan mencabut kekuasaan dari siapa yang Engkau Kehendaki. Engkau muliakan siapa yang Engkau Kehendaki dan rendahkan siapa yang Engkau Kehendaki. Dalam gengaman tangan-Mu segala kebajikan sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. 

Ya Allah dengan pengaturan-Mu tidak lagi dibutuhkan upaya, dengan limpahan anugerah-Mu tercapai yang melebihi harapan, dengan santunan-Mu tertutupi segala kekurangan, dan dengan pengampunan-Mu terhapus segala kesalahan. Karena itu ya Allah, kami mengandalkan pengaturan-Mu setelah segala upaya kami lakukan. 

Kami merindukan curahan rahmat-Mu setelah Engkau tahu pilihan dan harapan kami. Kami memohon santunan-Mu kiranya kekurangan kami tertutupi dan Kami memohon pengampunan Mu sehingga terampuni segala kesalahan kami. 

Ya Allah, jika ketetapan dan izin-Mu menjadikan pasangan yang bukan pilihan kami sebagai Peresiden dan wakil Presiden maka bantulah kami menerima mereka dengan ketulusan hati dan kepatuhan untuk dipimpin, serta peliharalah mereka dari terjerumus dalam godaaan setan dan rayuan duniawi. Ya Allah, jika ketetapan dan restu-Mu mengarah kepada pasangan pilihan kami, maka bantulah mereka melaksanakan amanat serta dukunglah mereka dan dukung pula kami membantu mereka mewujudkan cita-cita Proklamasi. 

Ya Allah, anugerahilah Capres dan Cawapres yang menang, kemampuan mensyukuri kemenangan tanpa keangkuhan, dan bimbing pula mereka agar sukses memimpin bangsa dengan adil dan benar, tanpa membedakan pendukung dan yang tidak mendukungnya. 

Ya Allah, anugerahi pula Capres dan Cawapres yang belum memperoleh kehormatan menjadi Presiden dan Wakil Presiden dalam Pilpres ini kemampuan menerima kekalahan secara ksatria, dan berilah mereka ganjaran berlipat ganda atas usaha dan niat tulus mereka untuk mengabdi. Bahkan anugerahi mereka peluang untuk mengabdi dalam tugas mulia yang seimbang disisi-Mu dengan tugas Presiden dan Wakil Presiden. Akhirnya Ya Allah, jadikanlah kamu semua hamba-hamba-Mu yang bersaudara. 

Ya Allah, berkat kesucian Ramadhan kami bermohon terimalah doa kami, jangan kecewakan kami. Amin. [M. Quraish Shihab]