Postingan

Menampilkan postingan dengan label Khutbah Jumat

Teks Khutbah Jumat : Lima Sifat Manusia Terbaik dalam Pandangan Allah SWT

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah.

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Takwa bukan hanya diucapkan, tetapi dibuktikan dengan menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Ada sebuah nasihat yang sangat indah dari para ulama terdahulu.

كان يقال: أفضل الناس من كان فيه خمس خصال

"dikatakan: Sebaik-baik manusia adalah orang yang memiliki lima sifat."

Walaupun kalimat ini bukan hadis Nabi ﷺ, isinya sejalan dengan ajaran Al-Qur'an dan hadis-hadis yang sahih.


Pertama: Dekat dengan Allah melalui ibadah

أن يكون على عبادة ربه مقبلاً

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
"Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku." (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,

Tujuan utama hidup kita bukan sekadar mencari harta, membangun rumah, mengejar jabatan, atau mengumpulkan kekayaan. Semua itu hanyalah sarana. Tujuan hidup yang sesungguhnya adalah menjadi hamba yang taat kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Karena itu, ukuran keberhasilan seorang muslim bukan hanya dilihat dari banyaknya harta yang dimiliki, tetapi dari kedekatannya dengan Allah. Ada orang yang hartanya melimpah, tetapi hatinya gelisah. Ada pula yang hidup sederhana, namun hatinya tenang karena selalu menjaga hubungan dengan Allah.

Kesibukan mencari nafkah memang penting. Namun jangan sampai shalat ditinggalkan, Al-Qur'an tidak pernah dibaca, dan masjid hanya ramai ketika bulan Ramadan. Jangan sampai urusan dunia menyita seluruh waktu kita hingga tidak ada lagi waktu untuk sujud kepada Allah.

Rasulullah ﷺ bersabda:

أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ
"Keadaan seorang hamba yang paling dekat dengan Rabbnya adalah ketika ia sedang bersujud." (HR. Muslim)

Hadis ini mengajarkan bahwa semakin banyak seorang hamba bersujud kepada Allah, semakin dekat pula ia kepada-Nya. Kedekatan itulah yang menghadirkan ketenangan hati, kemudahan dalam menghadapi masalah, dan keberkahan dalam kehidupan.

Cobalah kita bertanya kepada diri sendiri. Ketika menghadapi kesulitan hidup, ke mana kita lebih dahulu mengadu? Apakah kita segera mengangkat tangan berdoa kepada Allah, atau justru lebih sibuk mengeluh kepada manusia?

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Setiap hari Allah memberi kita nikmat yang tidak terhitung jumlahnya. Udara yang kita hirup, kesehatan yang kita rasakan, keluarga yang menemani, serta rezeki yang kita peroleh semuanya berasal dari Allah. Maka sudah sepantasnya kita mensyukuri nikmat itu dengan memperbanyak ibadah.

Mari kita mulai dari hal-hal yang sederhana namun istiqamah: menjaga shalat lima waktu berjamaah bagi yang mampu, meluangkan waktu membaca Al-Qur'an setiap hari meskipun hanya beberapa ayat, memperbanyak zikir dan istighfar, serta mendidik anak-anak agar mencintai masjid sejak usia dini.

Insya Allah, apabila hubungan kita dengan Allah semakin baik, maka Allah akan memberikan keberkahan dalam keluarga, ketenangan dalam hati, kemudahan dalam mencari rezeki, dan pertolongan ketika menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Kedua: Menjadi Manusia yang Bermanfaat

أن يكون نفعه للخلق ظاهراً

Rasulullah ﷺ bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia."

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,

Setelah kita memperbaiki hubungan dengan Allah melalui ibadah, maka hubungan kita dengan sesama manusia juga harus diperbaiki. Islam mengajarkan bahwa seorang mukmin bukan hanya menjadi hamba yang saleh untuk dirinya sendiri, tetapi juga menjadi sumber manfaat bagi orang lain.

Menjadi orang yang bermanfaat tidak selalu harus dengan harta yang banyak. Jika Allah memberikan rezeki yang lapang, bantulah dengan harta. Jika belum mampu dengan harta, bantulah dengan tenaga. Jika tidak mampu dengan tenaga, bantulah dengan ilmu, nasihat yang baik, doa yang tulus, senyuman yang ramah, atau sekadar memberikan semangat kepada orang yang sedang menghadapi kesulitan.

Jangan pernah merasa bahwa kebaikan yang kita lakukan terlalu kecil. Bisa jadi senyuman yang kita berikan mampu menghibur hati saudara kita. Bisa jadi bantuan sederhana yang kita berikan menjadi sebab Allah mengangkat kesulitannya. Dan bisa jadi doa yang kita panjatkan untuk saudara kita menjadi sebab turunnya rahmat Allah.

Ma'asyiral muslimin,

Di lingkungan kita masih banyak orang yang membutuhkan perhatian. Ada tetangga yang sedang sakit, ada keluarga yang kesulitan mencari nafkah, ada anak yatim yang membutuhkan kasih sayang, ada lansia yang memerlukan bantuan, bahkan ada saudara kita yang membutuhkan sekadar teman untuk mendengarkan keluh kesahnya.

Jangan sampai kita hidup bertahun-tahun berdampingan dengan tetangga, tetapi tidak mengetahui keadaan mereka. Rasulullah ﷺ mengajarkan agar seorang muslim memiliki rasa peduli dan kasih sayang kepada sesamanya.

Masjid juga akan semakin hidup apabila jamaahnya saling mengenal, saling menyapa, saling mengunjungi ketika sakit, bergotong royong menjaga kebersihan masjid, membantu kegiatan keagamaan, memperhatikan pendidikan anak-anak, serta menyantuni fakir miskin dan anak-anak yatim.

Ingatlah, umur kita terbatas. Ketika kita meninggal dunia, harta yang kita kumpulkan akan ditinggalkan. Jabatan yang kita banggakan akan dilepaskan. Namun kebaikan yang pernah kita berikan kepada orang lain akan tetap dikenang dan menjadi amal yang Allah balas dengan pahala.

Maka marilah kita bertanya kepada diri kita masing-masing. Selama hidup ini, sudah berapa banyak manfaat yang telah kita berikan kepada keluarga kita? Apa yang sudah kita lakukan untuk tetangga kita? Apa yang sudah kita sumbangkan untuk kemajuan masjid kita? Dan apa yang telah kita persiapkan agar kehadiran kita benar-benar membawa rahmat bagi lingkungan sekitar?

Ketiga: Orang Lain Merasa Aman dari Keburukan Kita

أن يكون الناس من شره آمنين

Rasulullah ﷺ bersabda:

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
"Seorang muslim adalah orang yang kaum muslimin selamat dari gangguan lisan dan tangannya." (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,

Islam bukan hanya mengajarkan kita untuk rajin beribadah, tetapi juga mengajarkan agar kehadiran kita membawa rasa aman bagi orang lain. Seorang muslim yang baik adalah orang yang membuat tetangganya merasa tenang, keluarganya merasa nyaman, dan masyarakat merasa aman dari ucapan maupun perbuatannya.

Hari ini, banyak perselisihan bukan karena kurangnya harta, tetapi karena lisan yang tidak dijaga. Betapa banyak hubungan persaudaraan rusak hanya karena satu kalimat yang menyakitkan. Betapa banyak keluarga retak karena ucapan yang keluar saat marah. Betapa banyak persahabatan putus karena fitnah dan ghibah.

Di zaman sekarang, menjaga lisan juga berarti menjaga jari-jari kita. Apa yang kita tulis di media sosial akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah. Jangan mudah menyebarkan berita yang belum jelas kebenarannya, jangan mudah menghina, mencela, atau mempermalukan orang lain hanya karena berbeda pendapat.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
"Tidak ada satu kata pun yang diucapkannya melainkan ada malaikat yang selalu siap mencatatnya." (QS. Qaf: 18)

Ayat ini mengingatkan kita bahwa setiap ucapan, sekecil apa pun, tidak akan luput dari catatan malaikat. Karena itu, hendaklah kita berpikir sebelum berbicara. Jika perkataan itu membawa manfaat, maka ucapkanlah. Namun jika hanya akan menyakiti hati orang lain, lebih baik kita diam.

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
"Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam." (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Ma'asyiral muslimin,

Marilah kita mulai dari lingkungan yang paling dekat. Jadilah suami yang lembut kepada istri, istri yang menghormati suami, orang tua yang mendidik anak dengan kasih sayang, anak yang berbakti kepada orang tua, dan tetangga yang menjaga kerukunan.

Jangan sampai orang lain takut kepada kita karena ucapan kita kasar, mudah marah, suka menggunjing, atau gemar mencari-cari kesalahan orang lain. Sebaliknya, jadilah pribadi yang ketika hadir membawa ketenangan, ketika berbicara menyejukkan hati, dan ketika bergaul selalu menebarkan akhlak yang mulia.

Jika setiap muslim mampu menjaga lisan, menjaga tangan, dan menjaga akhlaknya, insya Allah keluarga akan harmonis, masyarakat akan rukun, dan masjid akan menjadi pusat persaudaraan yang penuh dengan kasih sayang.

Keempat: Tidak Tamak terhadap Milik Orang Lain

أن يكون عما في أيدي الناس آيساً

Rasulullah ﷺ bersabda:

ازْهَدْ فِيمَا عِنْدَ النَّاسِ يُحِبَّكَ النَّاسُ
"Bersikaplah tidak mengharapkan apa yang dimiliki manusia, niscaya manusia akan mencintaimu." (HR. Ibnu Majah, dinilai hasan oleh sebagian ulama)

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,

Salah satu penyakit hati yang sangat berbahaya adalah selalu melihat apa yang dimiliki orang lain, tetapi lupa mensyukuri nikmat yang Allah berikan kepada dirinya sendiri. Akibatnya, hati menjadi sempit, mudah iri, mudah dengki, dan tidak pernah merasa cukup.

Padahal Allah Subhanahu wa Ta'ala telah berfirman:

وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ
"Janganlah kamu menginginkan apa yang Allah lebihkan kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain." (QS. An-Nisa': 32)

Ayat ini mengajarkan kepada kita agar tidak sibuk membandingkan kehidupan kita dengan kehidupan orang lain. Allah membagi rezeki, kemampuan, kesehatan, dan berbagai nikmat sesuai dengan hikmah-Nya. Ada yang diberi kelapangan harta, ada yang diberi kesehatan, ada yang diberi ilmu, ada yang diberi anak-anak yang saleh. Masing-masing memiliki ujian dan nikmat yang berbeda.

Ma'asyiral muslimin,

Di zaman sekarang, rasa iri semakin mudah muncul. Melalui media sosial kita melihat orang lain membangun rumah baru, membeli kendaraan baru, pergi berlibur, atau memperoleh jabatan. Jika hati tidak dijaga, kita akan merasa hidup kita selalu kurang.

Padahal kita tidak mengetahui ujian yang mereka hadapi. Kita hanya melihat kebahagiaannya, tetapi tidak mengetahui kesulitan yang mereka sembunyikan. Karena itu, jangan ukur kebahagiaan dengan apa yang tampak di hadapan manusia, tetapi ukurlah dengan kedekatan kita kepada Allah.

Rasulullah ﷺ juga mengajarkan:

انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ، وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ، فَهُوَ أَجْدَرُ أَلَّا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ
"Lihatlah orang yang berada di bawah kalian (dalam urusan dunia), dan jangan melihat orang yang berada di atas kalian. Dengan demikian kalian akan lebih mudah mensyukuri nikmat Allah." (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Bukan berarti kita tidak boleh bekerja keras atau bercita-cita untuk hidup lebih baik. Islam justru memerintahkan kita untuk berusaha dengan sungguh-sungguh. Namun usaha itu harus ditempuh dengan cara yang halal, penuh kejujuran, dan disertai rasa syukur kepada Allah.

Rezeki tidak akan tertukar. Apa yang telah Allah tetapkan untuk kita pasti akan sampai kepada kita. Yang menjadi tugas kita adalah bekerja, berdoa, bertawakal, dan menjauhi jalan-jalan yang haram seperti menipu, korupsi, riba, maupun mengambil hak orang lain.

Marilah kita mendidik hati agar menjadi hati yang qana'ah, yaitu hati yang merasa cukup dengan pemberian Allah. Orang yang qana'ah bukan berarti berhenti berusaha, tetapi ia tidak diperbudak oleh rasa tamak. Ia bersyukur ketika mendapat nikmat, bersabar ketika diuji, dan tetap yakin bahwa pilihan Allah adalah yang terbaik.

Kelima: Selalu Siap Menghadapi Kematian

أن يكون للموت مستعداً

Rasulullah ﷺ bersabda:

أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ
"Perbanyaklah mengingat pemutus segala kenikmatan, yaitu kematian." (HR. at-Tirmidzi)

Allah Subhanahu wa Ta'ala juga berfirman:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ
"Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian." (QS. Ali 'Imran: 185)

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,

Kematian adalah kepastian yang tidak dapat dihindari oleh siapa pun. Tidak ada manusia yang dapat menolak datangnya ajal, meskipun ia memiliki kekayaan, jabatan, kekuatan, atau ilmu yang tinggi.

Setiap pekan bahkan hampir setiap hari, kita mendengar kabar duka. Ada yang meninggal dalam usia lanjut, ada yang masih muda, bahkan ada yang masih anak-anak. Semua itu mengingatkan kita bahwa kematian tidak mengenal usia dan tidak pernah menunggu kesiapan seseorang.

Kematian tidak menunggu seseorang pensiun, tidak menunggu anak-anak dewasa, tidak menunggu rumah selesai dibangun, bahkan tidak menunggu utang selesai dibayar. Ketika ajal telah tiba, tidak ada satu kekuatan pun yang mampu menundanya walau hanya sesaat.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ
"Apabila ajal mereka telah datang, mereka tidak dapat mengundurkannya sesaat pun dan tidak pula dapat mempercepatnya." (QS. Al-A'raf: 34)

Ma'asyiral muslimin,

Mengingat kematian bukanlah untuk membuat kita putus asa, tetapi agar kita menjadi orang yang lebih baik. Orang yang selalu mengingat kematian akan lebih berhati-hati dalam berbicara, lebih jujur dalam bekerja, lebih semangat beribadah, dan lebih mudah memaafkan kesalahan orang lain.

Sebab ia sadar bahwa suatu saat nanti semua harta akan ditinggalkan, semua jabatan akan dilepaskan, dan yang menemani ke dalam kubur hanyalah amal saleh.

Karena itu, marilah kita mempersiapkan bekal sebelum datang hari yang tidak dapat kita hindari. Perbaikilah shalat kita, karena shalat adalah amalan pertama yang akan dihisab. Perbanyaklah membaca Al-Qur'an, berzikir, dan beristighfar. Ringankan tangan untuk bersedekah, sambunglah silaturahmi, hormatilah kedua orang tua, didiklah anak-anak kita agar menjadi anak yang saleh, dan segeralah meminta maaf jika pernah menyakiti sesama.

Jangan menunda taubat dengan mengatakan, "Nanti kalau sudah tua saya akan berubah." Sebab tidak ada seorang pun yang mengetahui apakah ia akan sampai pada usia tua atau tidak. Kesempatan terbaik untuk bertaubat adalah hari ini, saat kita masih diberi kesehatan dan kesempatan oleh Allah.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,

Lima sifat yang telah kita bahas hari ini adalah bekal untuk menjadi manusia terbaik. Dekatlah kepada Allah dengan ibadah. Jadilah manusia yang bermanfaat bagi sesama. Jagalah lisan dan perbuatan agar tidak menyakiti orang lain. Bersihkan hati dari sifat tamak dan iri. Dan persiapkanlah diri untuk bertemu dengan Allah dengan memperbanyak amal saleh.


Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,

Marilah kita membawa pulang lima nasihat hari ini.

Jangan sampai kita sibuk mengejar dunia tetapi lalai beribadah.

Jangan sampai kita hidup hanya memikirkan diri sendiri tanpa memberi manfaat kepada orang lain.

Jangan sampai lisan dan perbuatan kita menjadi sebab rusaknya persaudaraan.

Jangan sampai hati kita dipenuhi iri dan dengki terhadap nikmat yang Allah berikan kepada orang lain.

Dan jangan sampai kita lupa bahwa suatu hari nanti kita semua akan kembali menghadap Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Semoga Allah memperbaiki iman kita, menjaga keluarga kita, melapangkan rezeki kita yang halal, menjauhkan kita dari segala fitnah, dan menganugerahkan kepada kita husnul khatimah.

Khutbah Jumat; Awal Baru untuk mempersiapkan hidup yang berkualitas

Dengan ucapan Alhamdulillah, kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Saat ini kita sudah memasuki tahun baru dan bulan baru, baik dalam kalender Masehi maupun Hijriah. Dalam kalender Masehi, kita berada di tanggal 3 Januari 2025, sementara dalam kalender Hijriah, kita berada di tanggal 3 Rajab.  

Hal ini menandakan bahwa perjalanan waktu terus berjalan, dan hakikat waktu adalah sesuatu yang tidak akan pernah kembali. Jika kemarin, pada tanggal 31 Desember 2024, banyak orang sibuk dengan aktivitas menyambut tahun baru, maka waktu itu kini telah berlalu dan tidak akan pernah kembali.  

Banyak orang memiliki harapan-harapan baru untuk tahun ini. Namun, sebagai seorang muslim yang beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, bagaimana kita seharusnya menyikapi hal ini?  

Setidaknya kita harus menyadari bahwa ada sesuatu yang sangat berharga dalam kehidupan kita, yaitu waktu. Waktu tidak bisa dibeli dengan harta atau uang, sebagaimana pepatah mengatakan:  

"الوقت أثمن من الذهب" 

"Waktu itu lebih berharga daripada emas."

Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan kita semua waktu yang sama dalam sehari, yaitu 24 jam. Tidak ada yang lebih dan tidak ada yang kurang. Namun, yang membedakan seseorang adalah bagaimana ia memanfaatkan waktu yang telah Allah berikan kepadanya.  

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:  

"نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ"

"Ada dua nikmat yang sering dilupakan oleh banyak manusia, yaitu kesehatan dan waktu luang." (HR. Bukhari)  

Betapa seringnya kita lalai dengan nikmat kesehatan dan waktu luang. Terkadang kita mengabaikan pola makan dan gaya hidup, hingga baru menyadari betapa berharganya kesehatan ketika kita jatuh sakit. Demikian pula dengan waktu, yang sering kita sia-siakan tanpa mengisinya dengan hal-hal yang bermanfaat.  

Begitu pentingnya waktu sehingga Allah Subhanahu wa Ta'ala sering bersumpah dengan waktu dalam Al-Qur'an, seperti dalam firman-Nya:  

وَالْعَصْرِ ۝ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ ۝"  

"Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian." (QS. Al-‘Ashr: 1-2)  

وَالضُّحَىٰ ۝" 

"Demi waktu duha."* (QS. Adh-Dhuha: 1)  

وَالْفَجْرِ ۝" 

"Demi waktu fajar."(QS. Al-Fajr: 1)  

Sumpah Allah dengan waktu menunjukkan bahwa waktu adalah anugerah yang sangat berharga, sehingga kita perlu memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya.  

Memasuki tahun baru ini, mari kita merenung dan merefleksi perjalanan hidup kita selama tahun-tahun sebelumnya. Jika kita merasa banyak waktu terbuang sia-sia tanpa melakukan kebaikan dan mendekatkan diri kepada Allah, maka saatnya kita memperbaiki diri. Jangan sampai kebiasaan buruk tersebut terulang di tahun ini.  

Sebaliknya, jika kita telah banyak melakukan kebaikan dan ketaatan kepada Allah, mari kita pertahankan dan tingkatkan. Sebab, kualitas kehidupan seseorang di dunia ini dapat diukur dari bagaimana ia memanfaatkan waktunya dan kedekatannya kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.  

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Allah sangat murka kepada hamba-Nya yang menyia-nyiakan waktu, baik untuk urusan dunia maupun akhirat. Bahkan, waktu yang tidak digunakan untuk hal-hal bermanfaat akan menjadi penyesalan di hari kiamat kelak.  

Kaum muslimin jamaah Jumat rahimakumullah, mari kita menjaga waktu kita dengan sebaik-baiknya. Jika tidak bisa sepenuhnya digunakan untuk kehidupan akhirat, maka gunakanlah waktu tersebut untuk hal-hal produktif yang bermanfaat di dunia.  

Semoga kita semua senantiasa diberikan petunjuk dan taufik oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala agar dapat memanfaatkan waktu dengan baik. Kita memohon kepada Allah agar apa yang kita dengar, lihat, ucapkan, dan pikirkan senantiasa mendatangkan ridha-Nya. 

Khutbah Jumat Singkat: Makna Bulan Rajab dan Cara Memuliakannya

Kaum muslimin jamaah Jumat, rahimakumullah.

Dalam menghitung bulan, menghitung minggu, dan menghitung hari, tentu tidak lama lagi kita akan berjumpa dengan bulan yang agung, bulan Ramadan. Sebelum memasuki bulan Ramadan, kita akan ditemukan dengan bulan Syakban, dan pada saat ini kita berada di bulan Rajab. Berarti tidak lama lagi Ramadan akan kita jumpai. Tetapi perlu kita ketahui bahwa bulan Rajab ini merupakan bulan yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Jika kita lihat di dalam Al-Qur'an, Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman bahwa bulan di sisi Allah Subhanahu Wa Ta'ala ada 12 bulan. Dari 12 bulan itu, ada di antara bulan-bulan itu yang sangat Allah muliakan, yang sangat diagungkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ

"Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram." (QS. At-Taubah: 36)

Dalam hadis Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam disebutkan, tiga di antara bulan itu berurutan yakni Zulkaidah, Zulhijah, dan Muharram, dan satu lagi berada sendiri yakni bulan Rajab. Kita saat ini berada di bulan Rajab, bulan yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Apa maksud bulan ini dimuliakan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala? Syekh Abdul Qadir al-Jilani menyebutkan, mengartikan dan mendefinisikan bulan Rajab itu sesuai dengan namanya.

Yang pertama, رَجَبٌ yakni ada huruf ro, kemudian huruf jim, dan huruf ba. Huruf ra, Syekh Abdul Qadir al-Jilani menyebutkan bahwa ra itu maknanya rahmat, yakni pada bulan Rajab ini Allah Subhanahu Wa Ta'ala banyak melimpahkan rahmat-Nya ke muka bumi ini. Allah menaburkan kasih sayang-Nya, Allah memberikan kasih sayang itu kepada siapa pun yang memuliakan bulan Rajab. Sehingga ada perbedaan bagaimana Allah memberikan rahmat di bulan yang lain dengan Allah memberikan rahmat di bulan Rajab ini. Orang yang mendapatkan rahmat Allah Subhanahu Wa Ta'ala pada bulan Rajab, pada bulan yang Allah muliakan, mereka akan lebih mudah melaksanakan amal ibadah, mendekatkan dirinya kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Kenapa orang dapat rahmat itu? Tidak lain berpikirannya bagaimana kehidupanku ini bisa dekat kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Karena dia sadar bahwa hidup ini terus berjalan, waktu terus berputar, dan kematian itu semakin dekat.

Dengan menyadari bahwa kematian itu semakin dekat, dia akan meningkatkan kualitas ibadahnya kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Terlebih lagi, kalau kita lihat histori, kita lihat sejarah, pada bulan Rajab inilah ada peristiwa yang sangat mewah, yakni peristiwa Isra' dan Mi'raj. Apa yang kita dapat, apa yang kita petik dari peristiwa Isra' dan Mi'raj? Kalau Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam dipanggil untuk menghadap Allah Subhanahu Wa Ta'ala menerima shalat, berarti perintah shalat ini merupakan perintah yang sangat agung, perintah yang sangat istimewa yang Allah berikan kepada hamba-hamba-Nya, kepada umat Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam.

Sehingga mereka yang memuliakan bulan Rajab, dia sadar bahwa ada momen yang paling bersejarah dalam bulan ini, yakni dapatnya perintah shalat dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam dan itu untuk kita semua. Sehingga dengan kesadaran ini, dia akan meningkatkan kualitas dan kuantitasnya dalam melaksanakan ibadah shalat kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Kaum muslimin jamaah Jumat, rahimakumullah.

Ini yang pertama, yakni mereka yang mendapatkan kemuliaan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala pada bulan Rajab ini, mereka mendapatkan rahmat oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Kemudian di bulan Rajab ini, kata Syekh Abdul Qadir al-Jilani, maknanya adalah **جَ** itu adalah judun. Judun itu adalah kebaikan. Allah taburkan begitu banyak kebaikan di bulan Rajab. Apa maksudnya Allah taburkan kebaikan itu? Kebaikan itu adalah jika kita melakukan kebaikan di bulan-bulan yang lain, tentu itu akan mendapatkan pahala di sisi Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Tetapi jika kebaikan itu kita lakukan di bulan Rajab, maka kebaikan itu akan berlipat ganda pahalanya di sisi Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Kaum muslimin jamaah Jumat, rahimakumullah.

Jika kita lihat, dunia ini begitu luasnya, begitu banyak terhampar-hamparan berbagai macam bentuk yang ada di muka bumi ini. Tetapi ada tempat yang paling istimewa yang Allah muliakan yakni Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Yakni itu merupakan tanah haram, tanah yang tempat yang sangat dimuliakan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Sehingga mereka yang diberikan kesempatan untuk hadir di sana, ibadah di sana, dia akan mendapatkan kebaikan yang berlipat ganda. Sebagaimana kalau kita lihat satu rakaat orang yang beribadah di Masjidil Haram, pahalanya sama dengan 100.000 rakaat orang beribadah di masjid yang lain. Apa maksud dari ini? Bahwa Allah memuliakan tempat itu, Allah memuliakan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi sehingga kebaikan di sana berlipat ganda yang Allah berikan kepada hamba-Nya yang melakukan kebaikan.

Sekarang kita lihat, ada juga di antara bulan itu dari 12 bulan yang Allah berikan, yang Allah tetapkan, ada bulan yang sangat Allah muliakan. Apa maksudnya? Jika kita melakukan kebaikan di bulan Rajab ini, tentu kebaikan itu akan dilipatgandakan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Kita melaksanakan kebaikan di selain bulan Rajab, Allah beri pahala. Tetapi kalau kita melakukan kebaikan di bulan Rajab, maka kebaikan itu akan Allah lipatgandakan.

Kaum muslimin jamaah Jumat, rahimakumullah.

Imam Ghazali menyebutkan di dalam kitabnya apa tanda orang itu mendapatkan kemuliaan Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Dia menyebutkan seseorang itu dimuliakan di hari-hari yang mulia, di tempat-tempat yang mulia, di waktu-waktu yang mulia. Allah mudahkan ia untuk melakukan kebaikan berada di bulan Rajab, sehingga dia tertarik, dia bersemangat untuk beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Bisa jadi ini adalah kategori bahwa mereka dimuliakan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Sebaliknya sama, jika ada orang yang melakukan keburukan di hari-hari yang mulia, di bulan-bulan yang mulia, di tempat-tempat yang mulia, berarti ia sedang mendapatkan kemarahan Allah, kemurkaan Allah. Kenapa? Karena dia di tempat yang mulia, di waktu yang mulia, di bulan yang mulia, dia berani-beraninya melanggar aturan-aturan Allah dan bermaksiat kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Sehingga keburukan yang dilakukan di bulan yang haram, di bulan yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala, itu pun akan berlipat ganda hukumannya di sisi Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Kaum muslimin jamaah Jumat, rahimakumullah.

Inilah keistimewaan bulan Rajab, yang mana kita saat ini sedang berada di bulan ini. Tugas kita sebagai bentuk kemuliaan kita, sebagai bentuk rasa kita menghormati bulan ini, mari kita meningkatkan ketaatan kita kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Memperbanyak kebaikan-kebaikan sebagaimana banyak ulama mengatakan bulan Rajab ini adalah bulan kita menanam. Tentu kalau kita berkebun, pada saat menanam kita ingin menanam bibit-bibit yang terbaik. Tentu pada saat kita menanam, kita ingin menanam begitu banyak bibit-bibit supaya kita akan mendapatkan hasil yang lebih banyak. Oleh sebab itu, pada bulan ini, mari kita memperbanyak kebaikan kita, memperbanyak shalat kita, memperbanyak zikir kita, memperbanyak membaca Al-Qur'an kita. Untuk apa? Supaya nanti pada saat kita panen di bulan suci Ramadan, buahnya sudah layak untuk kita petik. Buahnya sudah bisa kita nikmati, sehingga pada saat itu kita tinggal merasakan kenikmatan begitu dekatnya kita kepada Allah, begitu enaknya kita bisa bersama dan dekat kepada Allah Subhanahu Wata'ala

Khutbah Jumat; Menumbuhkan Keyakinan dalam beribadah

Di dalam Al-Qur'an, Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:

وَٱعْبُد ربك حتي ياتيك اليقين

"Sembahlah Allah, beribadahlah kepada Allah, taatlah kepada Allah, lakukan perintah-perintah Allah."

Hatta sehingga timbul dalam dirimu keyakinan bahwa Allah itu memang layak untuk kamu sembah. Jadi, kalau selama ini kita menyembah kepada Allah belum timbul rasa keyakinan kita bahwa Allah itu memang Tuhan kita, berarti ibadah kita selama ini belum sempurna. Berarti ketaatan kita selama ini belum sempurna.

Kalau kita lihat di dalam ibadah kita, di dalam salat kita, kita selalu mengucapkan kalimat di dalam surah Al-Fatihah:

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

"Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan." (QS. Al-Fatihah: 5)

Ini bukan hanya ungkapan tetapi pengakuan kita kepada Allah subhanahu wa ta'ala. Wahai Tuhanku, hanya kepada-Mu aku menyembah dan hanya kepada-Mu aku memohon pertolongan. Dua pernyataan ini harus sinkron, harus saling mendukung. Kalau kita meyakini bahwa Tuhan tempat kita menyembah, kita harus yakin juga dalam aktivitas kita sehari-hari bahwa Allahlah yang akan membantu kehidupan kita, yang akan memuluskan segala rencana kita, yang akan memberikan kemudahan dalam melakukan segala aktivitas.

Jika ini sinkron antara "إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ", maka inilah yang disebut dengan 'Abdullah yakni hamba Allah yang taat kepada Allah subhanahu wa ta'ala. Tetapi jika kedua ini bertolak belakang, pada saat di momen-momen tertentu kita menyebut "إِيَّاكَ نَعْبُدُ" hanya kepada-Mu aku menyembah Ya Allah, di mana itu momennya mungkin kita laksanakan itu di masjid, mungkin pada saat kita mengadakan pengajian-pengajian, mungkin pada saat kita lagi butuh kepada Allah subhanahu wa ta'ala, tetapi dalam praktiknya terkadang "نَسْتَعِينُ" kita minta pertolongan kepada yang lain. Ini menandakan belum paripurnanya, belum sempurnanya "نَعْبُدُ" kita kepada Allah subhanahu wa ta'ala.

Sehingga keyakinan kita terhadap Allah, Tuhan yang berhak kita sembah, itu belum sempurna. Sehingga ada ulama menyebutkan bagaimana menimbulkan atau memunculkan keyakinan dalam hati kita bahwa Allah subhanahu wa ta'ala itu memang Allah yang berhak kita sembah. Disebutkan di dalam kitab:

Yang pertama, setidaknya jika engkau ingin menumbuhkan rasa keyakinanmu kepada Allah subhanahu wa ta'ala, mantapkan tauhid di dalam dirimu. Mantapkan keesaan kita kepada Allah subhanahu wa ta'ala. Allah bukan hanya tempat kita menyembah, Allah bukan hanya tempat kita mengadu, tetapi kita harus meyakini bahwa Allahlah yang mengatur segala kehidupan kita. Tarikan nafas kita itu tidak lepas dari aturan yang Allah berikan. Ayunan tangan kita, apapun posisi kita saat ini, profesi apa kita saat ini, di manaun kedudukan kita saat ini, itu semua adalah campur tangan dari Allah subhanahu wa ta'ala. Allah bukan hanya tempat kita menyembah tetapi Allahlah yang mengatur dalam kehidupan kita ini. Inilah yang disebut dengan tauhid, keyakinan tauhid.

Keyakinan yang disebutkan:

لا يرى شيئاً كلّها إلا من الله

Dia tidak melihat segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan ini, tidak ada segala sesuatu yang bergerak yang ada di sekelilingnya, kecuali itu adalah campur tangan dari Allah subhanahu wa ta'ala.

Orang yang semacam ini jika keyakinannya sudah mencapai ke posisi ini maka sifat-sifat keburukan yang ada di dalam dirinya akan hilang. Disebutkan dalam sebuah kisah sahabat Anas bin Malik, pembantunya Rasulullah ﷺ. Dia menceritakan:

"Saya menjadi khadamnya Rasulullah ﷺ kurang lebih 10 tahun. Selama saya menjadi pembantunya, tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulut Rasulullah ﷺ kepada saya yang bersifat mencela, mencaci maki, merendahkan, atau menyalahkan."

Padahal kalau kita lihat bagaimana posisi seorang atasan dengan bawahan, biasanya dengan mudahnya lisan kita berkata yang tidak pantas kepada orang yang ada di bawah kita, apalagi status ekonominya, status sosialnya rendah di bawah kita. Ini Rasulullah ﷺ mencontohkan, kata Anas bin Malik, selama 10 tahun saya hidup bersama Rasulullah, menjadi pembantunya, menjadi bawahannya, Rasulullah tidak ada satu kata pun yang menyalahkan saya. Ini menandakan bahwa Rasulullah ﷺ mencontohkan kepada kita bahwa tidak ada segala sesuatu yang terjadi di dunia ini kecuali itu memang sudah takdir dari Allah, sudah ada campur tangan dari Allah subhanahu wa ta'ala.

Kenapa? Karena Rasulullah ﷺ tidak pernah melihat sebab. Kalau kita memiliki bawahan, memiliki pembantu, memiliki pelayan dalam kehidupan ini, kita akan senang jika dia melakukan apa yang kita sukai dan kita akan marah dan mencela jika dia melakukan sesuatu yang tidak kita senangi. Kenapa kita bisa melakukan hal semacam itu? Karena kita melihat sebab. Sebab dia melakukan sesuatu sehingga kita mencelahinya, sebab dia melakukan sesuatu sehingga kita memuji. Ya, ini kita terdinding dengan bahwa tidak ada yang bisa menyebabkan sebab itu kecuali musabbibnya yakni Allah subhanahu wa ta'ala.

Orang yang sampai pada keyakinan ini, niscaya segala keburukan-keburukan sifat-sifat keburukan akan hilang dari dalam dirinya.

Kaum Muslimin jemaat Jumat rahimakumullah, sehingga jika orang sudah sampai posisi tauhid, keyakinan tauhid, maka sifat dendam akan hilang di dalam dirinya. Kalau kemarin kita berkontestasi, ada pemilihan A, ada pemilihan B, dia akan menghilangkan segala hal semacam itu karena itu merupakan sebab dari terciptanya seorang pemimpin. Masalah-masalah yang lain semua dia keluarkan, dia hilangkan. Kenapa? Karena itu adalah proses demokrasi sehingga yang tercipta adalah kedamaian dan kerukunan.

Jika sudah mencapai posisi keyakinan tauhid ini tadi, maka hilanglah rasa iri dan dengki. Orang mencapai posisi apapun, kita tidak akan pernah pusing kepala kita. Apapun yang keluar dari komentar orang tidak akan pernah masuk ke dalam hati kita. Karena kita yakin segala sesuatu terjadi karena izin dari Allah subhanahu wa ta'ala.

Yang ketiga, sifat ujub yang ada di dalam dirinya. Dia tidak akan pernah membanggakan dirinya, dia tidak pernah merasa dirinya paling hebat, dia tidak pernah merasa dirinya paling mulia. Apapun posisinya saat ini, apapun yang ia dapatkan saat ini, berapa banyak harta yang ia dapatkan, berapa pelayan yang dia miliki, atau popularitas yang ia dapatkan, dia akan selalu ingat bahwa itu datangnya dari Allah subhanahu wa ta'ala. Dan kalau Allah akan mengambilnya dalam sekejap pun semuanya akan hilang dan akan sirna. Kita ingat kembali pada saat kita hadir ke dunia ini, tidak ada sehelai kain pun yang kita bawa, tidak ada sedikit pun jabatan yang kita miliki, tidak ada satu rupiah pun yang kita bawa. Dan kita pun akan kembali kepada Allah subhanahu wa ta'ala dalam keadaan tidak membawa apapun.

Oleh sebab itu, jangan sekali-kali kita sombong dalam kehidupan ini, jangan sekali-kali kita ujub merasa diri kita paling mulia. Yang mulia di sisi Allah subhanahu wa ta'ala, karena hakikatnya kita sama. Sesungguhnya disebutkan di dalam Al-Qur'an:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

"Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa di antara kalian." (QS. Al-Hujurat: 13)

Dan takwa itu tidak bisa kita nilai dengan kasat mata, tidak bisa kita nilai dengan angka, tidak bisa kita nilai dari materi-materi yang nampak dengan mata kita.

Kaum Muslimin jemaat Jumat rahimakumullah, demikianlah khutbah kita pada kesempatan kali ini. Semoga Allah subhanahu wa ta'ala selalu membimbing kita, memberikan taufik dan hidayah kepada kita sehingga apapun yang terucap dari lisan kita, apapun yang terpikir dari pemikiran kita, apa yang terbenak dalam hati kita, selalu kita harapkan mendatangkan ridha dari Allah subhanahu wa ta'ala. Aamiin ya rabbal 'alamin.


Khutbah Jumat ; Empat Hal yang Lebih Buruk Dibandingkan dengan Perbuatan Dosa

     Kaum Muslimin jamaah salat Jumat rahimakumullah,

Dalam keseharian kita, kita melalui hari-hari kita dalam kehidupan ini tentu ada kebaikan dan juga keburukan yang kita lakukan. Kalau kita melakukan kebaikan, berarti kita akan dicatat oleh malaikat sebagai orang yang baik dan mendapatkan pahala di sisi Allah subhanahu wa ta'ala. Tapi jika keburukan, maka dosa yang akan kita dapatkan. Dosa merupakan sesuatu yang buruk apapun bentuknya dan apapun perilakunya, baik itu secara zahir maupun batin.


Dosa secara zahir mungkin kita pernah mengambil hak orang lain dengan tangan kita. Itu adalah suatu keburukan. Tetapi ada lagi dosa yang lebih buruk di antara dosa-dosa zahir itu, yakni dosa batin yang mana terkadang kita tidak sadar bahwa kita sedang melakukan dosa. Maka disebutkan oleh Rasulullah ﷺ dalam sebuah riwayat:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: "أشدُّ الناس ذنباً عند الله من كان ذنبه صغيراً في عينه، ومن كان ذنبه عظيماً عند الناس".

Yang pertama adalah menganggap enteng perbuatan dosa. Rasulullah ﷺ menyebutkan bahwa seburuk-buruk dosa adalah jika kita menganggap enteng perbuatan itu. Jadi, tingkatan dosa itu keburukan, tetapi ada yang lebih buruk dari dosa itu yang dianggap besar di sisi Allah subhanahu wa ta'ala jika manusia menganggap itu sesuatu yang enteng.

Yang kedua adalah menganggap bahwa Allah itu Maha Pengampun. Dia melakukan dosa dan menganggap nanti dia akan taubat. Padahal dia sadar itu adalah suatu perbuatan dosa. Menganggap bahwa Allah itu Maha Pengampun sehingga dia menganggap remeh perbuatan yang ia lakukan.

Yang ketiga adalah bergembira dengan perbuatan dosa. Mungkin banyak kita lihat di media sosial atau di sekeliling kita orang melakukan dosa tetapi dia bangga dengan perbuatan dosanya. Ini adalah perbuatan dosa yang lebih buruk lagi jika dia menganggap kebahagiaan itu ada dalam perbuatan dosanya.

Yang keempat adalah istikrar, yakni melakukan dosa itu berulang-ulang. Hari ini dia taubat, besok dia lakukan lagi perbuatan itu. Ini akan menjadikan perbuatan itu lebih buruk dibandingkan dengan perbuatan dosa yang ia lakukan.

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: "إياكم ومحقرات الذنوب، فإنهن يجتمعن على الرجل حتى يهلكنه".

Artinya: "Janganlah sekali-kali engkau menganggap remeh perbuatan dosa yang kecil sekalipun, karena semua perbuatan dosa yang Allah larang, engkau harus melihat siapa yang melarangmu melakukan itu."

Sebagai contoh, mengambil hak orang lain atau menceritakan keburukan orang lain. Bukan masalah perbuatan itu yang buruk, tetapi siapa yang melarang kita untuk tidak melakukan perbuatan itu. Jangan sekali-kali menganggap remeh dosa sekecil apapun, karena di setiap perbuatan dosa terdapat kemurkaan Allah subhanahu wa ta'ala.

Khutbah Jumat; Keutamaan Membaca Al-Quran di bulan Ramadhan

 ألْحَمْدُلِلّهِ الّذِيْ جَعَلَ شَهْرَ رَمَضَانَ شهر مبارك. وَشَرَّفَ أَوْقَاتَهُ عَلَى سَائِرِ الأَوْقَاتِ، وَفَضَّلَ أَيَّامَهُ عَلَى سَائِرِ الأَيَّامِ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ شهادَةَ مَنْ قَالَ رَبِّيَ اللهُ ثُمَّ اسْتَقَامَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدنا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَفْضَلُ انبياء. اللهمّ صَلّ وسّلِّمْ علَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمّدِ وعَلى آلِه وأصْحَابِهِ هُدَاةِ الأَنَامِ وَمَصَابِيْحِ الظُّلاَمِ. أمَّا بعْدُ, فيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللهَِ تَعَالَى بِفِعْلِ الطَّاعَاتِ وَتَرْكِ الأَثَامِ. وَقَالَ اللهُ تَعَالَى يَا أَيُّهَا الََّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Hadirin sidang Jumat yang dirahmati Allah
Marilah pada saat yang berbahagia ini, kita semua, untuk bersama-sama berusaha meningkatkan taqwa kita kepada Allah SWT. yakni dengan senantiasa bersungguh-sungguh dan sekaligus melaksanakan dengan sebaik-baiknya apa yang menjadi perintah Allah SWT dan berusaha meninggalkan apa yang menjadi larangan Allah SWT, sehingga kelak kita termasuk kedalam golongan hamba-hambaNya yang beruntung baik di dunia maupun di akhirat kelak, amin-amin ya rabbal ‘alamin.


Hadirin yang dimuliakan oleh Allah SWT.
Tak terasa perputaran waktu begitu cepat, hari ini umat muslimin telah memasuki hari 26 di bulan suci ramadhan, oleh sebab itu sangatlah rugi jika melewatkan ramadan ini berlalu begitu saja. Apalagia jika dibarengin dengan tafakkur bahwa hidup di dunia hanya sekali dan belum tentu ramadan akan datang kita masi bisa menghela nafas, bole jadi tubuh yang ini sudah habis dimakan cacing dan rata dengan tanah.

Oleh sebab itu marilah kita untuk menggunakan akhir-akhir ramadan ini sebagai momen emas untuk memperbanyak ibadah kepada Allah SWT. Sebagaimana telah masyhur bahwa 10 terahir ramadan memiliki keistimewaan-keistimewan di antaranya adanya “Lailatur Qodri, Dimana Malam Ini Lebih Baik Dari Seribu Bulan’’. 
Dalam sebuah hadist rosul bersabda: Dari Aisyah r.a., ia menceritakan tentang keadaan Nabi Saw ketika memasuki sepuluh hari terakhir Ramadhan, “Beliau jika memasuki sepuluh hari terakhir Ramadhan, mengencangkan ikat pinggang, menghidupakn malamnya dan membangunkan keluarganya.” (HR. Bukhari).’’

Kaum Muslimin Yang dirahmati oleh Allah SWT.
Bulan suci ramadan merupakan bulan yang dikhususkan untuk umat Nabi Muhammad SAW, berbahagialah kita, karena telah menjadi umat dan pengikut Nabi Muhammad SAW. Janganlah menyiakan-nyiakan bulan suci ini, jangan membiarkan bulan yang penuh rahmah ini terlewatkan begitu saja, marilah menyibukkan diri dengan mengisinya dengan kebaikan-kebaikan dan berbagai ibadah yang bisa mendekatkan kita kepadaNya. Selain puasa yang dilakukan, masih banyak ibadah-ibadah lain yang bisa kita lakukan misalnya memperbanyak membaca Al-quran.

Berkaitan dengan kebiasaan dan amalan-amalan di bulan suci ramadan ini, terutama jika kita perhatikan dimasyarakat seakan-akan jika bulan suci ramadan tibah, maka masyarakat berlomba-lomba membaca al-quran, dimasjid-masjid, mushollah dan bahkan dirumah dan dikantor, sering kita lihat orang yang sibuk membaca Alquran. Alangkah indahnya jika kebiasaan ibadah baca al-quran ini  tetap dipertahankan dan ditingkatkan bahkan dibulan-bulan yang lain selain romadhan. Kerena begitu banyak hikmah dan keutaman-keutamaan membaca al-quran.

Kaum Muslimin Yang dirahmati oleh Allah SWT.
Pertama; Mendapatkan Ketengan Jiwa, di mana setiap ayat Alquran yang dibacanya akan mendatangkan ketenangan dan ketentraman bagi para pembacanya. Sebagaimana diterangkan dalam surah Al-Isra ayat 82, :
وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا
Artinya:’’ Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian. ‘’
Bahkan menurut tafsir Ibnu Kasir, bahwa kata syifa ini, diartikan bahwa dengan membaca al-quran hati akan menjadi tentram, dikarenakan membaca al-quran bisa menghilangkan rasa ragu dan sifat munafik pada diri seorang muslim. Ketenangan itu bisa kita rasakan, saat kita menyimak Al-quran dengan khusuk, dan sering juga kita lihat banyak orang yang meneteskan air mata kerena merasa dan bahagia mendengarkan lantunan-lantunan ayat suci Alquran dibacakan

Kaum Muslimin Yang dirahmati oleh Allah SWT.
Kedua; Orang Yang Mendengarkan Bisa Mendapatkan Rahmat Dari Allah. 
Jika ada salah seorang dari kaum muslimin yang senang membaca al-quran, maka bagi orang yang mendengarkan sebaiknya mendengarkannya dengan baik, tenang agar mendapat rahmat dan pahala dari Allah SWT. Sehingga para pembaca Alquran, bahkan orang yang mendengarkan bacaannya mendapat pula ketenangan jiwa. Sebagaimaa firman Allah SWT di dalam Alquran:
وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
Artinnya”: Dan apabila dibacakan Al Quran, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat’’ . QS. Al-A’raf Ayat 204.

Maksud ayat ini adalah jika dibacakan Al Quran kita wajib mendengar dan memperhatikan sambil berdiam diri, baik dalam shalat maupun di luar shalat. Dengan menyimak bacaan Quran, maka pahala yang kita dapatkan sama dengan pahala yang membacanya.

Ketiga; Memabaca Al-quran, 1 huruf mendapat 10 Pahala.
Sungguh luar biasa, selain menjadi petujuk untuk seluruh umat manusia juga menjadi pahala bagi orang mukmin yang membacanya. Hal ini telah dijelaskan hadis yang termaktub diberbagai kitab-kitab hadits, bahwa Rosul SAW bersabda;
مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ، وَالحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، لَا أَقُولُ الم حَرْفٌ، وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلَامٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ
 “"Barangsiapa membaca satu huruf dari kitab Allah maka ia akan mendapat pahala satu kebaikan, satu kebaikan sama dengan sepuluh kali lipat. Aku tidak mengatakan 'Alif Laam Miin' adalah satu huruf, akan tetapi Alif satu huruf, Lam satu huruf dan Mim satu huruf." (Tirmidzi)’’.

Bahkan diriwayat yang lain, Allah SWT melipatgandakan pahala kebaikan yang dilakukan setiap manusia di bulan ramadhan hingga 700 kali lipat.
Sebagaimana Hadits Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan imam Muslim. yang artinya; “Semua amalan anak Adam akan dilipatgandakan (balasannya), satu kebaikan akan dibalas dengan 10 sampai 700 kali lipat. Allah Swt. berfirman: Kecuali puasa, sesungguhnya itu untuk-Ku, dan Aku yang langsung membalasnya. Hamba-Ku telah meninggalkan syahwat dan makanannya karena Aku.” (HR. Muslim)

Itulah sebagahagian kecil keutamaan-keutamaan membaca al-quran, maka marilah menggunakan momen ramadan kali ini untuk memperbanyak membaca al-quran, dan alangkah baiknya jika dibarengin renungan terhadap makna-makna ayat al-quran tersebut. Dengan demikian  tujuan diturunkannya ayat terbsebut akan tercapai, sehingga kita bisa mengamalkannya dan kita tercatat sebagai orang yang bertaqwa disisi Allah SWT sesuai dengan kurikulam dan tujuan kita puasa dan beribadah di bulan Ramadhan ini.

Kaum Muslimin Yang dirahmati oleh Allah SWT.
Demikianlah khutbah singkat kita pada siang hari ini, mudah-mudahan Allah SWT selalu membimbing kita untuk selalu melaksanakan ibadah kepadaNya, terlebih lagi timbul rasa cinta dan ingin selalu mendekatkan diri kita kepadanNya, dengan selalu berinteraksi dengan kalamNya yakni Al-quran. Dan juga kita berharap, semoga Ramadhan kali ini, menjadi momentum mendekatkan diri kita kepadaNya hingga akhir hayat kelak. Aamiin ya Robbal Allamiin.

باَرَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِى القُرآنِ الكَرِيْم ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا ِفيْهِ مِنْ الآياَتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْم ، وَتَقَبَّل مِنيِّ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْم. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا ، وَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْم لِي وَلَكُمْ ، وَلِسَائِرِ المسْلِمِيْنَ وَ المسْلِمَات ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ ، إنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah II
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ
أَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا اَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهّ اَمَرَكُمْ بِاَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى اِنَّ اللهَ وَمَلآ ئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْما
اللَّهُمَّ صَلِّ وسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ وسَلّمْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، فِي العَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنْ خُلَفَائِهِ الرَّاشِدِيْنَ، وَعَنْ أَزْوَاجِهِ أُمَّهَاتِ المُؤْمِنِيْنَ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ، وَعَنْ المُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الراحمين
اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ. اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ لِسَانًا صَادِقًا ذَاكِرًا، وَقَلْبًا خَاشِعًا مُنِيْبًا، وَعَمَلاً صَالِحًا زَاكِيًا، وَعِلْمًا نَافِعًا رَافِعًا، وَإِيْمَانًا رَاسِخًا ثَابِتًا، وَيَقِيْنًا صَادِقًا خَالِصًا، وَرِزْقًا حَلاَلاًَ طَيِّبًا وَاسِعًا، يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ، رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنَ، َبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الوَهَّابُ،رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ عِبَادَاللهِ ! اِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِى اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوااللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرْ


Khutbah Jumat:Empat Golongan Manusia

Dalam salah satu wasiatnya sebagaimana dinukil oleh Syikh Nawawi Al-Bantani dalam Nashaihul Ibad, Sayyidul Auliya Syaikh Abdul Qadir al-Jailani pernah berpendapat bahwa tipe manusia dapat dibagi dalam empat kelompok besar:


Pertama,
رَجُلٌ لاَ لِسَانَ لَهُ وَلاَ قَلْبَ وَهُوَ العَاصِى العَبِيّ
Yaitu kelompok manusia yang tidak berlidah dan tidak berhati merekalah para pendurhaka kepada Allah. Maka janganlah kita

Waktu; Kabaikan atau Keburukan

Tidak ada yang tengah-tengah atau netral, waktu diisi dengan kebaikan atau jika tidak pasti diisi dengan keburukan. Karena diam dan “ngangur” termasuk hal yang sia-sia yang merupakan keburukan.
Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata:
وَنَفْسُكَ إِنْ أَشْغَلَتْهَا بِالحَقِّ وَإِلاَّ اشْتَغَلَتْكَ بِالبَاطِلِ

“Jika dirimu tidak disibukkan dengan hal-hal yang baik, pasti akan disibukkan dengan hal-hal yang batil”
terutama pemuda, harus diisi dengan kegiatan positif:

Akibat buruk Hari Valentine

Kaum Muslimin Sidang Jumat Rohimakumullah
Dalam kesempatan yang penuh dengan keberkahan ini marilah kita untuk selalu meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah SWT. Kerena dengan ketaqwaanlah hidup kita akan bermakna dan mempunyai nilai disisi Allah SWT, dengan ketaqwaan juga kita akan dimuliakan Allah, sesuai dengan firmannya inna akromakum indallahi atqookum (orang yang paling mulia adalah mereka yang bertaqwa terhadap Allah SWT)

Khutbah IdulAdha: Hikmah Idul Qurban dan Keshalehan Nabi Ibrahim

Di pagi hari yang penuh barokah ini, kita berkumpul untuk melaksanakan shalat ‘Idul Adha. Baru saja kita laksanakan ruku’ dan sujud sebagai manifestasi perasaan taqwa kita kepada Allah SWT. Kita agungkan nama-Nya, kita gemakan takbir dan tahmid sebagai pernyataan dan pengakuan atas keagungan Allah. Takbir yang kita ucapkan bukanlah sekedar gerak bibir tanpa arti. Tetapi merupakan pengakuan dalam hati, menyentuh dan menggetarkan relung-relung jiwa manusia yang beriman. Allah Maha Besar. Allah Maha Agung. Tiada yang patut di sembah kecuali Allah. 

Karena itu, melalui mimbar ini saya mengajak kepada diri saya sendiri dan juga kepada hadirin sekalian: Marilah kita selalu bertawa kepada Allah SWTdengan menundukkan kepala dan jiwa kita di hadapan Allah Yang Maha Besar. Campakkan jauh-jauh sifat keangkuhan dan kecongkaan yang dapat menjauhkan kita dari rahmat Allah SWT. Sebab apapun kebesaran yang kita sandang, kita kecil di hadapan Allah. Betapapun perkasanya kita, masih lemah dihadapan Allah Yang Maha Kuat. Betapapun hebatnya kekuasaan dan pengaruh kita, kita tidak berdaya dalam genggaman Allah Yang Maha Kuasa atas segala-galanya. 

Allahuakbar 3x 
Hadirin Jama’ah Idul Adha yang dimuliakan Allah, 
Ada beberapa Nama Yang melekat dengan Hari Raya Idul Adha ini; yang pertama: “Hari Raya Haji”, dimana kaum muslimin sedang menunaikan haji yang utama, yaitu wukuf di Arafah. Mereka semua memakai pakaian yang sama yakni serba putih, Menghadap kearah yang sama, memiliki Tuhan yang Sama, ini semua melambangkan persamaan akidah dan pandangan hidup, mempunyai nilai persamaan dalam segala segi bidang kehidupan. Menandakan bahwa mereka sederajat, dan Sama-sama mendekatkan diri kepada Allah Yang Maha Perkasa, dengan bersama-sama membaca kalimat talbiyah. 

لَبَّيْكَ اللّهُمَّ لَبَّيْكَ لَبَّيْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ 

Kemudian yang kedua “Idul Qurban”, karena merupakan hari raya yang menekankan pada arti berkorban. Qurban itu sendiri memiliki makna dekat (yakni mendekatkan diri kepada Allah), kita berqurabn dengan menyembelih hewan ternak untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. 

Masalah pengorbanan ini, dalam lembaran sejarah kita diingatkan pada beberapa peristiwa yang menimpa Nabiyullah Ibrahim AS beserta keluarganya (Ismail dan Siti Hajar). 

Adapun Pengorbanan-pengorbanan Nabi Ibrahim ini bisa kita lihat; pertama; Nabi Ibrahim diperintahkan oleh Allah SWT untuk menempatkan istrinya siti Hajar bersama Nabi Ismail putranya, Mereka ditempatkan disuatu lembah yang tandus, gersang, tidak tumbuh sebatang pohon pun. Lembah itu demikian sunyi dan sepi tidak ada penghuni seorangpun. Nabi Ibrahim sendiri tidak tahu, apa maksud sebenarnya dari wahyu Allah yang menyuruh menempatkan istri dan putranya yang masih bayi itu, ditempatkan di suatu tempat paling asing, Tapi Nabi Ibrahim, maupun istrinya Siti Hajar, menerima perintah itu dengan ikhlas dan penuh tawakkal. 

Seperti yang diceritakan oleh Ibnu Abbas bahwa tatkala Siti Hajar kehabisan air minum hingga tidak bisa menyusui nabi Ismail, beliau mencari air kian kemari sambil lari-lari kecil (Sa’i) antara bukit Sofa dan Marwah sebanyak 7 kali. Tiba-tiba Allah mengutus malaikat jibril membuat mata air Zam Zam. Siti Hajar dan Nabi Ismail memperoleh sumber kehidupan. 

Lembah yang dulunya gersang itu, mempunyai persediaan air yang melimpah-limpah. Datanglah manusia dari berbagai pelosok negeril, untuk membeli air. Datang rejeki dari berbagai penjuru, dan makmurlah tempat sekitarnya. Akhirnya lembah itu hingga saat ini terkenal dengan kota mekkah, sebuah kota yang aman dan makmur, ini semua berkat do’a Nabi Ibrahim AS, hal ini dilukiskan oleh Allah dalam Al-Qur’an: 

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَـَذَا بَلَداً آمِناً وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ مَنْ آمَنَ مِنْهُم بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ 

Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berdo’a: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini, sebagai negeri yang aman sentosa dan berikanlah rizki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman diantara mereka kepada Allah dan hari kiamat.” (QS Al-Baqarah: 126) 

Hadirin Jama’ah Idul Adha yang dimuliakan Allah, 
Kemudian yang ketiga idul adha disebut juga sebagai “Idul Nahr” artinya hari memotong kurban. Dalam hal memotong hewan qurban ini, kita akan melihat pengorbanan yang kedua yang menimpa nabi Ibrahim AS; yakni Nabi Ibrahim diperintahkan oleh Allah untuk memotong Anaknya yang bernama Ismail yang kala itu masih berusia 7 tahun. Anak yang elok rupawan, cerdas, sehat dan cekatan ini, supaya dikorbankan dan disembelih dengan menggunakan tangannya sendiri. Sungguh sangat mengerikan! Peristiwa itu dinyatakan dalam Al-Qur’an Surah As-Shoffat : 102 : 

قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِن شَاء اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ 

Ibrahim berkata : “Hai anakkku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu “maka fikirkanlah apa pendapatmu? Ismail menjawab: Wahai bapakku kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. InsyaAllah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.” (QS As-shaffat: 102). 

Ketika keduanya siap untuk melaksanakan perintah Allah. Iblis datang menggoda sang ayah, sang ibu dan sang anak silih berganti. Akan tetapi Nabi Ibrahim, Siti hajar dan Nabi Ismail tidak tergoyah oleh bujuk rayuan iblis yang menggoda agar membatalkan niatnya. Bahkan siti hajarpun mengatakan, : ”jika memang benar perintah Allah, akupun siap untuk di sembelih sebagai gantinya ismail.” Mereka melempar iblis dengan batu, mengusirnya pergi dan Iblispun lari tunggang langgang. Dan ini kemudian menjadi salah satu rangkaian ibadah haji yakni melempar jumrah; jumrotul ula, wustho, dan aqobah yang dilaksanakan di mina. 

Hadirin Jama’ah Idul Adha yang dimuliakan Allah 
Dalam keadaan seperti itu Allah SWT memerintahkan jibril untuk mengambil seekor kibasy dari surga sebagai gantinya. Dan Allah swt berseru dengan firmannya, menyuruh menghentikan perbuatannya, tidak usah diteruskan pengorbanan terhadap anaknya. Allah telah meridloi ayah dan anak yang telah melaksanakan apa yang telah Allah Perintahkan. Sebagai imbalan keikhlasan mereka, Allah mencukupkan dengan penyembelihan seekor kambing sebagai korban, sebagaimana diterangkan dalam Al-Qur’an surat As-Shaffat ayat 107-110: 

وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ 

“Dan kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” 

وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الْآخِرِينَ 

“Kami abadikan untuk Ibrahim (pujian yang baik) dikalangan orang-orang yang datang kemudian.” 

سَلَامٌ عَلَى إِبْرَاهِيمَ 

“Yaitu kesejahteraan semoga dilimpahkan kepada Nabi Ibrahim.” 

كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ 

“Demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.” 
Menyaksikan tragedi penyembelihan yang tidak ada bandingannya dalam sejarah umat manusia itu, Malaikat Jibril menyaksikan ketaatan keduanya, setelah kembali dari syurga dengan membawa seekor kibasy, kagumlah ia seraya terlontar darinya suatu ungkapan “Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar.” Nabi Ibrahim menyambutnya “Laailaha illahu Allahu Akbar.” Yang kemudian di sambung oleh Nabi Ismail “Allahu Akbar Walillahil Hamdu.’ 

Hadirin Jama’ah Idul Adha yang dimuliakan Allah 
Inilah sejarah pertamanya korban di Hari Raya Qurban. Yang kita peringati pada pagi hari ini. Allah Maha pengasih dan Penyayang. Korban yang diperintahkan bukan seperti yang diperintahkan kepada Nabi Ibrahim, yakni menyembelih anaknya sendiri, namun cukup binatang ternak, baik kambing, sapi, kerbau maupun lainnya. Sebab Allah tahu, kita tidak akan mampu menjalaninya, jangankan memotong anak kita sendiri, memotong sebagian harta kita untuk menyembelih hewan qurban, kita masih terlalu banyak berfikir. memotong 2,5 % harta kita untuk zakat, kita masih belum menunaikannya. Memotong sedikit waktu kita untuk sholat lima waktu, kita masih keberatan. Menunda sebentar waktu makan kita untuk berpuasa, kita tak mampu melaksanakannya, dan sebagainya. Begitu banyak dosa dan pelanggaran yang kita kerjakan, yang membuat kita jauh dari Rahmat Allah SWT. 

Hadirin Jama’ah Idul Adha yang dimuliakan Allah 
Adapun Hikmah yang dapat diambil dari pelaksanaan shalat Idul Adha ini adalah, bahwa hakikat manusia adalah sama. Yang membedakan hanyalah taqwanya. 

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ 

Dan bagi yang menunaikan ibadah haji, pada saat wukuf di Arafah memberi gambaran bahwa kelak manusia akan dikumpulkan di padang mahsyar untuk dimintai pertanggung jawaban. 
Di samping itu, kesan atau i’tibar yang dapat diambil dari peristiwa nabi Ibrahim diatas adalah: 
Pertama, Hendaknya kita sebagai orang tua, mempunyai upaya yang kuat membentuk anak yang sholih, menciptakan pribadi anak yang agamis, anak yang berbakti kepada orang tua, lebih-lebih berbakti terhadap Allah dan Rosul-Nya. 
Kedua, perintah yang telah digariskan oleh Allah SWT, harus dilaksanakan. Harus disambut dengan tekad sami’na wa ‘atha’na. Karena sesungguhnya, ketentuan-ketentuan Allah SWT pastilah manfaatnya kembali kepada kita sendiri. 
Ketiga, adalah kegigihan syaitan yang terus menerus mengganggu manusia, agar membangkang dari ketentuan Allah SWT. Syaitan senantiasa terus berusaha menyeret manusia kepada kehancuran dan kegelapan. Maka janganlah mengikuti bujuk rayu syaithon, karena sesungguhnya syaithon adalah musuh yang nyata. 
Keempat, jenis sembelihan berupa binatang ternak, artinya dengan matinya hawan ternak yang kita sembelih, dan menetesnya darah, ini melambangkan kita membuang kecongkaan dan kesombongan kita, dan semua hawa nafsu hayawaniyah harus kita buang, jangan dibiarkan tumbuh subur dalam hati kita. 

Hadirin Jama’ah Idul Adha yang dimuliakan Allah, 
Sangatlah tepat apabila perayaan Idul Adha digunakan menggugah hati kita untuk berkorban bagi negeri kita tercinta, yang tidak pernah luput dirundung kesusahan dan perselisihan. Jika kita lihat dari pengorbanan Nabi Ibrahim AS diatas, yang dicatat dalam sejarah umat manusia itulah yang membuat Ibrahim menjadi seorang Nabi dan Rasul, dan mempunyai arti yang sangat besar. Dari sejarahnya itu, maka lahirlah kota Makkah dan Ka’bah sebagai kiblat umat Islam seluruh dunia, dengan dilepasnya siti hajar dan Ismail di lembah yang tandus, maka timbullah air zam-zam yang tidak pernah kering, sejak ribuan tahun yang silam, sekalipun tiap harinya dikuras berjuta liter. 

Akhirnya dalam kondisi seperti ini kita banyak berharap, berusaha dan berdoa, mudah-mudahan kita semua, para pemimpin kita, pejabat-pejabat kita, dalam berjuang tidak hanya mengutamakan kepentingan pribadi dan kelompok, tapi berjuang untuk kepentingan dan kemakmuran masyarakat, bangsa dan negara. Kendatipun perjuangan itu tidaklah mudah, memerlukan pengorbanan yang besar. Oleh kerena itulah, Hanya orang-orang bertaqwa lah yang sanggup melaksanakan perjuangan dan pengorbanan ini dengan sebaik-baiknya. Sehingga bisa memberikan kontribusi yang besar bagi ummat dan masyarakat generasi penerus kita nantinya. 

أعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطنِ الرَّجِيْمِ. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ. إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَر. بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنِي وَاِيِّاكُمْ بما فيه مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَتَقَبَّلْ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ اِنّهُ هُوَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ. فَاسْتَغْفِرُوْا اِنَّهُ هُوَاْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ 

Khutbah kedua: 

اللهُ اَكْبَرْ (3×) اللهُ اَكْبَرْ (4×) اللهُ اَكْبَرْ كبيرا وَاْلحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ الله بُكْرَةً وَ أَصْيْلاً لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَ اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَللهِ اْلحَمْدُ 

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ اِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَاَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى اِلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا 

اَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا اَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهّ اَمَرَكُمْ بِاَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى اِنَّ اللهَ وَمَلآ ئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ. 

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اَللّٰهُمَّ اجْعَلْ حَجَّهُمْ حَجًّا مَبْرُوْرًا وَسعيهم سَعْيًا مَشْكُوْرًا وَذنبهم ذَنْبًا مَغْفُوْرًا وَعملهم عَمَلًا صَالِحًا مَقْبُوْلًا وَتِجَارَةً لَنْ تَبُوْرَ. يَا عَالِمَ مَا فِى الصُّدُوْرِ أَخْرِجْنا يَا اللهُ مِنَ الظُّلُمٰتِ اِلَى النُّوْرِ. 

Ya Allah ya Ghoffar, ampunilah dosa-dosa kami, dosa ibu bapak kami, dosa suami / istri kami, dosa anak-anak kami, dosa saudara-saudara kami dan dosa orang yang pernah berjasa kepada kami. 

Ya Allah ya Rahiim, tunjukilah kami jalan yang lurus, jalan yang penuh dengan peunjuk dan ridhomu, bukan jalan yang engkau sesatkan dan bukan juga jalan yang mendatangkan murkaMU 

Ya Allah ya Rahiim, berikanlah haji saudara-saudara kami menjadi haji yang mabrur, haji yang bisa memberi manfaat buat diri mereka secara pribadi, yakni pahala Syurga dan dan haji yang berdampak positif buat keluarga dan masyarakat disekitarnya. 

Ya Allah, terimalah Qurban saudara-saudara kami, jadikan itu sebagai amal ibadah disisimu 

Ya Allah, berikanlah kami yang belum melaksanakan rukun islam yang kelima ini, untuk secepatnya bisa melaksanakannya, kami memohon kepadaMu, jangan engkau panggil kami untuk meninggalkan dunia ini, sebelum kami bisa menginjakkan kaki kami kerumahMu untuk melaksanakan haji, Kami juga ingin menginjakkan kaki kami di masjid RosulMu Muhammad SAW, kami ingin berziarah kemaqomnya ya Allah, begitu besar rasa rindu ini kepadanya. 

رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ عِبَادَاللهِ ! اِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِى اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوااللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرْ 

و السلام عليكم ورحمة اللهِ وبركا تــه