Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2013

Keutamaan Bulan Sya'ban: Puasa Sunnah, Nisfu Sya'ban, dan Persiapan Menyambut Ramadan

Bulan Sya'ban adalah bulan kedelapan dalam kalender Hijriah, terletak di antara Rajab dan Ramadan. Bulan ini sering disebut sebagai salah satu waktu yang baik untuk memperbanyak ibadah dan mempersiapkan diri sebelum memasuki bulan Ramadan.

Salah satu amalan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang paling jelas riwayatnya pada bulan Sya'ban adalah memperbanyak puasa sunnah. Selain itu, terdapat pula beberapa riwayat tentang malam pertengahan Sya'ban yang menjadi bahan pembahasan para ulama.

KALKULASI PAHALA DENGAN MEMBACA AL QURAN

Rasulullah SAW Bersabda artinya : Barangsiapa yang membaca 50 ayat dalam sehari semalam, maka ia tidak dicatat sebagai seorang yang lalai. Barangsiapa yang membaca 100 ayat, maka ia dicatat sebagai orang yang qaniith taat. barangsiapa yang membaca 200 ayat maka ia tidak akan dibantah oleh al Qur-aan pada hari kiamat. Dan barang siapa yang membaca 500 ayat, maka dicatat baginya perbendaharaan harta berupa pahala (SHAHIIH li ghayrihi HR. Ibnus Sunniy, silsilah ash-shahiihah no. 642-643 sumber penomoran shahiih wa dhaiif al-adzkaar)

Marilah kita coba gabung misalnya dengan Jumlah membaca ayat al Qur-an harian berdasarkan hadits shahiih atau yang disunnahkan dibaca sehari bila kita hitung sbb :

1. Membaca ayat kursi 1 ayat
dibaca setiap selesai shalat [total 5x], pagi [1x] dan petang [1x], sebelum tidur malam [1x] [totalnya 8]

2. Al-ikhlash, al-falaq dan an-Naas [total 15 ayat] Dibaca masing-masing SEKALI setiap selesai shalat [5x15 = 75], pagi petang (masing-masing 3x) [2 x (3x15) = 2 x 45 = 90], sebelum tidur (dibaca secara berurutan 3x) [45] [total 210]

3. Ali Imran 190-200 [10 ayat]
0dibaca ketika bangun tidur [10 ayat]
[total 10 ayat]

4. Al Baqarah 285-286 [2 ayat]
Dibaca ketika sebelum tidur [2 ayat]
[total 2 ayat]

5. Surat as-Sajadah [30 ayat] dan Surat al-Mulk [30 ayat]; total [60 ayat]
Dibaca ketika sebelum tidur [60 ayat]

TOTAL POINT = 290

Nah untuk ini saja totalnya sudah, 290 ayat yang kita baca dalam sehari semalam. Maka kita tinggal memerlukan 210 ayat (dan ini kira-kira setara dengan satu juz, lebih sedikit) al Qur-aan untuk mencapai 500 ayat sehingga kita bisa dicatat pembendaharaan harta berupa pahala..

Marilah kita serius meraih keutamaan ini, jangan lupa standar baca Qurannya disertain dengan terjemahan dan tafsir, sebisanya barengan keluarga sambil membeli kitab tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Fiizilaalil Quran dll.

Sumber: Dunis Islam

Inilah Keutamaan Bulan Sya’ban

Malam ini kita memasuki bulan Sya’ban 1434 H. Bulan Sya’ban yang terletak diantara bulan Rajab dan Ramadhan sering kali dilalaikan oleh banyak orang. Padahal, ada beberapa keutamaan bulan Sya’banyang semestinya dimanfaatkan dengan baik oleh kaum muslimin.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ
Ini adalah bulan yang dilalaikan oleh kebanyakan manusia, yaitu antara bulan Rajab dan Ramadhan. (HR. An-Nasa'i. "Hasan" menurut Al-Albani)

Berikut ini Keutamaan Bulan Sya’ban sebagaimana dijelaskan dalam hadits-hadits Nabi :
1. Bulan Sya’ban bulan diangkatnya amal manusia
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam kelanjutan hadits di atas:
وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِي
Di bulan inilah amal perbuatan manusia diangkat kepada Rabb semesta alam. (HR. An-Nasa'i dan Ahmad. "Hasan" menurut Al-Albani)

2. Nisfu Sya’ban
Keutamaan bulan Sya’ban yang kedua adalah pada pertengahannya. Inilah yang dikenal dengan istilah Nisfu Sya'ban. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda mengenai nisfu Sya'ban :
إِنَّ اللَّهَ لَيَطَّلِعُ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ، فَيَغْفِرُ لِجَمِيعِ خَلْقِهِ إِلاَّ لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ
Sesungguhnya Allah memeriksa pada setiap malam nishfu Sya'ban. Lalu Dia mengampuni seluruh makhluk-Nya, kecuali yang berbuat syirik atau yang bertengkar dengan saudaranya. (HR Ibnu Majah, dinilai shahih oleh Al-Albani)

3. Bulan disunnahkah Puasa Sya’ban
Dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya, Rasulullah paling banyak berpuasa di bulan Sya’ban. Ummul Mukminin Aisyah meriwayatkan kebiasaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ini:
لَمْ يَكُنِ النَّبِىُّ - صلى الله عليه وسلم - يَصُومُ شَهْرًا أَكْثَرَ مِنْ شَعْبَانَ ، فَإِنَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah berpuasa sunnah di satu bulan lebih banyak daripada bulan Sya'ban. Sungguh, beliau berpuasa penuh pada bulan Sya'ban. (HR. Bukhari)

Ibnu Hajar Al Asqalani menjelaskan dalam Fathul Bari bahwa dalam ungkapan bahasa Arab, seseorang bisa mengatakan "berpuasa sebulan penuh" padahal yang dimaksud adalah "berpuasa pada sebagian besar hari di bulan itu".

Sebenarnya, keutamaan bulan Sya’ban yang ketiga ini sangat terkait dengan keutamaan yang pertama. Yakni karena bulan Sya’ban merupakan bulan diangkatnya amal, Rasulullah ingin ketika amal beliau diangkat, beliau dalam keadaan berpuasa.
حَدَّثَنِي أُسَامَةُ بْنُ زَيْدٍ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَمْ أَرَكَ تَصُومُ شَهْرًا مِنْ الشُّهُورِ مَا تَصُومُ مِنْ شَعْبَانَ قَالَ ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ
Usamah bin Zaid berkata kepada Rasulullah, "Wahai Rasulullah, saya tidak melihat engkau berpuasa di satu bulan melebihi puasamu di bulan Sya'ban." Rasulullah menjawab, "Ini adalah bulan yang dilalaikan oleh kebanyakan manusia, yaitu antara bulan Rajab dan Ramadhan. Di bulan inilah amal perbuatan manusia diangkat kepada Rabb semesta alam. Karena itu aku ingin saat amalku diangkat kepada Allah, aku sedang berpuasa." (HR. An-Nasa'i. Al Albani berkata "hasan")

Demikian keutamaan bulan Sya’ban yang bersumber dari hadits shahih, minimal hasan. Adapun hadits riwayat Dailami yang menyebutkan bahwa Rajab adalah bulan Allah, Sya'ban adalah bulan Rasulullah dan Ramadhan adalah bulan umat Muhammad adalah hadits dhaif. Wallahu a’lam bish shawab. [Abu Nida]

Pandangan keliru tentang kematian

Kematian selalu dilihat sebagai sesuatu yang mengerikan. Pandangan seperti ini memang tidak salah. Kematian adalah peristiwa tragis dan menyedihkan, sehingga banyak orang bahkan hampir semua mahkluk yang bernyawa takut akan mati. Ini berarti bahwa hidup tentu lebih baik daripada mati. Tetapi betapapun mengerikan, kematian adalah suatu kejadian yang mutlak yang tidak terelakkan oleh siapapun. Hidup ini berarti hanyalah proses pasti menuju tragedi itu, dan hidup hanya menanti “kesengsaraan”, hidup adalah guyon yang mengerikan (awful joke), sementara Tolstoy menyebut hidup sebagai tipuan dungu (stupid fraud). Jadi untuk apa manusia hidup? Apakah tidak lebih baik tetap dalam ketiadaan yang tanpa masalah? 

Kaum pesimistis berpendapat bahwa dalam hidup tidak ada kebahagian yang sejati. Semua kebahagiaan di dunia ini hanyalah semu belaka, jika ada orang yang berbahagia, maka kebahagiaan itu memang benar adanya. Tapi sangat sulituntuk menggambarkan kebahagiaan. Paling-paling untuk menggambarkannya, kebahagian dapat diodefinisikan secara negative bahwa kebahagiaan adalah tidak adanya kesengsaraan. Sesuatu yang positif dalam diri manusia seperti organ tubuh yang lengkap, tidaknya dianggap sebagai kebahagiaan. Kerena hal itu sudah dianggap biasa dan lumrah. Sama halnya dalam keadaan sehat. Tetapi jika manusia mengalami kecelakaan dan patah tulang kakinya, maka timbullah kesengsaraan. Dan dalam keadaan sakit baru merasa betapa bahagiannya ketika sedang sehat. 

Meskipun nmasa lalu senantiasa dirindukan dan masa depan selalu diimpikan, tetapi semua itu tidak riil dan hakiki, yang hakiki hanyalah “sekarang” tetapi kerena sekarang itu terdiri dari deretan atom waktu yang selalu bergerak menjadi masa lalu, maka sekarangpun bukanlah hal yang memadai. Sehingga sesungguhnya segala yang lalu telah tiada, segala yang akan datang belumterjadi, dan segala yang ada sekarang tidak memadai. Lalu untuk apa manusia hidup? Bukankan keberadaan kita di dunia ini adalah peristiwa yang terjadi secara kebetulan belaka, tanpa makna dan tujuan hidup? Tolstoy mengajukan bunuh diri sebagai solusi terbaik masalah hidup manusia, dan menyebut orang yang bunuh diri sebagai orang yang kuat dan luar bias, tetapi ia sendiri tidak memasukkan dirinya sebagai kelompok orang-orang istimewa itu. 

Lawan kaum pesimistis adalah golongan optimis, yang memandang hidup ini adalah penuh makna, bertujuan dan bukan peristiwa yang kebetulan belaka. Golongan optimisme dan juga kelompok atheis juga berpendapat bahwa tidak masuk akal jika kematian itu lebih baik dari pada hidup. Oleh kerena itu, mereka melupakan kematian. 

Bagaimanapun hidup adalah lebih baik daripada mati dan memberikan kesempatan untuk hidup kepada seseorang itu lebih baik daripada pembunuhan. Hidup ini adalah penuh makna dan memiliki tujuan serta tidaklah sia-sia belaka.

Form Tugas Mahasiswa


  • Image Verification
    captcha
    Please enter the text from the image:
    [Refresh Image] [What's This?]