Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2012

TUHANNYA PARA SUFI

Oleh: Prof. Mulyadi Kartanegara
Seperti halnya konsep wujud, konsep Tuhan para sufi khususnya yang hidup paska Ibn 'Arabi (w. 1240)--juga akan terasa asing bagi telinga kita. Meskipun begitu, konsep Tuhan mereka mungkin bermanfaat untuk meluaskan cakrawala pemahaman kita, dan bahkan bisa menjadi pemersatu bagi konsep Tuhan para teolog (Mutakallimun) dan filosof Muslim (falasifah), yang kelihatan begitu bertolak belakang, seperti yang tercermin dalam kitab al-Ghazali (w. 1111), Tahafut al-Falasifah.

Para sufi falsafi melihat Tuhan dalam dua wajah. Tuhan sebagai zat atau esensi yang transenden dan Tuhan yang diekspresikan dalam sifat-sifat atau nama-nama-Nya. Tuhan sebagai zat amatlah tingginya. Ia tidak bisa dilukiskan bagaimana dan tidak ada pengetahuan positif apapun tentangnya, kecuali keberadaan-Nya. Apa yang dapat kita ketahui tenang-Nya adalah bahwa Ia tidak sama dengan apapun selain-Nya (laysa kamitslihi syai') dan bahkan tiada yang setara dengan-Nya suatu apapun (walam yakun lahu kufuwwan ahad). Inilah yang oleh para filosof disebut teologi negatif, di mana manusia hanya mengetahui Tuhan secara negatif bahwa Ia berbeda dengan apapun yang dapat kita bayangkan. 

Ini terjadi seperti itu, menurut para sufi--khususnya Ibn 'Arabai dan para pengikutnya--karena dalam level ini Tuhan belum lagi menjadi entitas (ghayr muta'ayyan). Pada tingkat ini Tuhan bahkan belum lagi bersifat personal dan belum pula memiliki nama termasuk Allah sekalipun. Tuhan pada level ini belum mempunyai kaitan apapun dengan alam. Inilah yang dimaksud dengan ayat al-Qur'an yang mengatakan "inna Allaha ghaniyy 'an al-'alamin" yang artinya, "sesungguhnya Allah independen dari segala alam." Pada tahap ini, maka Allah tidak memikirkan yang lain kecuali dirin-Nya sendiri.

Inilah wajah Tuhan pada tingkat esensi atau zat. Dalam hal ini, para sufi berbagi konsep dengan para filosof, tetapi para sufi juga meiliki konsep Tuhan pada level berikutnya, yaitu kevel sifat atau tahap "ta'ayyun" (proses menjadi entitas). Pada tahap ini, Tuhan tidak lagi sebagi zat yang tidak dapat didekati, tetapi sudah bersifat personal dan bisa dikenal secara lebih positif. Dia telah menyebut diri-Nya Allah dan nama-nama lainnya yang dikenal dengan sebutan al-asma' al-husna atau "nama-nama yang indah." Dengan kata lain, Ia telah memiliki identitas. Konsep Tuhan pada tahap inilah yang pada umumnya kita kenal, yaitu Tuhan yang memiliki sifat-sifat tertentu. Konsep Tuhan seperti inilah yang biasanya dipahami dalam wacana teologis, tetapi bukan Tuhannya pada filosof. 

Tidak seperti pada tahap "ghayr muta'ayyan" di mana Tuhan tidak punya hubungan apapu dengan manusia, pada tahap atau level ini--level ta'ayyun--Dia telah membangun hubungan yang positif dan personal dengan manusia. Ia telah bisa menyapa manusia dengan seruan "wahai manusia" dan telah menyebut diri-Nya "Aku" atau "Kami" dan "kamu sekalian" untuk menyeru manusia yang diajak-Nya bicara. Pada tahap yang disebut para sufi sebagai "ta'ayyun" (proses menjadi entitas/sesuatu dari bukan sesuatu) inilah kita bisa mengenal Tuhan secara lebih positif lewat nama-nama atau sifat-sifat-Nya. Dengan kata lain, Tuhan pada tahap ini bukan lagi Tuhan yang jauh dan terpencil dari dunia dan kehidupan manusia, melainkan Tuhan yang akrab yang "mengetahui bahkan bisikan hati manusia" dan "yang lebih dekat kepada manusia daripada urat lehernya sendiri."

Meskipun pada tahap ini, konsep Tuhan para sufi mirip dengan konsep para teolog, namun sesungguhnya konsep mereka melangkah lebih jauh melampaui batas-batas yang bisa dibayangkan oleh para teolog. Di sini para sufi memandang bahwa sifat-sifat atau nama-nama Tuhan ini punya kaitan yang tidak bisa dipisahkan dari alam, terutama dengan manusia. Betapa tidak, karena menurut mereka, sifat-sifat Tuhan tersebut tidak lain daripada "prototipe" atau "arkrtipe" dari apapun yang ada di alam semesta. Mereka adalah semacam "ide-ide Platonik" yang bayang-bayangnya terdapat di alam semesta. Mereka laksana "bentuk" terhadap materi, atau jiwa, sebagai inti manusia, terhadap tubuhnya. Apapun yang ada di alam semesta adalah adalah manifestasi-manifestasi (tajlliyat) dari sifat-sifat Tuhan tersebut. Tidak ada suatu makhluk apapun di alam semesta ini yang tidak memiliki prototipenya dalam sifat-sifat Tuhan.

Itulah sebabnya banyak para sufi yang menyebut alam semesta sebagai cermin, dengan mana Tuhan melihat "gambar" diri-Nya. Setiap tingkat eksistensi makhluk mencerminkan sifat tertentu Tuhan. Semakin tinggi tingkat eksistensi suatu wujud, semakin banyak sifat Tuhan yang dapat dipantulkannya. Dan ini berpuncak pada diri manusia, yang merupakan makhluk yang terbaik bentuknya (ahsan al-taqwim). Pada dirinya--sebagai mikrokosmos--terpantul seluruh sifat Tuhan, ketika ia telah mencapai tingkat kesempurnaannya, yakni ketika ia mencapai derajat manusia palipurna (al-insan al-kamil).

Bagi saya konsep sufi yang memandang Tuhan dalam dua "wajah"--sebagai zat dan sifat--dapat menjadi solusi terhadap pertikaian konseptual antara kaum teolog (Mutakallimun) dan para filosof yang tak kinjung padam. Ini karena konsep Tuhan yang "jauh" dan "dingin" dari para filosof, di mana Tuhan dikatakan "tidak memikirkan yang lain kecuali diri-Nya" tak lain daripada konsep Tuhan para sufi pada tahap zat, sedangkan konsep Tuhan yang "hangat" dan "akrab" seperti yang dipertahankan oleh pata teolog, tak lain daripada Tuhannya para sufi pada tahap sifat (ta'ayyun), di mana Ia menyingkapkan identitas diri-Nya kepada manusia.[]

ALAM MAKNA (SPIRITUAL)

Oleh: Prof. Mulyadi Kartanegara
Yang dimaksud dengan kata makna di sini adalah spiritual sebagail awan dari material, karena itu alam makna, berarti alam spiritual. Alam makna atau alam spiritual ini, seperti disinggung di atas, terdiri antara lain dari entitas-entitas yang tetap (al-a'yan al-tsabitah)-- atau ada yang menyebutnya dengan realitas-realitas potensial,--dan realitas-realitas ontologis, atau dunia arketip (archetypal world). Marilah kita mulai dengan yang petama. Realitas-realitas potensial ini merujuk pada entitas-entitas yang masih tersembunyi dalam pengetahuan (pikiran) Tuhan, dan mereka biasanya dikontraskan dengan realitas-realitas eksternal (al-a'yan al-kharijiyyah) yang telah terlahir dalam bentuk-bentuk kongkrik yang kita sebut benda-benda lahiriah.

Realitas-realitas ini disebut potensial, hanya kalau dilihat dari kenyataan bahwa mereka belum mewujud dalam bentuk nyata atau dengan kata lain belum mengaktual dalam benda-benda yang ada (al-mawjudat). Meskipun begitu, menurut para sufi, realitas-realitas potensial ini pada dirinya sama aktualnya dengan benda-benda lahiriah. Itulah sebabnya, kedua modus realitas ini dalam bahasa Arab sama-sama dirujuk dengan kata "'ayn," jamaknya "a'yan," yang bisa diartikan entitas atau realitas-realitas (haqa'iq) atau sesuatu (syay'). Perbedaan keduanya hanya terletak pada kenyataan bahwa yang pertama masih berada dalam pengetahuan Tuhan yang bersifat tetap, sehingga disebut tsabitah, artinya tetap dan tidak berubah-ubah, sedangkan yang kedua sudah dikaruniai wujud kongkrit, sehingga disebut mawjudat, yang nampak pada kita sebagai benda-benda kongkrit. Dengan begitu, mengertilah kita bahwa bagi para sufi, realitas itu tidak hanya yang bersifat fisik, tatapi juga yang bersifat non-fisik seperti alam makna ini. Alam makna ini, seperti disinggung di atas, terdiri dari akal-akal, jiwa dan para malaikat yang bersifat immaterial (mujarradat). 

Kita sudah mendiskusikan dengan singkat realitas-realitas potensial sebagai salah satu "penghuni" dunia makna, adapun unsur kedua dari dunia makna atau spiritual ini adalah apa yang mungkin disebut sebagai entitas-entitas arketipikal (archetypical entities). Seperti ide-ide Platonian, entitas-entitas arketipikal adalah berbeda dengan ralitas-realitas potensial atau entitas-entitas yang tetap, karena dalam kaitannya dengan benda-benda kongkrit yang ada di dunia (mawjudat), mereka adalah semacam prototip-prototip ontologis. Dengan kata lain mereka adalah prinsip ontologis bagi mawjudat.

Berbeda dengan realitas-realitas potensial, yang disebut oleh para sufi sebagai "al-a'yan al-tsabitah," realitas-realitas arketipikal-ontologis mereka rujuk sebagai asma' (nama-nama) dan sifat, yakni nama-nama dan sifat-sifat Allah. Jadi bagi para sufi al-asma' al-husna (nama-nama yang indah) tidak lain daripada realitas-realitas arketipikal yang mengejawantah (bertajalli) dalam bentuk benda-benda kongkrit. Jadi apapun yang ada di dunia ini semuanya merupakan manifestasi atau penjelmaan dari sifat-sifat Tuhan.

Banyaknya benda yang kita jumpai di alam semesta ini menunjukkan bahwa sifat-sifat Tuhan pun amatlah banyaknya, bahkan tak terbatas. 99 nama indah itu adalah nama-nama utama yang masih punya "turunan" yang tak terhingga jumlahnya, namun yang 99 itupun sebenarnya masih berinduk pada nama-nama terbesar yaitu Kehidupan (al-Hayy) , Pengetahuan (al-'Ilm) Kehendak (al-Iradah) dan Kekuasaan (al-Qudrah). Dikatakan menginduk karena keempat nama utama tersebut kemudian dibagi ke dalam 99 atau 101 nama-nama ilahi. Pada gilirannya, nama-nama tersebut ini dibagi lagi ke dalam bagian-bagian yang tak terbatas jumlahnya. Bagian-bagian yang tak terbatas ini tidak lagi disebut nama, tetapi entitas-entitas arketipikal yang bertindak sebagai prinsip-prinsip atau sumber-sumber ontologis bagi semua wujud individual yang ada di dunia manifestasi. Sifat-sifat dan nama-namanya inilah yang oleh sebagian sufi dimaksud dengan "harta yang terpendam" (Kanz Makhfi) dalam hadis qudsi yang telah kita kutif dan jelaskan maksudnya di bab sebelum ini. Semoga bermanfat.[] 

TAUHID SUFISTIK

Oleh: Prof. Mulyadi Kartanegara
Tauhid atau kesesaan Tuhan telah ditafsirkan secara berbeda oleh para ahli. Karena itu, maka kita dapatkan tauhid dalam perspektif teologis, seperti yang tercermin dalam konsep "tanzih al-shifat" kaum Mu'tazilah; tauhid dalam perspektif filosofis yang menyatakan bahwa pada diri Tuhan esensi dan eksistensi adalah satu dan sama (identik). Demikian juga kita peroleh konsep tauhid dalam perspektif sufistik. Yang terakhir inilah yang akan menjadi perhatian utama kita dalam bagian ini. 

KESATUAN WUJUD

Oleh: Prof. Mulyadi Kartanegara
Bagi yang terbiasa dengan hanya penafsiran teologis, penafsiran sufistik tentang tauhid mungkin akan terasa aneh. Dalam bagian ini saya ingin mencoba sedikit menerangkan konsep yang tidak biasa ini. Konsep kesatuan wujud (Wahdat al-wujud) barangkali dapat memberi penjelasan yang lebih rinci tentang tauhid ala sufi ini.

Hubungan Malaikat dengan Manusia: 6 Tugas Malaikat Berdasarkan Al-Qur'an

Iman kepada malaikat merupakan salah satu bagian dari rukun iman. Malaikat adalah makhluk Allah yang tidak dapat kita lihat dengan pancaindra dalam keadaan biasa, tetapi keberadaan dan tugas-tugas mereka diterangkan dalam Al-Qur'an dan hadis.

Hubungan malaikat dengan manusia dapat dilihat dari berbagai tugas yang Allah berikan kepada mereka. Ada malaikat yang mencatat amal manusia, menjaga dengan perintah Allah, menyampaikan wahyu kepada para nabi, mendoakan orang-orang beriman, hingga bertugas mencabut nyawa.

Profil Fikri Almabrur: Pendidikan, Bahasa Arab, Kaligrafi, dan Aktivitas Digital

Abdullah Fikri, yang lebih dikenal di dunia maya dengan nama Fikri Almabrur, lahir di Bingin Teluk pada 10 Juni 1987. Ia merupakan anak keempat dari tujuh bersaudara dari pasangan Bapak Bakti Hasuan dan Ibu Tabahati Wahid.

Ia lahir dan tumbuh dalam keluarga petani. Pendidikan dasar ditempuh di desa kelahirannya, Bingin Teluk, Kecamatan Rawas Ilir, Kabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan, sebuah daerah yang dikenal dengan lingkungan persawahan dan perkebunan.

8 Teknik Mengajar Bahasa Arab yang Efektif dan Menyenangkan di Kelas

Mengajar Bahasa Arab tidak cukup hanya dengan menjelaskan kosakata dan kaidah kepada siswa. Guru perlu menciptakan proses pembelajaran yang membuat siswa mendengar, memahami, berlatih, bertanya, dan berani menggunakan Bahasa Arab secara bertahap.

Keberhasilan pembelajaran juga dipengaruhi oleh persiapan guru, pemilihan latihan, penggunaan Bahasa Arab di kelas, motivasi siswa, dan suasana belajar yang menyenangkan.

Berikut beberapa teknik yang dapat diterapkan guru dalam pembelajaran Bahasa Arab di kelas.

Nilai-nilai yang melanggengkan perkawinan

1.      Keseimbangan
Dalam Al-quran surat ar-rahman ayat 7-9 Allah menjelaskan, Artinya: 7. dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keadilan). 8. supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu. 9. dan Tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu.

Download Gratis Materi Bahasa Arab dan Pendidikan Islam: Sumber Legal dan Aman

Mencari materi Bahasa Arab dan Pendidikan Islam yang bisa diakses secara gratis memang mudah. Namun tidak semua file yang beredar di internet mempunyai izin distribusi yang jelas atau berasal dari sumber yang aman.

Halaman ini pertama kali dibuat sebagai kumpulan link download. Karena sejumlah link lama sudah tidak relevan dan status hak distribusi beberapa file tidak dapat dipastikan, halaman ini sekarang diperbarui menjadi daftar sumber belajar gratis, legal, dan lebih aman.

Alasan Mengapa Kita Tersenyum

1. Senyum itu ibadah
2. Anda terlihat lebih manis
3. Anda bisa mendapatkan senyum lagi.
4. Menunjukan keramahan Anda
5. Bisa mendapatkan teman baru
6. Memberikan kesan yang positif
7. Menjadikan Anda lebih ceria
8. Menjadikan Anda lebih percaya diri
9. Meringankan beban Anda
10.Mengaktifkan senyawa kimia yang membuat Anda lebih sehat.


Bagaimana jika kita sudah tersenyum tetapi tidak dibalas? Itu bukan
urusan Anda. Tetaplah tersenyum, karena Anda yang mendapatkan
manfaatnya.