Postingan

Menampilkan postingan dengan label Alquran dan Hadits

Al Quran I'rab: Belajar I'rab Ayat Al-Qur'an Perkata dengan Mudah

📖 Media Belajar Bahasa Arab Al-Qur'an
Al Quran I'rab: Belajar I'rab Ayat Al-Qur'an Perkata dengan Mudah

Ingin mempelajari i'rab Al-Qur'an dengan cara yang lebih praktis? Gunakan aplikasi Al-Qur'an I'rab sebagai media belajar untuk mengamati kata dan informasi kebahasaan pada ayat Al-Qur'an secara lebih terstruktur.

📖 Buka Aplikasi Al-Qur'an I'rab

Mempelajari bahasa Arab Al-Qur'an tidak hanya berkaitan dengan mengetahui arti sebuah kata. Bagi pembelajar bahasa Arab, i'rab Al-Qur'an juga menjadi salah satu bagian yang dapat dipelajari untuk memahami kedudukan dan hubungan gramatikal kata dalam sebuah susunan bahasa Arab.

Untuk membantu proses belajar tersebut, Al-Qur'an I'rab hadir sebagai media berbasis web yang dapat dibuka langsung melalui browser. Pengguna dapat memanfaatkannya sebagai pendamping ketika mempelajari struktur bahasa Arab dalam ayat Al-Qur'an.

Apa Itu Aplikasi Al-Qur'an I'rab?

Al-Qur'an I'rab adalah media belajar berbasis web yang dibuat untuk membantu pengguna mempelajari informasi kebahasaan dan i'rab yang berkaitan dengan kata dalam ayat Al-Qur'an.

Media digital seperti ini dapat digunakan sebagai pendamping pembelajaran. Pengguna dapat membuka materi melalui ponsel atau komputer tanpa harus memasang aplikasi khusus selama perangkat memiliki browser dan akses internet.

💡 Fokus pembelajaran
Aplikasi ini dapat digunakan untuk membantu mengamati kata-kata dalam ayat Al-Qur'an dan informasi kebahasaan yang disediakan pada aplikasi secara lebih terstruktur.
Tampilan aplikasi Al-Quran I'rab untuk belajar i'rab Al-Qur'an perkata
Tampilan aplikasi Al-Qur'an I'rab sebagai media belajar i'rab dan struktur bahasa Arab dalam ayat Al-Qur'an.

Apa yang Dimaksud dengan I'rab?

Dalam pembelajaran tata bahasa Arab, i'rab berkaitan dengan pembahasan keadaan atau perubahan pada akhir kata yang berhubungan dengan kedudukannya dalam susunan kalimat. Pembahasan ini merupakan bagian penting dalam pembelajaran nahwu.

Ketika diterapkan dalam pembelajaran Al-Qur'an, analisis i'rab dapat digunakan untuk mempelajari kedudukan kata serta hubungan gramatikalnya dengan kata lain dalam suatu ayat.

📚 Belajar bahasa Al-Qur'an Memahami i'rab membutuhkan proses. Karena itu, aplikasi sebaiknya digunakan sebagai alat bantu untuk mengamati materi, kemudian dipadukan dengan pembelajaran nahwu, kitab, dan penjelasan pengajar yang kompeten.

Fitur Aplikasi Al-Qur'an I'rab

Tampilan aplikasi dirancang agar proses belajar dapat dilakukan secara lebih praktis melalui perangkat yang digunakan sehari-hari.

📖 Teks Al-Qur'an Pengguna dapat mempelajari ayat Al-Qur'an melalui teks Arab yang tersedia pada aplikasi.
🔎 Analisis Perkata Pendekatan perkata membantu pengguna memusatkan perhatian pada bagian-bagian kecil dari susunan sebuah ayat.
ع Informasi I'rab Informasi i'rab dapat digunakan sebagai bahan belajar untuk mengenali kedudukan gramatikal kata pada materi yang tersedia.
📚 Belajar Nahwu Materi dapat dimanfaatkan sebagai pendamping ketika mempelajari konsep tata bahasa Arab dan penerapannya.
👆 Interaktif Tampilan berbasis web membuat pengguna dapat berpindah dan mempelajari materi secara praktis.
📱 Bisa Dibuka di HP Aplikasi dapat diakses melalui browser sehingga nyaman digunakan melalui ponsel maupun komputer.

Mengapa Belajar I'rab Al-Qur'an Perkata?

Sebuah ayat dapat terdiri atas beberapa kata dengan fungsi gramatikal yang berbeda. Bagi orang yang sedang belajar, menganalisis semuanya sekaligus terkadang terasa cukup banyak.

Pendekatan i'rab Al-Qur'an perkata memungkinkan materi dipelajari dalam bagian yang lebih kecil. Pengguna dapat memusatkan perhatian pada satu kata terlebih dahulu sebelum melanjutkan ke kata berikutnya.

Cara tersebut juga dapat membantu pembelajar menghubungkan teori nahwu yang pernah dipelajari dengan contoh penggunaannya dalam teks Arab.

Cara Menggunakan Aplikasi Al-Qur'an I'rab

Aplikasi dapat dibuka langsung melalui browser. Untuk mulai belajar, gunakan langkah berikut:

  1. Buka aplikasi Al-Qur'an I'rab.
    Tekan tombol yang tersedia pada artikel ini untuk masuk ke aplikasi.
  2. Pilih materi yang ingin dipelajari.
    Gunakan navigasi yang tersedia untuk menuju bagian atau ayat yang ingin dipelajari.
  3. Perhatikan teks ayat.
    Baca ayat terlebih dahulu agar mengetahui konteks bagian yang sedang dipelajari.
  4. Pelajari kata demi kata.
    Perhatikan informasi yang tersedia pada masing-masing bagian atau kata.
  5. Amati informasi i'rab.
    Hubungkan informasi tersebut dengan konsep tata bahasa Arab yang sedang dipelajari.
  6. Ulangi materi.
    Pelajari kembali bagian yang sama apabila masih ada konsep yang belum dipahami.

📖 Coba Al-Qur'an I'rab

Gunakan aplikasi sebagai media pendamping untuk mempelajari i'rab dan struktur bahasa Arab pada ayat Al-Qur'an.

Buka Aplikasi Al-Qur'an I'rab →

Belajar I'rab Al-Qur'an Secara Bertahap

Belajar i'rab tidak harus dilakukan dengan menganalisis banyak ayat sekaligus. Pembelajaran dapat dimulai dari bagian yang lebih pendek kemudian dilanjutkan secara bertahap.

Perhatikan sebuah kata, pelajari informasi gramatikalnya, kemudian lihat hubungannya dengan kata lain dalam susunan ayat. Setelah memahami satu bagian, lanjutkan ke bagian berikutnya.

💡 Tips belajar
Gunakan aplikasi bersama catatan pelajaran nahwu. Ketika menemukan istilah yang belum dipahami, catat istilah tersebut lalu pelajari konsep dasarnya sebelum melanjutkan analisis.

Siapa yang Dapat Menggunakan Al-Qur'an I'rab?

Media ini dapat digunakan oleh pembelajar yang tertarik mempelajari bahasa Arab Al-Qur'an, termasuk pengguna yang sedang mengenal dasar-dasar nahwu maupun yang ingin mengulang kembali materi yang pernah dipelajari.

Bagi pemula, istilah dalam pembahasan i'rab mungkin membutuhkan penjelasan tambahan. Karena itu, penggunaan aplikasi akan lebih bermanfaat apabila dipadukan dengan materi dasar bahasa Arab dan bimbingan pengajar.

Aplikasi sebagai Media Pendamping Belajar

Aplikasi digital dapat mempermudah akses terhadap materi, tetapi fungsi utamanya tetap sebagai alat bantu pembelajaran. Penjelasan guru dan sumber ilmu yang terpercaya tetap penting, terutama ketika pengguna menemui analisis yang belum dipahami.

Dengan demikian, Al-Qur'an I'rab dapat digunakan untuk membantu pengguna mengulang materi, mengamati struktur kata, serta mendampingi proses belajar bahasa Arab secara mandiri.

Pertanyaan Seputar Al-Qur'an I'rab

Apa itu aplikasi Al-Qur'an I'rab?

Al-Qur'an I'rab adalah media belajar berbasis web yang dapat digunakan sebagai pendamping untuk mempelajari informasi kebahasaan dan i'rab pada materi ayat Al-Qur'an yang tersedia.

Apa itu i'rab dalam bahasa Arab?

Dalam pembelajaran tata bahasa Arab, i'rab berkaitan dengan keadaan atau perubahan pada akhir kata yang berhubungan dengan kedudukannya dalam susunan kalimat.

Apa manfaat mempelajari i'rab Al-Qur'an?

Dari sisi pembelajaran bahasa, analisis i'rab dapat membantu pembelajar mengamati kedudukan dan hubungan gramatikal kata-kata dalam susunan ayat.

Apakah aplikasi Al-Qur'an I'rab bisa dibuka di HP?

Ya. Aplikasi berbasis web sehingga dapat dibuka melalui browser pada perangkat yang kompatibel dan memiliki koneksi internet.

Apakah pemula bisa belajar menggunakan aplikasi ini?

Pemula dapat menggunakannya sebagai media pendamping. Namun, beberapa istilah i'rab berkaitan dengan tata bahasa Arab sehingga mempelajari dasar-dasar nahwu akan membantu dalam memahami materi.

Apakah aplikasi ini menggantikan guru atau kitab?

Tidak. Aplikasi sebaiknya digunakan sebagai alat bantu pembelajaran. Untuk memahami pembahasan bahasa Arab dan Al-Qur'an secara lebih mendalam, gunakan pula sumber terpercaya dan bimbingan pengajar yang kompeten.

Mulai Belajar I'rab Al-Qur'an

Belajar struktur bahasa Arab membutuhkan proses dan pengulangan. Daripada mencoba memahami banyak materi sekaligus, pengguna dapat memulainya dari satu bagian, mempelajari kata-katanya, kemudian melanjutkan secara bertahap.

Melalui Al-Qur'an I'rab, materi dapat diakses langsung dari browser sehingga lebih mudah digunakan sebagai pendamping belajar kapan pun diperlukan.

📖 Al-Qur'an I'rab

Belajar i'rab Al-Qur'an secara bertahap.

Pelajari kata, informasi kebahasaan dan struktur bahasa Arab pada ayat Al-Qur'an melalui media belajar berbasis web.

📖 Mulai Belajar Al-Qur'an I'rab

Catatan: Al-Qur'an I'rab merupakan media pendamping belajar. Untuk pembahasan bahasa Arab dan pemahaman Al-Qur'an yang lebih mendalam, gunakan pula sumber pembelajaran terpercaya serta bimbingan pengajar yang kompeten.

Irob Alquran Perkata: Aplikasi Belajar I'rab Al-Qur'an Perkata Secara Online

Memahami i'rab Al-Qur'an merupakan salah satu cara untuk mempelajari struktur Bahasa Arab dalam ayat-ayat Al-Qur'an. Dengan mengetahui kedudukan dan fungsi suatu kata dalam kalimat, pembelajar dapat lebih mudah mengenali susunan Bahasa Arab serta menerapkan ilmu nahwu dalam teks Al-Qur'an.

Untuk membantu proses belajar tersebut, Fikri Almabrur menghadirkan Irob Alquran Perkata, sebuah aplikasi berbasis web yang dirancang untuk membantu mempelajari i'rab Al-Qur'an secara perkata dengan lebih praktis dan mudah diakses.

Tampilan aplikasi Irob Alquran Perkata untuk belajar i'rab Al-Qur'an secara perkata
Tampilan aplikasi Irob Alquran Perkata karya Fikri Almabrur.

Apa Itu Irob Alquran Perkata?

Irob Alquran Perkata adalah aplikasi pembelajaran berbasis web yang membantu pengguna mempelajari i'rab kata-kata dalam ayat Al-Qur'an.

Aplikasi ini dapat digunakan sebagai media pendamping bagi pelajar, santri, mahasiswa, guru, maupun masyarakat yang sedang mempelajari Bahasa Arab, khususnya materi nahwu dan i'rab.

Karena berbasis web, pengguna tidak perlu memasang aplikasi khusus. Irob Alquran Perkata dapat dibuka melalui browser pada komputer, laptop, tablet, maupun HP selama perangkat terhubung dengan internet.

Mengapa Belajar I'rab Al-Qur'an?

Dalam Bahasa Arab, perubahan harakat pada akhir kata berkaitan dengan kedudukan kata tersebut di dalam kalimat. Karena itu, pembahasan i'rab menjadi salah satu bagian penting dalam pembelajaran nahwu.

Dengan mempelajari i'rab, pengguna dapat berlatih mengenali fungsi kata dalam susunan kalimat. Pembelajaran melalui ayat Al-Qur'an juga memberikan konteks nyata sehingga teori nahwu dapat diamati penerapannya secara langsung.

Belajar I'rab Al-Qur'an Secara Perkata

Salah satu tujuan utama aplikasi Irob Alquran Perkata adalah membantu pengguna mempelajari struktur ayat secara lebih terarah melalui pendekatan perkata.

Pengguna dapat memperhatikan kata demi kata serta hubungannya dalam susunan ayat. Pendekatan seperti ini dapat menjadi pendamping yang bermanfaat bagi mereka yang sedang memperdalam pemahaman Bahasa Arab, nahwu, dan analisis struktur ayat.

Fitur dan Manfaat Irob Alquran Perkata

  • Pembelajaran i'rab Al-Qur'an perkata.
  • Membantu memahami susunan dan fungsi kata dalam ayat.
  • Mendukung pembelajaran Bahasa Arab dan ilmu nahwu.
  • Berbasis web dan mudah digunakan.
  • Dapat dibuka melalui komputer, laptop, tablet, maupun HP.

Cocok Digunakan oleh Siapa?

Irob Alquran Perkata dapat dimanfaatkan oleh pelajar Bahasa Arab, santri, mahasiswa, guru Bahasa Arab, guru madrasah, maupun masyarakat umum yang ingin mempelajari nahwu dan i'rab Al-Qur'an.

Bagi guru, aplikasi ini dapat digunakan sebagai salah satu media pendukung pembelajaran. Sementara bagi pelajar, aplikasi dapat dimanfaatkan sebagai sarana belajar mandiri melalui perangkat yang dimiliki.

Cara Menggunakan Irob Alquran Perkata

Untuk menggunakan aplikasi, cukup buka Irob Alquran Perkata melalui browser pada HP atau komputer. Tidak perlu mengunduh atau memasang aplikasi tambahan.

Setelah aplikasi terbuka, pengguna dapat memilih bagian Al-Qur'an yang ingin dipelajari dan menggunakan fitur i'rob untuk membantu melihat analisis kata pada ayat yang dipilih.

Mulai Belajar I'rab Al-Qur'an Perkata
Pelajari susunan dan fungsi kata dalam ayat Al-Qur'an secara lebih praktis melalui aplikasi berbasis web.
Buka Irob Alquran Perkata →

Media Pendamping Belajar Bahasa Arab dan Nahwu

Teknologi dapat dimanfaatkan untuk membuat proses belajar menjadi lebih praktis dan mudah dijangkau. Kehadiran aplikasi Irob Alquran Perkata merupakan salah satu upaya menghadirkan media digital yang dapat mendukung pembelajaran Bahasa Arab dan nahwu melalui ayat-ayat Al-Qur'an.

Aplikasi ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan peran guru, ustaz, kitab, atau sumber pembelajaran lainnya. Irob Alquran Perkata dapat digunakan sebagai media pendamping belajar agar pengguna memiliki sarana tambahan ketika mempelajari i'rab dan struktur Bahasa Arab.

Mulai Belajar I'rab Al-Qur'an Sekarang

Bagi Anda yang sedang mempelajari Bahasa Arab, nahwu, atau ingin mengenali struktur kata dalam ayat Al-Qur'an, silakan mencoba Irob Alquran Perkata.

Aplikasi dapat digunakan secara online melalui HP maupun komputer, sehingga lebih praktis untuk digunakan sebagai pendamping belajar kapan pun dibutuhkan.

Semoga aplikasi ini dapat menjadi salah satu sarana yang bermanfaat dalam mendukung pembelajaran Bahasa Arab, nahwu, dan i'rab Al-Qur'an.

Fikri Almabrur — Belajar • Berkarya • Berbagi

Banyak yang Tidak Tau; Ternyata Doa lain setelah membaca Alquran

DOA SETELAH MEMBACA AL QURAN

كَــلاَ مٌ قَدِ يمٌ لاَ يُمَلُّ سَمَــا عُـــهُ

Al Quran adalah Kalamullah yang Qadim yang tidak ada kebosanan untuk didengarkan

تَنَــزَّهَ عَن قَو لٍ وَفِعلٍ وَنِيَّــــةٍ 

Yang disucikan dari ucapan, perbuatan dan kehendak

بِهِ اَشتـَفِى مِن كُلِّ دَا ءٍ وَنُو رُهُ 

Dengan Al Quran itu, aku minta kesembuhan dari segala penyakit dan cahaya Al Quran

دَ لِيــلٌ لِقَلبِي عِندَ جَهــلِى وَحَيرَ تِى 

itu menjadi petunjuk hatiku ketika aku dalam kebodohan dan kebingungan

فَيَـا رَبِّ مَتِّعــنِي بِسِرِّ حُرُفِهِ 

Wahai Tuhanku, anugrahilah aku dengan rahasia dalam huruf Al Quran

وَنَوِّر بِهِ قَلبِي وَسَمعِــى وَمُقلَــتِى 

dan berilah cahaya dihatiku pendengaran dan mataku berkat Al Quran

وَسَهِّلْ عَلَيَّ حِفْظَهُ ثُمَّ دَرْسَهُ

"Dan mudahkanlah bagiku, menghafalkannya, lalu mempelajarinya.."

بِجَاهِ النّبِى وَالْاٰلِ ثُمَّ الّصَّحَابَةِ

"Dengan kedudukan mulia Sang Nabi, Keluarga beliau, dan para Sahabat Sang Nabi.

Jangan bangga dulu dengan Rizki yang berlimpah tetapi Tidak ada taat di dalamnya

Istidraj adalah suatu jebakan berupa kelapangan rezeki padahal yang diberi dalam keadaan terus menerus bermaksiat pada Allah.


Jadi, ketika Allah membiarkan kita :
1. Sengaja meninggalkan shalat.
2. Sengaja meninggalkan puasa.
3. Tidak ada perasaan berdosa ketika bermaksiat dan membuka aurat.
4. Berat untuk bershadaqah.
5. Merasa bangga dengan apa yang dimiliki.
6. Mengabaikan semua atau mungkin sebagian perintah Allah.
7. Menganggap enteng perintah-perintah Allah.
8. Merasa umurnya panjang dan menunda-nunda taubat.
9. Tidak mau menuntut ilmu syar'i.
10. Lupa akan kematian.

Tetapi Allah tetap memberikan kita :
1. Harta yang berlimpah.
2. Kesenangan terus menerus.
3. Dikagumi dan dipuja puji banyak orang.
4. Tidak pernah diberikan sakit.
5. Tidak pernah diberikan musibah.
6. Hidupnya aman-aman saja.

Hati-hati karena semuanya itu adalah ISTIDRAJ..

Ini merupakan bentuk kesengajaan dan pembiaran yang dilakukan Allah pada hambaNya yang sengaja berpaling dari perintah-perintah Allah, Allah menunda segala bentuk azabNya.

Allah membiarkan hamba tersebut semakin lalai dan semakin diperbudak dunia, Allah membuatnya lupa pada kematian.

Jangan dulu merasa aman, nyaman, tentram dengan hidup kita saat ini, seolah hidup kita penuh berkah dari Allah, lihat diri kita.


Bila semua kesenangan yang Allah titipkan tapi justru membuat kita semakin jauh dari Allah dan melupakan segala perintah-perintahNya bersiaplah untuk menantikan konsekuensinya, karena janji Allah itu Maha Benar.

Dari Ubah bin Amir radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﺇِﺫَﺍ ﺭَﺃَﻳْﺖَ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺗَﻌَﺎﻟﻰ ﻳُﻌْﻄِﻲ ﺍﻟْﻌَﺒْﺪَ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﻣَﺎ ﻳُﺤِﺐُّ ﻭَﻫُﻮَ 
ﻣُﻘِﻴﻢٌ ﻋَﻠَﻰ ﻣَﻌَﺎﺻِﻴﻪِ ﻓَﺈِﻧَّﻤَﺎ ﺫَﻟِﻚَ ﻣِﻨْﻪُ ﺍﺳْﺘِﺪْﺭَﺍﺝٌ

“Apabila Anda melihat Allah memberikan kenikmatan dunia kepada seorang hamba, sementara dia masih bergelimang dengan maksiat, maka itu hakikatnya adalah istidraj dari Allah.”

Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca firman Allah,

ﻓَﻠَﻤَّﺎ ﻧَﺴُﻮﺍ ﻣَﺎ ﺫُﻛِّﺮُﻭﺍ ﺑِﻪِ ﻓَﺘَﺤْﻨَﺎ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢْ ﺃَﺑْﻮَﺍﺏَ ﻛُﻞِّ ﺷَﻲْﺀٍ ﺣَﺘَّﻰ ﺇِﺫَﺍ ﻓَﺮِﺣُﻮﺍ ﺑِﻤَﺎ ﺃُﻭﺗُﻮﺍ ﺃَﺧَﺬْﻧَﺎﻫُﻢْ ﺑَﻐْﺘَﺔً ﻓَﺈِﺫَﺍ ﻫُﻢْ ﻣُﺒْﻠِﺴُﻮﻥَ

“Tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS. Al-An’am: 44)

Semoga bermanfaat.

Perbedaan Sehat dan Afiat


Bahasa al-Qur’an ada sehat dan ‘afiat. Keduanya memiliki makna yang berbeda. Sehat itu adalah berfungsinya anggota badan sesuai dengan tujuan diciptakannya anggota badan. ‘Afiat sendiri ada beberapa makna, antara lain adalah berfungsinya anggota badan sesuai dengan tujuan Allah menganugerahkan anggota badan, misal mata yang sehat bisa baca koran, tetapi mata itu tidak ‘afiat kalau digunakan untuk melihat hal-hal yang terlarang. Pengertian lain dari ‘afiat adalah perlindungan Allah kepada hamba-Nya sehingga terhindar dari bencana dan tipu daya. ‘Afiat bisa berkaitan dengan jasmani, rohani, dan juga pikiran.

Catatan Ringkas Tentang Alquran

Apabila ditanya anak/cucu tentang Al-Quran: (tanya jawab)

S : Berapa jumlah Surah dlm al-Quran?
J : 114 Surah

S : Berapa jumlah Juz dlm al-Quran?
J : 30 Juz

S : Berapa jumlah Hizb dlm al-Quran?
J : 60 Hizb

Dibolehkan "berbohong" dalam Islam

Kita sudah mengetahui bahwa bohong atau dusta adalah perbuatan tercela, bahkan perbuatan dosa besar. Bahaya dan dampak dari perbuatan itu pula sangat besar, tidak hanya bagi yang melakukannya, tetapi juga bagi orang lain, atau pihak yang dibohongi. Kalau setiap orang melakukan perbuatan bohong, maka kehidupan bermasyarakat menjadi kacau balau karena tidak ada lagi orang yang dapat dipercayai dan dapat diperpegangi perkataannya.

Namun demikian, perbuatan bohong itu pada kondisi tertentu dapat dibolehkan. Hal ini terlihat dari dua sabda Rasulullah saw, sebagai berikut:

Qori Internasional H. Fadhlan Zainuddin

Ini salah satu Bacaan Tilawah Qori Internasional yang berasal dari Indonesia. H. Fadhlan Zainuddin
Semoga bisa memberikan motivasi dan inspirasi buat teman-teman yang sedang mendalami ilmu tilawah Al-quran

Dahsyatnya Al-Quran

Allah berfirman:
"Kalau sekiranya Kami turunkan Al-Quran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir". [QS 59 Al-Hasyr ayat 21]

Silsilah Ajaran NU

Jangan Ragu dengan Ajaran NU, kerena Silsilah nya sampai kepada Rosul Muhammad SAW

Bahaya mengingat dunia di pagi hari

Barangsiapa bangun di pagi hari dan HANYA DUNIA yang dipikirkannya, sehingga seolah olah ia Tidak melihat Hak Allah di dalam dirinya 
( Shalat, Dzikir, Dakwah, Melaksanakan semua syariat Allah dll) maka Allah akan menanamkan 4 penyakit :

7 Maqam Tilawah Al-Qur'an: Bayyati, Shoba, Hijaz, Nahawand, Rast, Sikah, dan Jiharkah

>

Seni membaca Al-Qur'an dengan suara yang indah dikenal dalam tradisi tilawah dengan pembahasan nagham atau maqamat tilawah Al-Qur'an. Melalui maqam, seorang qari dapat mengembangkan variasi melodi bacaan sehingga tilawah terdengar indah, khusyuk, dan sesuai dengan karakter ayat yang dibaca.

Di Indonesia, tujuh maqam yang paling populer dalam pembelajaran seni tilawatil Qur'an adalah Bayyati, Shoba, Hijaz, Nahawand, Rast, Sikah, dan Jiharkah.

Namun, penggunaan maqam tidak boleh mengalahkan ketepatan bacaan. Tajwid, makhraj huruf, panjang-pendek bacaan, dan ketepatan lafaz tetap menjadi perhatian utama.

Taubat

Pernah ku mencinta sesuatu selain-Nya
Cinta yang dalam hingga terlupa
Cinta yang salah hingga ternoda
Cinta yang indah namun melena

Ku juga pernah berharap selain kepada-Nya

Makna dibalik Nama "Alquran"

Mengapa kitab suci umat Islam ini dinamai Al-Qur’an? Apa sesungguhnya makna dan filosofi di balik nama tersebut? Penamaan Al-Qur’an yang diberikan Allah pada kitab suci ini bukanlah tanpa makna dan alasan.

Penamaan demikian sesungguhnya ingin memberikan pesan penting kepada umat Islam bagaimana mereka semestinya melihat, mempersepsi dan berinteraksi dengan kitab suci ini. Memahami filosofi penamaan kitab suci ini, dengan kata lain, akan memberikan efek kesadaran bagaimana seharusnya kitab suci ini diperlakukan, dan bukan sekadar diyakini dalam hati dan dinyatakan secara verbal.

Hamba Yang Pelit / Kikir Terhadap Allah

di dalam hadits Qudsi Allah SWT menyebutkan bahwa orang yang tidak mempedulikan kebutuhan hambanya adalah orang yang tidak mempedulikan Allah SWT

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم « إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَا ابْنَ آدَمَ مَرِضْتُ فَلَمْ تَعُدْنِى. قَالَ يَا رَبِّ كَيْفَ أَعُودُكَ وَأَنْتَ رَبُّ الْعَالَمِينَ. قَالَ أَمَا عَلِمْتَ أَنَّ عَبْدِى فُلاَنًا مَرِضَ فَلَمْ تَعُدْهُ أَمَا عَلِمْتَ أَنَّكَ لَوْ عُدْتَهُ لَوَجَدْتَنِى عِنْدَهُ يَا ابْنَ آدَمَ اسْتَطْعَمْتُكَ فَلَمْ تُطْعِمْنِى. قَالَ يَا رَبِّ وَكَيْفَ أُطْعِمُكَ وَأَنْتَ رَبُّ الْعَالَمِينَ. قَالَ أَمَا عَلِمْتَ أَنَّهُ اسْتَطْعَمَكَ عَبْدِى فُلاَنٌ فَلَمْ تُطْعِمْهُ أَمَا عَلِمْتَ أَنَّكَ لَوْ أَطْعَمْتَهُ لَوَجَدْتَ ذَلِكَ عِنْدِى يَا ابْنَ آدَمَ اسْتَسْقَيْتُكَ فَلَمْ تَسْقِنِى. قَالَ يَا رَبِّ كَيْفَ أَسْقِيكَ وَأَنْتَ رَبُّ الْعَالَمِينَ قَالَ اسْتَسْقَاكَ عَبْدِى فُلاَنٌ فَلَمْ تَسْقِهِ أَمَا إِنَّكَ لَوْ سَقَيْتَهُ وَجَدْتَ ذَلِكَ عِنْدِى » 


Dari Abu Hurairoh ra, Rosulullah saw bersabda: “Sesungguhnya Allah swt berfirman pada hari kiamat: “Wahai anak adam! Aku sakit kenapa engkau tidak menjengukku, ia berkata:”Wahai Tuhanku, bagaimana mungkin aku menjengukmu, sedangkan engkau adalah Tuham semesta alam.” Allah berfirman: “Engkau tahu bahwa seorang hamba-Ku sakit di dunia akan tetapi engkau tidak menjenguknya, seandainya engkau menjenguknya sungguh engkau akan dapati Aku di sisinya.” Wahai anak adam, Aku meminta makan kepadamu, kenapa engkau tidak memberiku?” Orang itu berkata: “Wahai Tuhanku, bagaimana mungkin aku member-Mu makan, sedangkan engkau adalah Tuhan semesta alam? Allah berfirman: “Engkau mengetahui ada dari hamba-Ku yang kelaparan dan engkau tidak memberinya makan, sekiranya engkau memberinya makan, niscaya engkau dapati Aku di sisinya. Wahai anak adam Aku meminta minum padamu, sedang engkau enggan memberik-Ku minum.” Ia berkata: “Wahai Tuhanku, bagaimana aku memberi-Mu minum sedangkan Engkau adalah Tuhan semesta alam?” Allah menjawab: “Seseorang meminta minum padamu dan engkau tak memberinya, sekiranya engkau memberinya minum niscaya engkau dapati Aku di sisinya.” (HR. Muslim)

Rahasia Tentang Cermin

المؤمن مرات المومنَ 

Almu’minu Miratul mukminin 
Seorang mukmin adalah cermin bagi mukmin lainnya (HR. At-thabbrani) 


Beberapa rahasia tentang cermin 

o Kualitas terbaik
Kaca termasuk barang yang dibuat dari pasir jenis yang terbaik apabila dibandingkan dengan barang barang lain yang dibuat dengan pasir juga , misalnya saja keramik dan perkakas lainnya. Untuk membuat cermin diperlukan pasir jenis terbaik dari yang terbaik. Apabila pasir yang digunakan kurang baik, maka cermin tidak akan bisa digunakan untuk bercermin karena tidak bisa memantukan pantulan yang sempurna sehingga gambar yang dihasilkan tidak tampak seperti yang aslinya. Seorang mukmin hendaknya menyadari bahwa ia adalah makhluk yang mulia dan termasuk manusia pilihan karena Allah telah memilihnya diantara jutaan manusia untuk menerima anugrah terbesar dari Allah yaitu anugrah Iman dan Islam
Kesadaran ini akan melahirkan sikap izah, bangga sebagai seorang mukmin, sikap waspada dan berhati hati untuk menjaga tutur kata dan perilakunya agar tidak sampai menurunkannya dari kemuliaan yang telah dianugrahkan kepadanya. Kesadaran ini juga akan melahirkan tindakan tindakan nyata untuk terus menerus melakukan perbaikan diri sehingga bisa mempertahankan kedudukannya bahkan semakin meninggikan kedudukan dan derajatnya di sisi Allah maupun di sisi manusia 

o Bermanfaat untuk semua orang
Cermin bisa kita dapatkan di setiap rumah yang menjadi tempat tinggal manusia, baik hotel mewah maupun gubug reot di bawah jembatan. Begitulah hendaknya seorang mukmin hendaklah diperlukan oleh semua orang dan memberikan kemanfaatan kepada semua orang tanpa membedakan status kedudukan mereka karena sebaik baiknya manusia adalah orang yang paling bermanfaat untuk orang lain. 

o Menasehati dengan bijak
Setiap orang yang bercermin pasti akan mengikuti apa yang yang menjadi nasihat sang cermin dan dengan segera melakukan apa yang menjadi arahannya. Apabila ia melihat dirinya di cermin dalam keadaan kurang rapi, atau ada kotoran di badan atau di pakainnya, atau rambutnya acak acakan, ia langsung merapikannya dengan segera dan sama sekali tidak tersinggung atau marah kepada cermin yang telah menunjukan kekurangannya. Oleh karena itu, setiap muk’min hendaknya meneladani sang cermin dalam memberi nasihat dan arahan kepada orang lain.
Ia harus memperhatikan adab adab dalam memberikan nasihat. Jangan menasehati dengan kata kata kasar dan dengan menjelek jelekan orang yang dinasehati, karena dia akan tersinggung dan menyebabkan penolakan atas nasihat tersebut, bahkan akan berlaku kasar karena merasa harga dirinya telah dinodai. 

o Menjaga rahasia
Cermin tidak pernah membuka rahasia siapa pun orang yang berdiri di depannya. Dia tidak pernah mengatakan kepada orang yang bercermin “Apakah engkau dikenal fulan bin fulan? Tadi saya sebenarnya merasa muak dengan penampilannya, saya mau muntah mencium bau badannya”. Begitu juga hendaklah seorang mukmin.
Dia hendaknya menjaga rahasia saudaranya dan menutup aibnya, karena dia menyadari sabda Rasulullah s.a.w yang artinya “Barang siapa menutupi aib seorang muslim maka Allah akan menutupi aibnya baik di dunia maupun di akhirat.” (HR. Muslim) 

o Bersikap jujur
Cermin tidak pernah berkata bohong kepada orang yang bercermin di hadapannya, kalau orang yang dihadapannya itu berpenampilan rapi maka ia akan menampilkan bayangan yang rapi pula. Demikian juga sebaliknya. Demikian jugalah hendaknya seorang mukmin akan senantiasa berkata jujur kepada siapa pun dan dimanan pun, kecuali ketika berada di medan perang dan mendamaikan kedua pihak yang bersiteru. 

o Memerlukan orang lain untuk membersihkan dan menjaganya
Betapapun cermin memiliki berbagai sifat kebaikan, namun ia juga memilki kekurangan. Ia akan pecah kalau tidak dijaga dan dilindungi. Ia akan kotor berdebu kalau tidak dibersihkan secara rutin oleh orang yang memakainya.
Jadi sehebat apapun seorang mukmin masih memerlukan nasihat dan sumbangan pikiran dari orang lain.

Hikmah Perbedaan Waktu Shalat

“Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman”. (QS. An-Nisaa’: 103)

Allah swt. menyampaikan perintah shalat kepada Nabi Muhammad saw. ketika peristiwa Isra dan Mi’raj, dengan lima waktu yang berbeda-beda dalam sehari semalam. Yaitu ketika tampak fajar di bawah ufuk sebelah timur (Subuh), ketika tergelincirnya matahari (Zuhur), ketika panjang bayang-bayang benda melebihi panjang benda itu sendiri (Ashar), ketika tenggelamnya matahari (Maghrib) dan ketika hilangnya mega merah (Isya’).

“ Dari perbedaan waktu shalat itu, jelas sekali bila Allah swt. selalu mengingatkan kita sebagai hamba-Nya agar menyembah Tuhan yang telah menciptakannya”. Dan hal tersebut ternyata mengandung hikmah besar yang sudah digali dan diteliti oleh beberapa Ilmuwan diantaranya : 

Sebuah Penelitian bersumber dari National Geographic 2002 Road to Mecca menyebutkan, Doktor Neurologi sekaligus Muallaf asal Amerika Serikat, Dr. Fidelma menemukan beberapa urat saraf di dalam otak manusia yang tidak dimasuki oleh darah. Padahal setiap inci otak Manusia memerlukan darah yang cukup supaya otak berfungsi normal.

Darah tersebut akan memasuki urat saraf di dalam otak hanya di saat-saat tertentu, ketika seseorang melakukan shalat, yaitu ketika sujud. Dan Subhanallah, shalat yang dilaksanakan dalam lima waktu yang berbeda, adalah saat ketika urat saraf di otak kita tersebut memerlukan pasokan darah.

Selain mengandung hikmah dibalik penetapan waktu yang berbeda-beda, shalat juga mengandung efek positif bagi seluruh segi kehidupan manusia. Aspek tersebut mencakup; aspek kesehatan fisik, aspek kesehatan spiritual hingga aspek ekonomi seorang Muslim.

Orang yang disiplin shalat, Insya Allah akan memperoleh kelapangan rezeki, keberkahan harta. Cuma untuk menjamin kedisiplinan ini dibutuhkan sebuah amalan yang terjaga, yaitu menjaga wudhu setiap saat, membiasakan baca Al-Qur’an dan membiasakan hidup dalam Majelis Ta’lim/Majelis Ilmu Agama.

Tentang relasi disiplin shalat dengan aspek ekonomi seorang Muslim dikarenakan orang yang disiplin mengerjakan shalat tepat waktu akan memiliki etos kerja yang sangat tinggi. Jika kita tidak menghargai waktu, jangan berpikir etos kerja yang tinggi. Orang yang tidak menghargai waktu pasti orang yang sangat lalai. Artinya orang yang tidak mampu mengelola waktunya berarti etos kerjanya lemah.

KALKULASI PAHALA DENGAN MEMBACA AL QURAN

Rasulullah SAW Bersabda artinya : Barangsiapa yang membaca 50 ayat dalam sehari semalam, maka ia tidak dicatat sebagai seorang yang lalai. Barangsiapa yang membaca 100 ayat, maka ia dicatat sebagai orang yang qaniith taat. barangsiapa yang membaca 200 ayat maka ia tidak akan dibantah oleh al Qur-aan pada hari kiamat. Dan barang siapa yang membaca 500 ayat, maka dicatat baginya perbendaharaan harta berupa pahala (SHAHIIH li ghayrihi HR. Ibnus Sunniy, silsilah ash-shahiihah no. 642-643 sumber penomoran shahiih wa dhaiif al-adzkaar)

Marilah kita coba gabung misalnya dengan Jumlah membaca ayat al Qur-an harian berdasarkan hadits shahiih atau yang disunnahkan dibaca sehari bila kita hitung sbb :

1. Membaca ayat kursi 1 ayat
dibaca setiap selesai shalat [total 5x], pagi [1x] dan petang [1x], sebelum tidur malam [1x] [totalnya 8]

2. Al-ikhlash, al-falaq dan an-Naas [total 15 ayat] Dibaca masing-masing SEKALI setiap selesai shalat [5x15 = 75], pagi petang (masing-masing 3x) [2 x (3x15) = 2 x 45 = 90], sebelum tidur (dibaca secara berurutan 3x) [45] [total 210]

3. Ali Imran 190-200 [10 ayat]
0dibaca ketika bangun tidur [10 ayat]
[total 10 ayat]

4. Al Baqarah 285-286 [2 ayat]
Dibaca ketika sebelum tidur [2 ayat]
[total 2 ayat]

5. Surat as-Sajadah [30 ayat] dan Surat al-Mulk [30 ayat]; total [60 ayat]
Dibaca ketika sebelum tidur [60 ayat]

TOTAL POINT = 290

Nah untuk ini saja totalnya sudah, 290 ayat yang kita baca dalam sehari semalam. Maka kita tinggal memerlukan 210 ayat (dan ini kira-kira setara dengan satu juz, lebih sedikit) al Qur-aan untuk mencapai 500 ayat sehingga kita bisa dicatat pembendaharaan harta berupa pahala..

Marilah kita serius meraih keutamaan ini, jangan lupa standar baca Qurannya disertain dengan terjemahan dan tafsir, sebisanya barengan keluarga sambil membeli kitab tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Fiizilaalil Quran dll.

Sumber: Dunis Islam

Ada lima alasan yang membolehkan kita terburu-buru

العجلة من الشيطان
Terburu-buru itu berasalkan dari bisikan setan, kecuali dalam lima hal:
  1. Menghidangkan jamuan bila tamu telah datang.
  2. Menyegerakan pengurusan orang meninggal setelah nyata-nyata mennggal.
  3. Menikahkan anak gadis setelah baaligh.
  4. Melunasi hutang bila telah jatuh tempo.
  5. Bertaubat dari dosa ketika berbuat dosa.
Sumber: Hilyah al-Aulia Abu Nu'aim al-Ashbahani (8/78) dalam Subulussalaam.com

Memahami isi kandungan Qs al-Ashr

وَالْعَصْرِ ) 
إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍ ) 
إِلاَّ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْاوَعَمِلُواالصَّالِحَاتِ وَتَوَا صَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ) 

Artinya:  Demi masa (1) Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian (2) kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran (3). (QS: Al-Asar: 1-3) 

Ayat diatas menjelaskan kepada kita bahwa manusia itu akan rugi jika ia lalai terhadap waktu. ayat ini secara tegas menjelaskan bahwa bagi manusia yang tidak menghargai waktu untuk hal-hal yang bermanfaat niscaya manusia itu akan rugi. 

Ayat ini juga merupakan wahyu kesembilan yang diterima oleh nabi Muhammad SAW. Sedangkan wahyu yang sebelumnya adalah surat Alam Nasyrah. 

Imam Syafi’i menilai surat ini sebagai salah satu surat yang paling sempurna petunjuknya, beliau menyatakan; “seandainya ummat Islam memikirkan kandungan surat ini niscaya (petunjuk-petunjuknya) mencukupi mereka.” 

Dalam Al-quran jika kita melihat urutan penulisannya, surat ini terletak pada urutan ke-103, tepatnya setelah surat al-takasur dan sebelum surat al-humazah. Lalu apa kaitan antara surat ini dengan surat sebelumnya? Dalam surat at-takasur, Allah SWT memperingatkan manusia yang menjadikan seluruh aktifitasnya hanya berupa perlombaan menumpuk-numpuk harta, serta menghabiskan waktunya hanya untuk maksud tersebut, sehingga mereka lalai akan tujuan utama dari kehidupan ini, yaitu untuk menghambahkan diri kepadanya. Sedangkan pada surat ini (al-Asahr) Allah memperingatkan tentang pentingnya waktu dan bagaimana seharusnya kita isi waktu tersebut supaya lebih bermanfaat dan mendapat ridho Allah tentunya. 

Kemudian jika kita perhatikan surat ini dimulai dengan huruf sumpah(والعصر) yang bermakna “Demi masa”. Para ulama sepakat kata (العصر) pada ayat pertama pada surat ini, dengan makna waktu, namum mereka tetap berbeda pendapat tentang waktu yang dimaksud. 

Pendapat-pendapat itu antara lain: 
1. Waktu atau masa dimana langkah dan gerak tertampung di dalamnya. 
2. Waktu tertentu, yakni waktu dimana sholat ashar dapat dilaksanakan. 
3. Saat sholat ashar dilaksanakan 
4. Waktu atau masa kehadiran Nabi Muhammad SAW dalam pentas kehidupan ini. 

Apa yang Allah maksudkan, sehingga pada awal surat tersebut Allah bersumpah “Demi waktu”. Menurut Abduh: “telah terjadi kebiasaan orang-orang Arab pada masanya turunnya Al-quran untuk berkumpul dan berbincang-bincang menyangkut berbagai hal, dan tidak jarang dalam perbincangan mereka itu terlontar kata-kata yang mempersalahkan waktu atau masa. “ waktu sial” demikian sering kali ucapan yang tersdengar dari mulut mereka bila mereka gagal, atau “waktu keberuntungan” jika mereka berhasil. 

Hal yang demikian dalam ajaran Islam dilarang, kerena dalam ajaran Islam tidak ada yang namanya “waktu sial” atau “waktu keberuntungan” semua waktu itu sama. Yang berpengarauh adalah kebaikan dan keburukan seseorang dalam berusaha, maupun dalam aktivitas yang mereka kerjakan, dan inilah yang berperan baik (beruntung) atau buruknya (sial) kesudahan suatu pekerjaan, kerena waktu itu bersifat tidak memihak kepada kebaikan maupun kepada keburukan. 

Waktu adalah milik Tuhan, di dalamnya Tuhan melaksanakan segala perbuatan-Nya, seperti; menciptakan dunia beserta isinya, memberi rizki makhluk-makhluknya, memuliakan dan menghinakan. Nah, berarti kalau demikian adanya, waktu itu tidak perlu kita kutuk, ataupun kita sebut waktu membawa keberuntungan atau juga kesialan. Janganlah mencerca waktu, kerena Allah adalah pemilik waktu, jika kita menghina waktu berarti sama saja kita telah menghina yang menciptakan waktu tersebut yakni Allah SWT. 

Di atas telah disinggung bahwa orang yang tidak bisa memanfaatkan waktu secara maksimal maka orang itu akan merugi, kerugian itu mungkin tidak akan kita rasakan pada waktu dini, tetapi pasti akan kita sadarinya ketika pada waktu tua nantinya. Kita sering menemukan atau mendengarkan orang bilang kalau dia sangat menyesal telah menyia-nyiakan waktu mudahnya dengan hal yang tidak bermanfaat, mari kita jadikan itu semua sebagai contoh untuk kita lebih berhati-hati dalam memanfaatkan waktu. Kerena waktu itu tidak akan pernah kembali. 

Pada ayat kedua pada surat al-ashr diatas menyebutkan bahwa “manusia berada dalam kerugian”. Kerugian itu seakan-akan menjadi suatu tempat/wadah, dan manusia berada olah wadah tersebut. Yang dimaksud ayat di atas mengandung arti bahwa manusia berada dalam kerugian total, tidak ada satu sisi dari diri dan usahanya yang luput dari kerugian; dan kerugian itu, amat besar bagi mereka, maka timbul pertanyaan mengapa demikian? 

Kalau kita kembali kepada makna ayat pertama “Demi masa” serta kaitannya dengan ayat kedua “sesungguhnya manusia berada di dalam kerugian” maka kita akan mengetahui bahwa waktu itu merupakan modal utama manusia. Apabila waktu itu tidak diisi dengan kegiatan yang positif, maka waktu itu akan berlalu begitu saja; ia akan hilang meninggalkan kita. Dan ketika itu, jangankan keuntungan yang diperoleh, modal awal saja sudah hilang. 

Sayyidina Ali r.a. pernah berkata: 
Rezeki yang tidak diperoleh hari ini masih dapat diharapkan lebih dari itu diperoleh esok, tetapi waktu yang berlalu hari ini tidak mungkin dapat diharapkan kembali esok hari. 

Sejalan dengan ungkapan diatas, ada sebuah riwayat yang menyatakan: 
Tidak terbitnya suatu fajar kecuali seseorang (malaikat) berseru: “wahai putra-putri Adam, aku adalah mahkluk baru, aku menjadi saksi atas usaha-usahamu. Ambillah keuntungan (gunakanlah aku) kerena aku tidak akan kembali lagi hingga hari kemudian.” 

Kalau demikian, waktu harus dimanfaatkan sebaik mungkin kerena apabila tidak kita isi dengan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat maka kita akan rugi, janganlah sekali-kali kita isi dengan kegiatan yang tidak bermanfaat (negatif), jika hal yang demikian yang selalu kita perhatikan niscaya kita tidak akan merasa rugi (penyesalan) nantinya. 

Disinilah terlihat kaitan antara ayat pertama dengan ayat kedua, dan dari sini pula ditemukan sekian banyak hadits Nabi SAW. Yang memperingatkan manusia agar mempergunakan waktu dan mengaturnya sebaik mungkin. 

Dalam suatu riwayat disebutkan: 
“Dua nikmat yang sering dilupakan (disia-siakan) oleh manusia, yakni; kesehatan dan waktu.” 

Di dalam riwayat lain Nabi bersabda: 
“Bagi yang berakal, selama akalnya belum lagi terkalahkan (gila)berkewajiban mengatur waktu-waktunya. Ada waktu yang digunakan untuk bermunajat (berdialog dengan Tuhannya, ada pula untuk berfikir menyangkut penciptaan langit dan bumi (belajar), ada pula untuk melakukan evaluasi (intropeksi) terhadap dirinya, dan ada pula yang di khususkan untuk diri dan keluarganya guna memenuhi kebutuhan makan dan minumnya.” 

Semua munusia diliputi oleh kerugian yang besar dan beraneka ragam, demikian pula ayat kedua menyebutkan. Kemudian pada ayat ketiga dijelaskan bahwa yang tidak akan merugi adalah orang yang memiliki empat sifat yang dijelaskan pada ayat ketiga, yakni; 

a. Orang yang beriman 
b. Orang yang beramal shaleh 
c. Orang yang saling berwasiat (menasihat) tentang kebenaran; dan 
d. Orang yang saling berwasiat (menasihat) tentang kesabaran/ketabahan. 


· Pengertian iman 
Iman itu bisa kita artikan “pembenaran” tentu pembenaran disini masih bersifat umum. Pembenaran yang kita maksudkan adalah pembenaran hati terhadapa apa yang didengar oleh telinga dan dibenarkan pula oleh anggota badan. Dan juga pembenaran yang disampaikan oleh Nabi SAW . dimana telah kita ketahui rukun iman yang enam itu: 

a. Beriman (membenarkan) akan keesaan Allah. 
b. Beriman (membenarkan) adanya Malaikat. 
c. Beriman (membenarkan) kitab-kitab suci. 
d. Beriman (membenarkan) kepada nabi/Rosul Allah. 
e. Beriman (membenarkan) kepada Hari Kemudian (Akhirat) 
f. Beriman (membenarkan) kepada ketentuan baik dan buruk 

Setelah kita mengenal tentang rukun-rukkun iman tersebut, kita akan bisa membedakan peringkat dan kekuatan iman yang ada pada diri kita, bahkan kita dapat mengukur apakh iman kita sedang bertyambah ataupun berkurang (الإيمان يزيد وينقص) demikian lah yang purlu kita ketahui bahwa iman seseorang itu bisa bertambang dan berkurang. 

Sayyidina Ali k.w (karromallahu wajhah) pernah ditanya oleh seorang sahabatnya bernama Zi’li Al-Yamani: 
Apakah Anda pernah melihat Tuhan anda? 
Lalu Ali menjawab: bagaimana saya menyembah sesuatu yang tidak saya lihat. 
Orang itu bertanya lagi: bagaimana Anda melihatnya? 

Imam Ali menjawab: Allah tidak bisa dilihat dengan pandangan mata, tetapi dapat dijangkau oleh pandangan hati dengan hakikat keimanan. 

Iman sangat sulit digambarkan hakikatnya; ia dirasakan oleh seseorang, tetapi sulit baginya melukiskan perasaan itu. Kerena itu sangat erat kaitannya dengan keyaqinan yang ada dalam diri kita (hati) 

Iman itu bagaikan rasa kagum atau cinta (senang), hanya orang yang sedang mengalami rasa cinta yang bisa merasakannya, begitu juga dengan iman, jika kita tidak pernah merasakan kecintaan kepada Allah tentu bagaimana kita bisa melukiskan iman itu ada pada diri kita. 

Demikian gambaran tentang arti dan hakikat iman. Kemudian orang yang tidak akan merugi itu yang kedua adalah orang yang beramal shaleh (perbuatan baik) 

· Beramal shaleh 
Amal shaleh adalah pekerjaan yang apabila dilakukan, maka suatu kerusakan akan terhenti atau menjadi tiada; atau bisa juga diartikan sebagai suatu pekerjaan yang apabila dilkukan akan memperolah manfaat, bukan hanya pada dirinya, tapi bagi orang disekitarnya. 

Orang bisa disebut orang shaleh apabila aktivitasnya mengakibatkan terhindarnya mudharat, atau pekerjaannya memberikan manfaat kepada pihak lain, serta pekerjaannya tersebut sesuai dengan ajaran Islam, akal dan adat istiadat yang baik. Kerena apaupun perbuatan yang kita lakukan di dunia ini, semuanya akan kita pertanggungjawabkan dihadapan Allah nantinya, sebagaimana firman Allah: 

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ 
Artinya: 
Dan barang siapa yang mengamalkan sebesar biji sawi dari kebajikan niscaya ia akan mendapat (ganjaran)-nya (QS: Az-zalzalah; 7) 

Secara langsung al-Quran tidak menjelaskan secara tegas apa yang dimaksud dengan amal shaleh, tetapi apabila ditelusuri contoh-contoh yang ada, seperti kata (الفساد) yaitu kerusakan, yang merupakan lawan kata dari kebaikan. 

Jadi orang yang menghindarkan dari berbuat kerusakan atau menghindarkan diri dari berbuat kerusakan kesemuanya juga dinamakan orang shaleh. 

Seperti yang dijelaskan di dalam Al-quran tentang orang yang disebut berbuat kerusakan: 
1. Pengrusakan tumbuhan, generasi manusia dan keharmonisan lingkungan. (QS Al-Baqarah:205) 
2. Tidakmaunya menerima kebenaran (QS Ali-Imran:63) 
3. Perampokan, pembunuhan, dan gangguan keamanan (QS al-Maidah: 32) 
4. Pengurangan takaran, timbangan, dan hak-hak manusia (QS al-A’raf: 86) 
5. Usaha memecah-belah kesatuan (QS Al-anfal) 
6. Berfoya-foya dan bermewah-mewah (QS Hud: 115-116) 
7. Pemborosan (QS Asy-Syu’aro’:152) 
8. Makar dan penipuan (QS An-naml:49) 
9. Pengorbanan nilai-nilai agama (QS Ghafir:26) 
10. Keweneng-wenangan (QS Al-Fajr: 12) 

Usaha-usaha untuk mencegah hal yang disebut diatas merupakan bagian dari amal shaleh; semakin besar usaha tersebut maka semakin tinggi pula nilai kualitas keimanan manusia, begitu juga dengan sebaliknya. Tetapi harus kita ingat, bahwa amal shaleh itu harus dibarengi dengan sifat yang pertama yang telah kita bahas diatas yakni Iman, kerena tanpa iman kepada Allah SWT amal-amal ini akan menjadi sia-sia belaka, sebagaimana firman Allah SWT: 

وَقَدِمْنَآ اِلَى مَا عَمِلُوْا مَنْ عَمِلَ فَجَعَلْنَاهُ هَبَآءً مَنْـثُوْرًا 
Artinya: 
Dan kami dahapi segala amal (baik) yang mereka kerjakan, lalu kamu jadikan amal itu (bagaikan) debu yang bertebaran. (QS: Al-Furqan: 23) 

Dalam menghadapi kehidupan dunia ini, Al-quran memerintahkan manusia agar melakukan kebaikan, serta melarang melakukan kemungkaran maupun kerusakan. 

Apabila orang telah mampu melakukan amal shaleh disertai dengan iman, maka ia telah memenuhi kedua dari empat hal yang harus dipenuhinya dalam rangka membebaskan dirinya dari kerugian total. Namun sekali lagi harus perlu diingat, bahwa menghiasi diri dengan kedua hal tersebut, baru membebaskan kita dari setengah kerugian; kerena masih ada dua lagi yang harus kita miliki agar kita benar-benar selamat dan beruntung serta terhindar dari segala kerugian. 

· Saling menasihat kepada kebaikan 
Hal yang ketiga untuk menghindarkan diri dari hal yang merugi yaitu; saling berwasiat (menasehati kepada kebaikan). 

Wasiat (menasehati secara umum diartikan sebagai “menyuruh secara baik” dalam makna yang lain mewasiati adalah; tampil kepada orang lain dengan kata-kata yang halus agar yang bersangkutan bersedia melakukan sesuatu pekerjaan yang diharapkan darinya secara berkesinambungan. 

Dengan demikian wasiat (menasihati) dapat dipahami bahwa isi dari nasihat itu hendaknya dilakukan secara terus-menerus, bahkan mungkin juga yang menyampaikannya juga melakukannya secara terus-menerus dan tidak bosan-bosannya menyampaikan nasihat itu kepada yang dinasehati. 

Di dalam Al-quran kita bisa temukan tentang dua macam wasiat, yakni; 
Wasiat Allah SWT 
Wasiat Allah itu antara lain adalah: 
1. Pelaksanaan ajaran agama, serta bersatu padu dan juga tidak bercerai berai di dalamnya. 
2. Bertaqwa kepada-Nya (QS An-nisa; 131) 
3. Berbuat baik kepada kedua orang tua, khususnya kepada Ibu (QS Luqman: 14) 
4. Sepuluh hal yang disebutkan dalam surat Al-An’am: 
a. Jangan mempersekutukan Allah 
b. Berbuat baik kepada kedua orang tua 
c. Jangan membunuh anak 
d. Jangan mendekati zina, baik secara terang-terangan maupun dengan cara sembunyi-sembunyi 
e. Jangan membunuh seseorang kecuali secara sah dan dibenarkan oleh agama 
f. Jangan menyalahgunakan harta anak yatim apalagi memakannya 
g. Menyempurnakan takaran dan timbangan 
h. Percakapan atau sikap hendaknya dilakukan secara benar dan adil walaupun merugikan orang lain 
i. Memenuhi perjanjian-perjanjian. 

5. Beberapa perincian ajaran agama, seperti; 
a. Pembagian harta warisan (QS An-nisa’: 11) 
b. Shalat dan zakat (QS maryam: 31) 

Wasiat para Nabi 
Secara tidak langsung nabi Ibrahim dan nabi Ya’kub a.s. mewasiatkan agar berpegang teguh pada ajaran-ajaran agam, berusaha mengamalkannya secara terus-menerus, agar seseorang tidak dijumpai oleh kematian kecuali dalam keadaan menganut dan mengamalkan ajaran Islam, sebagaimana dijelaskan dalam Al-quran: 
Artinya: 
dan Ibrahim telah Mewasiatkan Ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya'qub. (Ibrahim berkata): "Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, Maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam". 

Demikianlah wasiat-wasiat yang dijelaskan oleh Al-quran yang tentunya merupakan wasiat kepada kebenaran, yang merupakan kandungan dari surat al-Ashr ayat tiga diatas. 

Hal yang ketiga ini menggambarkan bahwa seseorang berkewajiban untuk mendengarkan kebenaran dari orang lain, serta mengajarkannya kepada orang lain. Kita belum bisa dikatakan terlepas dari kerugian bila sekedar beriman, beramal shaleh, dan mengetahui kebenaran hanya untuk diri kita sendiri, tapi kebenaran yang kita ketahui seharusnya kita ajarkan (sampaikan) kepada orang lain, kerena ini merupakan kewajiban. 

· Saling menasihat kepada kebenaran 
Hal yag keempat atau yang terakhir dari penjelasan ayat al-ashr diatas yakni saling mewasiati (menasehati) kepada kesabaran. 

Sabar adalah “menahan kehendak hawa nafsu demi mencapai sesuatu yang baik atau lebih baik”.Di dalam Al-quran bila kita amati, ternyata kebajikan dan kedudukan tertinggi diperoleh manusia kerena kesabarannya. Sebagaiman dijelaskan dalam Al-quran: 

وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ اَئِمَّةً يَهْدُوْنَ بِاَمْرِنَا لمَـَّا صَبَرُوْا 
Artinya: 
Dan kami jadikan di antara mereka, pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah kami ketika mereka bersabar. (QS As-sajadah:24) 

Dalam ayat yang lain Allah menjelaskan: 

إِنَّمَـا يُوَفَّى الصَّا بِرُوْنَ اَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ 
Artinya: 
Sesungguhnya hanya orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas. (QS Az-zumar: 10) 

Dari ayat diatas dapat dipahami bahwa terdapat bermacam-macam kesabaran yang diharapkan ada pada diri manusia. Secara umum kesabaran dapat dibagi dalam dua bagian; sabar jasmani dan kesabaran rohani. 

1. Sabar jasmani 
Sabar jasmani adalah kesabaran dalam menerima dan melaksanakan perintah-perintah keagamaan yang melibatkan anggota tubuh, seperti sabar dalam melaksanakan ibadah haji yang mengakibatkan keletihan, atau sabar dalam peperangan dalam membela kebenaran. Termasuk pula sabar dalam menerima cobaan yang menimpah jasmani, seperti; penyakit, penganiayaan dari orang lain dan semacamnya. 

2. Sabar rohani 
Sabar rohani adalah yang menyangkut kemampuan menahan kehendak hawa nafsu yang dapat mengantar kepada kejelekan, seperti; sabar dalam menahan amarah, dan juga sabar dalam menahan hawa nafsu seksual. 

Wasiat diatas mengandung makna bahwa kita dituntut, disamping mengembangkan kebenaran pada diri kita masing-masing, kita juga dituntut untuk mengembangkan pada diri orang lain. Kerena manusia itu bukan hanya sebagai makhluk individu, tetapi kita juga harus ingat bahwa kita ini makhluk sosial. 

Kita dituntut untuk memperhatikan teman disekeliling kita, sebagaimana teman kita juga diwajibkan untuk memperhatikan kita. Kita manusia ini saling berkewajiban untuk saling mengingatkan kepeda kebenaran dan kebaikan. Kita semua adalah satu kesatuan, tolong menolong dalam satu perjuangan serta saling mendukung, kerena jika hal itu tidak ada niscaya kita akan rugi, bukan hanya diri kita sendiri, tapi orang lain juga. 

Rosul telah menggambarkan keadaan ummat seperti keadaan penumpang perahu (kapal), apabila penumpang yang ada di geladak kapal menimbahkan air dengan membocorkan perahu, sedangkan penumpang yang lain membiarkannya, maka sudah dapat dipastikan perahu akan kemasukan air dan tenggelam; dan ketika itu yang tenggelam bukan hanya yang membocorkannya, tetapi semua penumpang yang ada di dalamnya. 

Di dalam surat al-ashr ini secara keseluruhan berpesan agar seseorang itu tidak hanya mengandalkan imannya saja, tetapi amal shaleh, bahkan amal shaleh dan imanpun belum cukup, kerena kita masih punya kewajiaban yakni; seling memberi wasiat (nasihat) kepada kebenaran dan kesabaran kepada sesama kita. 

Dalam rangka memperolah kebaikan itu dibutuhkan peningkatan pengetahuan dan dalam rangka memperolah pengetahuan kita dituntut untuk bersabar dan ketabahan. 

Iman dan amal shaleh tanpa ilmu pengetahuan belum juga cukup, sebagaimana dijelaskan oleh Murthada Muthahhary: “ilmu memberi kekuatan yang menerangi jalan kita dan iman menumbuhkan harapan dan dorongan bagi jiwa kita. Ilmu menciptakan alat-alat produksi, sedangkan iman menetapkan haluan yang dituju serta memelihara kehendak yang suci. Ilmu dan iman keduanya merupakan kekuatan; kekuatan ilmu terpisah, sedangkan kekuatan iman menyatu. Keduanya adalah keindahan dan hiasan; ilmu adalah keindahan aqal, sedangkan iman keindahan jiwa; ilmu hiasan fikiran dan iman hiasan perasaan. Keduanya menghasilkan ketenangan, ketenangan lahir akan kita dapatkan dari ilmu, dan ketenangan batin oleh iman. Ilmu memelihara manusia dari penyakit-penyakit jasmani dan malahpetaka duniawi, sedangkan iman memeliharanya dari penyakit-penyakit ruhani dan kejiwaan serta malapetaka ukhrawi. Ilmu akan menyesuaikan manusia dengan diri dan lingkungannya, sedangkan iman menyesuaikannya dengan jati dirinya.”