Postingan

Menampilkan postingan dengan label Muhbib Abdul Wahab

Khutbah Jumat; Pendidikan Ramadhan

Jama'ah Jumat yang dirahmati oleh Allah SWT! 
Alhamdulillah, segala puji dan rasa syukur yang tidak terhingga marilah kita panjatkan hanya kepada Allah SWT, karena berkat rahmat dan kasih sayang-Nyalah kita dapat melewati hari-hari, malam-malam dan waktu-waktu yang utama di bulan suci Ramadhan. Kita bisa melaksanakan amal ibadah di bulan yang penuh berkah ini dengan rasa keimanan dan penuh harapan, sehingga mudah-mudahan kita termasuk mendapatkan rahmat dan ampunan-Nya, sehingga nantinya kita bisa mendapat predikat Taqwa. 

Sungguh berat rasanya meninggalkan bulan Ramadhan yang sebentar lagi akan meninggalkan kita, ingin rasa kita semua terus berada di bulan suci nan penuh berkah dan maghfirah ini. Kemuliaan dan keagungan Ramadhan itu memang membuat kita merasa berat hati untuk menginggalkannya, lebih-lebih karena kita tidak pernah tahu apakan Ramadhan yang akan datang masih bisa kita jumpai. 

Shalawat dan salam, marilah kita sampaikan kepada baginda Nabi Muhammad SAW, yang telah menyampaikan amanah dan risalah Ilahiyyah (ajaran Islam) dengan keteladanan yang luar biasa indah kepada umatnya, termasuk kita semua. Karena itu, sudah semestinya sebagai umatnya, kita berupaya semaksimal mungkin untuk selalu meneladani dan melanjutkan perjuangan beliau demi terwujudnya Islam rahmatan lil ‘alamin (Islam sebagai agama kasih sayang bagi semesta raya). 

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah SWT 
Ramadhan boleh saja berlalu, karena perjalanan waktu itu sebuah keniscayaan, namun kesan, pesan, dan hikmahnya harus tetap melekat dalam relung hati, nafas, gerak dan hidup setiap muslim. Allah SWT tidak semata menjadikan Ramadhan sebagai bulan yang di dalamnya ada kewajiban puasa, shalat sunnah tarawih, tadarus, tadabbur, i’tikaf, lailatul qadar, zakat, shadaqah, dzikir, dan ibadah-ibadahnya lainnya. Akan tetapi, Allah juga ingin memberikan pelajaran berharga kepada hamba-hamba-Nya berupa perasaan mendalam bahwa sejatinya kita sangat memerlukan dan membutuhkan ibadah, bukan sekedar taklif atau beban belaka. Manusia diperintahkan untuk beribadah bukan untuk kemaslahatan Allah SWT namun untuk kemaslahatan manusia itu sendiri. Amal ibadah yang kita laksanakan–baik yang wajib maupun yang sunnah- tidak akan mampu menambah singgasana Allah, begitu pula sebaliknya, jika kita semua tidak mau tunduk dan tidak mau beribadah kepada Allah SWT, tidak akan mampu mengurangi apalagi menjatuhkan singgasana Allah SWT itu. 

Dalam hadits Qudsi yang diriwayatkan oleh imam Muslim dari Abu Dzar Al-Ghifari, Nabi SAW bersabda, Allah SWT berfirman: “Wahai hamba-Ku, sekiranya seluruh manusia dan jin dari awal hingga akhir bertaqwa seperti ketakwaan orang yang paling bertaqwa di antara kalian, maka semua itu tidak akan menambah kerajaan-Ku sedikit pun. Wahai hamba-Ku, sekiranya seluruh manusia dan jin dari awal hingga akhir durhaka seperti durhakanya orang yang paling durhaka di antara kalian, maka hal itu juga tidak akan mengurangi kerajaan-Ku sedikit pun…. Wahai hamba-Ku, semua itu hanyalah amal kalian yang Aku pelihara dan catat untuk kalian, kemudian Aku kembalikan kepada kalian. Barangsiapa yang menerima balasan yang baik, maka hendaklah ia memuji Allah, dan barangsiapa yang menerima selain itu, hendaklah ia tidak menyalahkan selain dirinya sendiri.” (HR. Muslim) 

Karena itu, paket kurikulum ibadah Ramadhan yang telah kita laksanakan idealnya menjadi modal berharga bagi kita semua untuk lebih meningkatkan kualitas hidup kita ke depan, sekaligus memperkuat hubungan dan kedekatan kita dengan Allah SWT, sehingga kita betul-betul bisa merasakan nikmatnya beribadah kepada-Nya. 

Selama bulan Ramadhan terasa sekali bahwa Allah selalu “hadir” bersama kita. Kita juga merasakan sekali kedekatan kita dengan Allah. Situasinya memang sangat kondusif, sangat mendukung, dan luar biasa nikmat untuk kita selalu dekat dengan Allah. Sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim bahwa di bulan Ramadhan pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu. Persoalannya kemudian adalah “Bagaimana kita dapat mempertahankan dan bahkan meningkatkan amal ibadah kita setelah Ramadhan nanti? 

Yang pasti, hari-hari ke depan akan lebih sulit, terjal dan mendaki, dibandingkan dengan hari-hari di bulan Ramadhan. Karena itu, penting sekali bagi kita saat meniti jalan yang penuh godaan itu agar Allah selalu bersama kita. Dengan demikian kita selalu didukung Allah, ditolong, dibantu, dan diberikan petunjuk-Nya. Untuk itu, di samping bekal takwa yang sedang kita kejar dengan puasa Ramadhan, ada satu lagi modal untuk meraih kebersamaan Allah, yaitu kita harus berbuat ihsan, karena Allah SWT selalu menyertai orang yang bertaqwa dan berbuat ihsan (baik, mulia, terpuji), sebagaimana firman Allah SWT: 
إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُمْ مُحْسِنُونَ (سورة النحل: 128( 
Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan. (QS. an-Nahl/16:128) 
Kalau takwa itu merupakan modal moral, maka ihsan adalah modal operasional ketika kita beramal, modal dalam menjalankan segala aktivitas keseharian kita. 

Jamaah Jumat Rahimakumullah 
Bulan Ramadhan merupakan sebuah sistem pendidikan yang komprehensif dan efektif; baik pendidikan spiritual, pendidikan jasmani, pendidikan sosial, pendidikan kesehatan, pendidikan intelektual, pendidikan akhlak, pendidikan peradaban maupun perjuangan pada diri setiap Muslim yang berpuasa. 

Ibarat lembaga pendidikan atau pesantren, di dalam Ramadhan para pelajar/santri digembleng, dididik dan dibina secara ketat dan penuh disiplin, sehingga kelak setelah lulus dari lembaga tersebut menjadi alumni yang berintegritas tinggi, mumpuni, berprestasi dan unggul serta berdaya guna. Ketika mereka dididik dengan materi dan metodologi yang efektif, ditempa dengan pembinaan yang optimal dan kurikulum yang jelas, maka kelak mereka menjadi sosok pribadi yang memiliki integritas tinggi, tidak hanya memberikan kebaikan untuk dirinya sendiri, tetapi juga bermanfaat untuk keluarga, lingkungan disekitarnya, masyarakat dan bangsanya. Ramadhan memang didesain untuk membentuk insan yang shalih, insan yang baik, insan yang jujur, insan yang benar dan mulia 

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah 
Taqwa adalah modal, proses, dan pendidikan yang harus menjadi spirit perjuangan Muslim. Artinya, menjadi orang baik dan bertaqwa itu selalu berproses, berjenjang, dan berlangsung terus-menerus, tidak mengenal kata selesai. Taqwa sebagai modal hidup dapat dipahami dari firman Allah SWT sebagai berikut: 
وَتَزَوَّدُوا۟ فَإِنَّ خَيْرَ ٱلزَّادِ ٱلتَّقْوَىٰ وَٱتَّقُونِ يَٰٓأُو۟لِى ٱلْأَلْبَٰبِ ﴿ ١٩٧﴾ 
Bawalah bekal, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat! (QS. al-Baqarah: 197) 

Jamaah Jumat Rahimakumullah 
Sebagai kesimpulan, Mukmin yang Beruntung setelah mendapatkan pendidikan Ramadhan setidak-tidaknya memiliki kepribadian sebagai berikut. 
Pertama; Aqidah yang lurus bersih atau benar, yaitu seorang pribadi muslim yang selalu merujuk pada Al-Qur’an dan As-Sunnah, dan tidak meminta tolong pada makhluk halus seperti jin, meramal nasib pada dukun, dan sebagainya, Kedua; Ibadah yang benar, yaitu pribadi muslim yang berani dan bersemangat dalam belajar untuk kebaikan terutama dalam hal ibadah kepada Allah. Ketiga; memiliki Akhlaq yang mulia, diharapkan pribadi muslim memiliki sikap tidak asal ikut-ikutan), tidak mencaci-maki sesama makhluk Allah apalagi memfitnah, tidak mengadu domba, dan membicarakan orang lain, dan sebagainya. Keempat: menjadi Insan Yang mandiri, yaitu tercermin pada prilaku yang mandiri atau mampu berusaha baik, giat dalam bekerja dan rajin mencari nafkah, menjauhi riba’, menjauhi sumber penghasilan yang haram. Kelima; Bermuamalah yang dapat memberi manfaat, pribadi semacam ini akan Nampak dalam pergaulan sosial dan bermasyarakat selalu menjadi penyejuk disetiap keadaaan, bukan pemberi masalah dan bukan menambah masalah. 

Akhirnya, marilah kita jadikan bulan Ramadhan yang akan meninggalkan kita ini sebagai titik tolak dan modal mental-spiritual untuk perbaikan dan peningkatan kualitas diri menuju keshalihan secara pribadi, membangun kehidupan yang baik menuju keshalihan dalam berbagai hal. berbasis kejujuran, sehingga semua itu dapat membuahkan dan menghasilkan: “baldatun tayyibatun wa rabbun ghafur” (negeri yang makmur, dan dinaungi ampunan Allah SWT). 

Dan kita juga berharap, mudah-mudahan segala amal ibadah kita di bulan ramadhan ini diterima Allah SWT dan dicatat sebagai bekal kita diakhirat nanti. Dan juga kita berharap bisa dipanjangkan umur, sehingga kita bisa berjumpa lagi dengan bulan tahun depan. Aamiin2x ya Robbal ‘alamin 

Khutbah Jumat; Memaknai Makna Ramadhan

Hadirin sidang Jumat yang dirahmati Allah 
Marilah pada saat yang berbahagia ini, kita semua, untuk bersama-sama berusaha meningkatkan taqwa kita kepada Allah SWT. yakni dengan senantiasa bersungguh-sungguh dan sekaligus melaksanakan dengan sebaik-baiknya apa yang menjadi perintah Allah SWT dan berusaha meninggalkan apa yang menjadi larangan Allah SWT, sehingga kelak kita termasuk kedalam golongan hamba-hambaNya yang beruntung baik di dunia maupun di akhirat kelak, amin-amin ya rabbal ‘alamin. 

Hadirin Jamaah Jumat rohimakumullah 
Alhamdulillah Sekarang kita berjumpa lagi dengan bulan Suci Ramadhan, dan hari ini kita sudah memasuki hari yang keenam, ini berarti romadhan terus berjalan dan pada saatnya akan meninggalkan kita. Untuk lebih menganal bulan ramadhan ini mari kita pahami dulu apa itu bulan ramadhan?? 

Kata “Ramadhan” merupakan bentuk mashdar (infinitive) yang terambil dari kata ramidha-yarmadhu yang pada mulanya berarti: membakar, terik, atau sangat panas. Dinamakan demikian karena kebetulan saat ditetapkan sebagai bulan wajib berpuasa ini, udara atau cuaca di Jazirah Arabia sangat panas sehingga bisa membakar sesuatu yang kering. 

Adapun sesuatu yang dibakar bisa dua kemungkinan. Pertama, yang dibakar biasanya adalah sesuatu yang kotor; seperti sampah yang berserakan di pelataran rumah, yang setelah dikumpulkan lalu kita bakar. Biasanya, setelah itu pelataran rumah menjadi bersih. Atau kemungkinan yang kedua, sesuatu yang dibakar biasanya benda seperti besi. Oleh si pandai besi, besi dipanaskan lalu dibakar, besi kemudian memuai dan setelah itu mudah baginya untuk membentuk dan menciptakan apa pun sesuai seleranya. Bisa jadi besi tadi menjadi pisau, keris, pedang, atau yang lainnya. 

Hadirin Jamaah Jumat rohimakumullah 
Ramadhan dengan arti pembakaran, itu berarti yang kotor-kotor dari diri kita harus dibakar. Hidup kita kotor karena dosa dan kemaksiatan yang tumpuk-menumpuk. Pelataran kehidupan pun seperti dipenuhi oleh sampah-sampah kesalahan yang berserakan sehingga mengakibatkan ketidaknyamanan dalam hidup. Ramadhan datang, berarti kesempatan terbesar buat kita untuk membakar semua bentuk kesalahan dan dosa sehingga kehidupan menjadi bersih dan nyaman. Bahkan, dari proses pembakaran pada Ramadhan ini akhirnya bisa membentuk dan menciptakan diri kita sesuai selera kebaikan, yaitu insan yang bertakwa. Sebagaimana Firman Allah SWT di dalam Al-quran: 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ 

Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa. (QS al-Baqarah [2]: 183). 
Selain itu, Ramadhan juga berarti “mengasah”, karena masyarakat Jahiliyyah pada bulan Ramadhan mempunyai tradisi mengasah alat-alat perang (pedang, pisau, dan sebagainya) untuk menghadapi perang pada bulan berikutnya. Dengan demikian, Ramadhan dapat dimaknai sebagai bulan untuk “mengasah” jiwa, mengasah ketajaman pikiran dan kejernihan hati, sehingga dapat “membakar” sifat-sifat tercela dan “lemak-lemak dosa” yang ada dalam diri kita. 

Dengan berakhirnya ramadhan nanti kita menjadi tajam dalam beribadah dan taat kepada Allah SWT. Kerena telah sebulan penuh kita diasah untuk menjadi mukmin yang taat dan terbiasa menjalankan ibadah. 

Hadirin jamaah jumat yang dimuliakan Allah 
Ramadhan yang sedang kita jalani saat ini juga penting dimaknai dari perspektif nama-nama lain yang disandangkan kepadanya. Para ulama melabelkan sejumlah nama pada Ramadhan. 

Pertama, ramadhan disebut juga Syahr al-Qur’an (bulan al-Qur’an), karena di bulan Ramadhan al-Qur’an pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Selain itu, kitab-kitab suci yang lain: Zabur, Taurat, dan Injil, juga diturunkan di bulan ramadhan ini. Hal ini menunjukkan bahwa kita harus menjadi al-Qur’an sebagai “hidangan spiritual” kita. 

Dengan hadir ramadhan kita semakin giat membaca Alquran, dengan hadir ramadhan kita semakin gencar untuk mempelajari alquran, dan dengan hadirnya ramadhan kita bisa kembali mengingat bahwa Alquan merupakan kitab suci yang diberikan Allah SWT kepada ummat Muhammad SAW sebagai petunjuk kejalan yang lurus dan sebagai pedoman selama kita hidup didunia ini untuk selamat nanti diakhirat 

Kedua, Syahr al-Shiyam (bulan puasa wajib), karena hanya Ramadhan merupakan bulan di mana Muslim diwajibkan berpuasa selama sebulan penuh. Dan hanya Ramadhan, satu-satunya, nama bulan yang disebut dalam al-Qur’an, sebagaimana firman Allah SWT: 

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ 
“Bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). (QS Albaqarah/2: 185). 

Ketiga, Syahr al-Tilawah (bulan membaca al-Qur’an), karena di bulan ini Jibril AS menemui Nabi SAW untuk melakukan tadarus al-Qur’an beliau dari awal hingga akhir. Tadarus yang dicontohkan Nabi SAW tidak semata-mata membaca al-Qur’an secara verbal, melainkan juga perlu dibarengi dengan pemahaman dan pengamalan nyata. 

Keempat, Syahr al-Rahmah (bulan penuh limpahan rahmat dari Allah Swt.), karena Allah menurunkan aneka rahmat yang tidak dijumpai di luar bulan Ramadhan. Pintu-pintu kebaikan yang mengantarkan kepada surga dibuka lebar-lebar. Akses keburukan yang menjerumuskan kepada nereka ditutup. Amal kebaikan dilipatgandakan oleh Allah hingga takterbatas. Disediakan pula fasilitas I’tikaf dan paket lailatul qadar yang nilainya lebih baik dari seribu bulan. sebagaimana hadits yang diriwayatkan an-Nasa’i dari Abu Hurairah 

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَتَاكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ فَرَضَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَتُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ وَتُغَلُّ فِيهِ مَرْدَةُ الشَّيَاطِينِ لِلَّهِ. فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ 

Dari sahabat Abu Hurairah r.a. beliau berkata, bahwa Rasulullah telah bersabda : “Sungguh telah datang pada kalian bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah, yang mana pada bulan tersebut Allah SWT mewajibkan kalian untuk berpuasa. Pada bulan itu, pintu-pintu langit dibuka, sementara pintu-pintu neraka ditutup serta syaitan-syaitan dibelenggu. Pada bulan itu terdapat sebuah malam yang lebih baik dari seribu bulan.(HR. An-Nasa’i) 

Hadirin Jamaah Jumat rohimakumullah 
Kelima, Syahr al-Najat (bulan pembebasan dari siksa neraka). Disebut demikian, karena Allah SWT menjanjikan pengampunan dosa-dosa dan pembebesan diri kita dari siksa api neraka bagi yang berpuasa karena iman dan semata-mata mengharap ridha-Nya. Sebagaimana hadits Abu Hurairah radhiallahu’anhu, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: 

من صام رمضان إيمانا واحتسابا ، غفر له ما تقدم من ذنبه 

“Orang yang puasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu” (HR. Bukhari 

Keenam, Syahr al-’Id (bulan yang berujung/berakhir dengan hari raya). Ramadhan disambut dengan kegembiraan, dan diakhiri dengan perayaan idul fitri yang penuh kebahagiaan juga. Kemenangan dalam berhari raya tidak hanya dirasakan oleh mereka yang berpunya. Fakir miskin juga diharapkan merasakan hal yang sama, dengan diberikan zakat fitrah, sedekah dan lainnya, sebagai manifestasi dari sikap empati dan kesediaan berbagi kepada mereka untuk merasakan kebahagiaan. 

Ketujuh, Syahr al-Jud (bulan kedermawanan), karena di bulan ini umat Islam dianjurkan banyak bersedekah, terutama untuk meringankan beban fakir dan miskin. Nabi SAW memberi keteladanan terbaik sebagai orang yang paling dermawan di bulan suci. 

Kedelapan, Syahr al-Shabr (bulan kesabaran) karena puasa melatih seseorang untuk bersikap dan berperilaku sabar, berjiwa besar, dan tahan ujian. 

Kesembilan, Syahr Allah (bulan Allah) karena di dalamnya Allah melipat-gandakan pahala bagi orang berpuasa. 

Jadi, Ramadhan adalah bulan yang sangat sarat makna dan kesemua nama-nama Ramadhan itu bermuara kepada kemenangan, yaitu: kemenangan Muslim yang berpuasa dalam melawan hawa nafsu, melawan egoisme, keserakahan, dan ketidakjujuran. Sebagai bulan jihad, Ramadhan harus dimaknai dengan menunjukkan prestasi kinerja dan kesalehan individual maupun sosial. 

Jamaah jumat rohimakumullah 
Mudah-mudahan dari khutbah yang singkat ini, kita bisa mengambil makna dari semua perintah-perintah Ibadah dibulan ramadhan ini, sehingga kita bisa menjadi muslim yang taat dalam beribadah, bukan taat kerena dorongan lingkungan dan bukan juga taat kerena desakan dari rasa tidak enak kepada tetangga dan saudara. Mari kita meningkatkan amal kita supaya predikat taqwa bisa kita capai. Aamiin aamiin ya rabbal alamin

Kuat dan Amanah: Kriteria Pemimpin Ideal

Sesungguhnya orang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) atau menjadi pemimpin adalah orang yang kuat lagi amanah, dapat dipercaya (QS al-Qashash/28: 26)

Ayat tersebut mengisyarakat dua syarat utama orang yang layak menjadi pemimpin, yaitu kuat dan amanah. Tentu yang dimaksud dengan kuat bukan semata-mata fisik dan ekonomi, melainkan juga kuat mental spiritual, kuat iman, ilmu, dan amalnya.

Jika multikekuatan ini disinergikan dengan amanah (dapat dipercaya, memiliki integritas tinggi) maka akan melahirkan sosok pemimpin yang mampu membawa perubahan masyarakat ke arah lebih baik, maju, sejahtera, adil, dan bermartabat.

Dalam konteks ini, Rasulullah SAW merupakan figur pemimpin yang mampu menyinergikan kekuatan dan amanah itu. Di antara rahasia kesuksesan beliau dalam memimpin umat adalah lima modal kekuatan berikut.

Pertama, kekuatan Keteladanan akhlak. Sejak kecil Nabi SAW tidak pernah terlibat pelanggaran moral, tidak pernah minum minuman keras, tidak pernah bohong, tidak pernah korupsi, tidak pernah main perempuan, dan aneka akhlak tercela lainnya.

Akhlaknya yang luhur dan terpuji yang dicontohkan kepada keluarga, para sahabat, dan umatnya menjadi kekuatan maha dahsyat, sehingga beliau berhasil menjadi super leader, super manager, dan the greatest teacher.

Apa yang beliau ucapkan beliau laksanakan. Janjinya selalu ditepati. Rakyat beliau cintai, bukan dimanipulasi dan dibodohi. Beliau peduli dan suka berbagi kepada semua. Beliau tidak pernah menyakiti, membohongi dan menyengsarakan umatnya.

Di saat akan menghembuskan nafas terakhir, beliau masih menyatakan, “Ummati… ummati… ummati… ummati… ash-shalah… ash-shalah..” (Wahai umatku, [jangan lupakan] shalat, shalat, dan shalat).

Kedua, kekuatan komunikasi. Nabi SAW memiliki kemampuan berkomunikasi yang luar biasa efektif sehingga bisa memengaruhi kawan maupun lawan. Beliau ahli negosiasi, berorasi, memberi motivasi, dan menginspirasi umat.

Ketiga, kekuatan ilmu. Rasulullah SAW tentu memiliki ilmu luar biasa, karena guru dan sumber ilmu beliau langsung dari Allah SWT. Dengan ilmu dan petunjuk langsung dari Allah SWT, Nabi SAW menjadi pemimpin yang berhati-hati dalam menerima ide dan kritik.

Orang yang berilmu juga cenderung lebih terbuka dan toleran, mau bekerja sama dengan orang lain. Baginya, segala informasi yang ia dapatkan merupakan data yang dijadikan rujukan pertimbangan. 

Rasulullah SAW memimpin umat dengan ilmu dan petunjuk dari Allah sehingga umatnya pun diharuskan berlajar dan mengembangkan ilmu.

Keempat, kekuatan mental spiritual. Rasulullah SAW sangat menganjurkan setiap Muslim mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Kekuatan mental-spiritual yang tangguh membuat pribadi beliau juga sangat tangguh, tidak mudah mengeluh, tidak gampang curhat masalah pribadinya di hadapan rakyatnya, teguh pendirian, tegas dalam mengambil tindakan, dan tangkas selesaian masalah.

Di malam hari beliau beribadah, di siang hari beliau sering berpuasa. Kekuatan inilah yang menjadikan beliau dan para sahabatnya selalu merasa ada jalan dan solusi dalam berbagai situasi, sesulit apapun.

Kelima, kekuatan fisik. Rasulullah SAW termasuk orang paling sehat. Nyaris tidak pernah sakit, dan memiliki kekuatan fisik yang prima sepanjang hidupnya. 

Kelima kekuatan itu idealnya menjadi pemacu semangat kebangkitan moral bangsa ini menuju khaira ummah (umat terbaik) yang berperadaban.

Penulis : Muhbib Abdul Wahab

Perlukah Do'a "Khutbah Jumat" Digugat???

Postingan ini saya Ambil dari facebook Muhbib Abdul Wahab, kerena saya merasa tulisan ini sangat informatif buat kita sebagai dai mingguan untuk mengoreksi ulang yang sering disampaikan (dibacakan) kepada jamaah setiap jumat

Selamat Membaca dan yang terpenting merenungkan apa yang ada dalam tulisan dibawah ini;

Sejak kecil hingga sekarang, ketika mengikuti jum'atan sebagai mustami', saya tidak jarang mendengar khatib membaca doa berikut pada khutbah kedua menjelang khatib turun mimbar: Allahumma a'izza al-Islam wa al-Muslimin; wa ahliki al-kafarata wa al-musyirikin (Ya Allah, muliakan dan berdayakanlah Islam dan umatnya; dan binasakan (hancurkanlah) orang-orang kafir dan orang-orang musyrik). Doa ini barusan saya dengar langsung dr seorang khatib di masjid hotel Syahid Rich Yogyakarta.

Sepintas tampaknya tak ada "masalah" pada doa tersebut. Tetapi setelah direnung-renungkan kelihatannya doa yang kedua (wa ahliki al-kafarata wa al-musyrikin) tampaknya perlu digugat. Mengapa sudah didoain sedemikian sering dan sekian lama (sejak dulu) mereka kok tetap eksis dan malah lebih maju daripada kita, umat Islam? Jika faktanya demikian, berarti doa para khatib itu dari dulu sampai sekarang tidak diijabahi oleh Allah atau tidak maqbul. Kalau begitu, masih perlukah berdoa seperti itu???

Kalau saja Allah mengabulkan doa itu dan orang-orang kafir dan musyrik itu binasa dan tidak ada lagi di muka bumi ini, lantas kita naik apa (pesawat umumnya dibikin orang "kafir") jika menunaikan ibadah haji dan umarah? Para mahasiswa dan lainnya jangan-jangan tdk bisa ngenet dan berkomunikasi dg telpon seluler (bukankah komputer berikut jaringannya dan HP-HP yg kita pakai itu dibuat oleh mereka?)

Dari segi balaghahnya, doa tersebut jg tidak mencerminkan uslub thibaq atau muqabalah yang tepat, sehingga terasa "jomplang", baik dari segi fi'il amr yang digunakan (a'izza dan ahlik) maupun objeknya (yang satu Islam dan umaatnya, sedangkan yang kedua adalah orang-orang kafir dan musyrik, tanpa disebutkan agamanya). Setahu saya, doa ini bukan termasuk ma'tsurat atau berasal dari Nabi SAW. Jadi, perlu dilacak asal mula doa itu dan jika tidak relevan, maka tidak ada salahnya doa itu tidak usah dibacakan pada setiap jum'at.