Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2025

Terjemahan Qiroah Bahasa Arab Kelas 12 Materi Pendidikan di Universitas I ٱلدِّرَاسَةُ فِي ٱلْجَامِعَةِ

Seorang siswa melanjutkan ke jenjang pendidikan universitas setelah menyelesaikan pendidikan di tingkat sekolah menengah. Banyak orang berpendapat bahwa jenjang pendidikan universitas adalah jenjang pendidikan paling penting, yang dianggap oleh para pakar sebagai elemen dasar dan penting untuk mendukung pengembangan kepribadian para pemuda dalam kehidupan mereka.

Jenjang ini ditandai dengan produktivitas, kontribusi, dan pengorbanan. Selain itu, fase ini juga merupakan masa yang penuh dengan kerja keras, aktivitas, keseriusan, dan interaksi. Di dalamnya, mahasiswa memperoleh banyak pengalaman dan keterampilan yang tidak ditemukan di jenjang pendidikan lainnya dan belum dimiliki sebelumnya.

Pendidikan universitas memiliki keunikan tersendiri dibandingkan dengan jenjang pendidikan lainnya, yang menunjukkan pentingnya jenjang ini melalui berbagai hal berikut:

1. Mahasiswa lebih mandiri

Mahasiswa universitas menjadi mandiri dengan menentukan waktu belajarnya sendiri, menyelesaikan tugas-tugasnya, dan tidak banyak bergantung pada orang lain selain dirinya sendiri.

2. Praktik langsung dalam pembelajaran

Mahasiswa universitas menerapkan teori yang dipelajari melalui praktik langsung. Mereka tidak hanya mengandalkan teori, tetapi juga mengikuti proses pembelajaran yang aplikatif.

3. Pengayaan pengalaman praktis

Pendidikan universitas memperkaya pengalaman praktis melalui kebiasaan membaca buku, makalah penelitian, dan jurnal ilmiah baik di dalam perpustakaan maupun di luar. Selain itu, mahasiswa dilatih untuk mengemukakan pendapat dan gagasan yang inovatif.

4. Keterampilan dan pelatihan praktis

Pendidikan universitas tidak hanya menyediakan keterampilan dasar, tetapi juga memberikan pelatihan praktis yang esensial berdasarkan berbagai bidang keahlian mahasiswa. Kegiatan ini mendorong mahasiswa untuk terlibat dalam aktivitas ilmiah yang mengandalkan perbandingan dan analisis.

5. Peluang kerja sesuai keahlian

Pendidikan universitas memberikan peluang kepada mahasiswa untuk mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan bidang keahlian dan keterampilan mereka.

6. Pemanfaatan teknologi modern

Pendidikan universitas selalu terkait dengan penggunaan teknologi dan eksperimen ilmiah di laboratorium, yang sejalan dengan kemajuan zaman modern.

Semua hal tersebut menegaskan bahwa masa studi di universitas adalah jenjang pendidikan yang paling penting dan terbaik. Sebab, jenjang ini membentuk kepribadian yang mandiri dalam menyelesaikan tugas, memperkaya pengalaman dan keterampilan, melatih mahasiswa dalam menerapkan teori, serta mempersiapkan mereka untuk mendapatkan peluang kerja yang sesuai dengan keahlian mereka. Selain itu, pendidikan universitas selalu berkaitan dengan eksperimen ilmiah dan perkembangan teknologi.


Belajar Bahasa Arab MA Lebih Lengkap di Almabrur

Sedang mempelajari Bahasa Arab Madrasah Aliyah? Lanjutkan belajar melalui Almabrur Arabic Learning dengan materi Kelas X, XI, dan XII yang tersusun berdasarkan kelas dan BAB, dilengkapi audio, terjemahan, latihan, serta progress belajar.
Lihat Almabrur Arabic Learning


Khutbah Jumat; Awal Baru untuk mempersiapkan hidup yang berkualitas

Dengan ucapan Alhamdulillah, kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Saat ini kita sudah memasuki tahun baru dan bulan baru, baik dalam kalender Masehi maupun Hijriah. Dalam kalender Masehi, kita berada di tanggal 3 Januari 2025, sementara dalam kalender Hijriah, kita berada di tanggal 3 Rajab.  

Hal ini menandakan bahwa perjalanan waktu terus berjalan, dan hakikat waktu adalah sesuatu yang tidak akan pernah kembali. Jika kemarin, pada tanggal 31 Desember 2024, banyak orang sibuk dengan aktivitas menyambut tahun baru, maka waktu itu kini telah berlalu dan tidak akan pernah kembali.  

Banyak orang memiliki harapan-harapan baru untuk tahun ini. Namun, sebagai seorang muslim yang beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, bagaimana kita seharusnya menyikapi hal ini?  

Setidaknya kita harus menyadari bahwa ada sesuatu yang sangat berharga dalam kehidupan kita, yaitu waktu. Waktu tidak bisa dibeli dengan harta atau uang, sebagaimana pepatah mengatakan:  

"الوقت أثمن من الذهب" 

"Waktu itu lebih berharga daripada emas."

Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan kita semua waktu yang sama dalam sehari, yaitu 24 jam. Tidak ada yang lebih dan tidak ada yang kurang. Namun, yang membedakan seseorang adalah bagaimana ia memanfaatkan waktu yang telah Allah berikan kepadanya.  

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:  

"نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ"

"Ada dua nikmat yang sering dilupakan oleh banyak manusia, yaitu kesehatan dan waktu luang." (HR. Bukhari)  

Betapa seringnya kita lalai dengan nikmat kesehatan dan waktu luang. Terkadang kita mengabaikan pola makan dan gaya hidup, hingga baru menyadari betapa berharganya kesehatan ketika kita jatuh sakit. Demikian pula dengan waktu, yang sering kita sia-siakan tanpa mengisinya dengan hal-hal yang bermanfaat.  

Begitu pentingnya waktu sehingga Allah Subhanahu wa Ta'ala sering bersumpah dengan waktu dalam Al-Qur'an, seperti dalam firman-Nya:  

وَالْعَصْرِ ۝ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ ۝"  

"Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian." (QS. Al-‘Ashr: 1-2)  

وَالضُّحَىٰ ۝" 

"Demi waktu duha."* (QS. Adh-Dhuha: 1)  

وَالْفَجْرِ ۝" 

"Demi waktu fajar."(QS. Al-Fajr: 1)  

Sumpah Allah dengan waktu menunjukkan bahwa waktu adalah anugerah yang sangat berharga, sehingga kita perlu memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya.  

Memasuki tahun baru ini, mari kita merenung dan merefleksi perjalanan hidup kita selama tahun-tahun sebelumnya. Jika kita merasa banyak waktu terbuang sia-sia tanpa melakukan kebaikan dan mendekatkan diri kepada Allah, maka saatnya kita memperbaiki diri. Jangan sampai kebiasaan buruk tersebut terulang di tahun ini.  

Sebaliknya, jika kita telah banyak melakukan kebaikan dan ketaatan kepada Allah, mari kita pertahankan dan tingkatkan. Sebab, kualitas kehidupan seseorang di dunia ini dapat diukur dari bagaimana ia memanfaatkan waktunya dan kedekatannya kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.  

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Allah sangat murka kepada hamba-Nya yang menyia-nyiakan waktu, baik untuk urusan dunia maupun akhirat. Bahkan, waktu yang tidak digunakan untuk hal-hal bermanfaat akan menjadi penyesalan di hari kiamat kelak.  

Kaum muslimin jamaah Jumat rahimakumullah, mari kita menjaga waktu kita dengan sebaik-baiknya. Jika tidak bisa sepenuhnya digunakan untuk kehidupan akhirat, maka gunakanlah waktu tersebut untuk hal-hal produktif yang bermanfaat di dunia.  

Semoga kita semua senantiasa diberikan petunjuk dan taufik oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala agar dapat memanfaatkan waktu dengan baik. Kita memohon kepada Allah agar apa yang kita dengar, lihat, ucapkan, dan pikirkan senantiasa mendatangkan ridha-Nya. 

اَلْحَضَارَةُ الْإِسْلَامِيَّةُ بَيْنَ الْأَمْسِ وَالْيَوْمِ.

 اَلْحَضَارَةُ الْإِسْلَامِيَّةُ بَيْنَ الْأَمْسِ وَالْيَوْمِ.

أَنْزَلَ اللَّهُ الْقُرْآنَ عَلَى رَسُولِهِ مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم، هُدًى لِلْمُسْلِمِيْنَ وَلِلنَّاسِ جَمِيعًا، فَاحْتَاجَ الْمُسْلِمُوْنَ إِلَى قِرَاءَةِ هَذَا الْكِتَابِ الْكَرِيمِ، وَ فَهْمِ مَعَانِيْهِ، فَظَهَرَتْ عُلُومُ الْقِرَاءَاتِ، وَ عُلُومُ التَّفْسِيرِ، وَالتَّفْسِيرُ، وَعُلُومُ اللُّغَةِ الْعَرَبِيَّةِ، وَاحْتَاجَ الْمُسْلِمُوْنَ إِلَى أَنْ يَفْهَمُوا الشَّرِيْعَةَ،  فَظَهَرَتْ عُلُوْمُ أُصُولِ الْفِقْهِ، وَ الْفِقْهُ، وَقَدْ فَرَضَ الْقُرْآنُ عَلَى الْمُسْلِمِينَ أَنْ يَتَفَكَّرُوا فِي أَحْوَالِ الْكَوْنِ، وَهَذَا اِهْتَمَّ الْمُسْلِمُوْنَ بِالْعُلُومِ التَّجْرِيرِيبِيَّةِ، فَظَهَرَتْ عُلُوْمُ الْكِيْمِيَاءِ، وَالْفِيْزِيَاءِ، وَالطِّبِّ، وَمَا إِلَى ذَلِكَ مِنَ الْعُلُومِ الطَّبِيعِيَّةِ. وَ ظَهَرَ الْمَنْهَجُ التَّجْرِبِيُّ لِأَوَّلِ مَرَّةٍ فِيْ تَارِيْخِ الْحَضَارَةِ الْبَشَرِيَّةِ عَلَى عُلَمَاءِ الْإِسْلَامِ.

وَاعْتُبِرَ جَابِرَ بْنُ حَيَّانَ. مِنْ أَوَائِلِ الَّذِيْنَ أَدْخَلُوا هَذَا الْمَنْهَجَ فِي أَبْحَاثِهِمْ. وَكَانَ جَابِرٌ أَعْظَمُ كِيْمِيَائِيْ، وَمِنْ مُصَنَّفَاتِهِ فِي الْكِيْمِيَاءِ، كِتَابُ الْخَوَّاصِ، وَ كِتَابُ السَّبْعِيْنِ، وَكُتَبٌ أُخْرَى مَشْهُوْرَةٌ، هُوَ يَعْمَلُ صَيْدَلَانِيًّا فِي الْكُوفَةِ.

وَ اعْتُبِرَ ابْنُ هَيْثَمَ مِنَ الرُّوَّادِ الَّذِيْنَ يُؤَسِّسُوا الْمَنْهَجَ التَّجْرِبِيَّ فِي عِلْمِ الْفِيْزِيَاءِ، فَهُوَ يُنْشِئُ عِلْمَ الضَّوْءِ. وَاشْتَهَرَ الْبَيْرُونِي بِقِيَاسِ أَبْعَادِ الْأَرْضِ، وَبَيَانِ كُسُوْفِ الشَّمْسِ، وَ نَاقَشَ الْأَدِلَّةَ عَلَى كُرَوِيَّةِ الْأَرْضِ، وَدَوَرَانِهَا حَوْلَ مِحْوَرِهَا وَ حَوْلَ الشَّمْسِ، وَابْتَكَرَ مِرْصَادًا لِرَصْدِ الْكَوَاكِبِ وَالنُّجُومِ.

وَنَجَحَ الرَّازِيْ فِي الطِّبِّ، وَكَانَ لَهُ مَعَارِفُ طِبِّيَّةٌ وَاسِعَةٌ لَمْ يَعْرِفُهَا أَحَدٌ قَبْلَهُ. وَلُقِّبَ بِأَمِيْرِ الْأَطِبَّاءِ. وَكَانَ ابْنُ نَفِيْسٍ أَوَّلَ مَنْ اِكْتَشَفَ الدَّوْرَةَ الدَّمَوِيَّةَ، وَبَيَّنَ حَرَكَةَ الدَّوْرَةِ الدَّمَوِيَّةِ فِي الرِّئَتَيْنِ وَفِي الْجِسْمِ، وَاشْتَهَرَ كَذَلِكَ بِتَشْرِيْحِ الْجِسْمِ، وَهُوَ أَسَاسُ عِلْمِ التَّشْرِيْحِ. وَسَبَقَ كَذَلِكَ عُلَمَاءُ الإِسْلَامِ فِي الرِّيَاضِيَّاتِ مِنْهُمْ اِبْنُ جَابِرٌ الْبَيَّانِي، وَمُوسَى ابْنِ شَاكِرِ، وَالْبَيْرُوْنِي.

هَكَذَا كَانَ الإِسْلامُ مِنْ أَقْوَى عَوَامِلِ التَّقَدُّمِ الْحَضَارِي فِي مَيْدَانِ الْعُلُومِ الْمُخْتَلِفَةِ. وَهَكَذَا تَقَدَّمَتْ اَلْحَضَارَةُ الْإِسْلامِيَّةُ فِي الْوَقْتِ الَّذِيْ كَانَتْ فِيْهِ أَوْرُبًا فِيْ ظَلَامِ الْجَهْلِ، فِي الْوَقْتِ الَّذِي يُسَمَّى بِالْقُرُوْنِ الْوُسْطَى. وَالْيَوْمَ نُشَاهِدُ كَثِيْرًا مِنَ الدُّوَلِ الْغَرْبِيَّةِ فِي أَمْرِيْكَا، وَأَوْرُبًا لَهَا سَيْطَرَةً عُظْمَى عَلَى الدُّوَلِ الْإِسْلامِيَّةِ وَغَيْرِهَا، مِنَ الدُّوَلِ فِي الْعَالَمِ كُلِّهِ. فِي جَمِيْعِ مَيَادِيْنِ الْحَيَاةِ الاِقْتِصَادِيَّةِ وَالسَّيَاسِيَّةِ وَالْحَضَارِيَّةِ، أَيْنَ نَحْنُ الْمُسْلِمِيْنَ الْيَوْمِ مِنْ أُوْلَئِكَ الْغَرْبِ؟

(نقل من كتاب تعليم اللغة العربية" ألفها د. هديات للسنة الثالثة,صفحة ٥-٦ مع بعض التغاير)

Terjemahan Materi Qiroah tentang اَلْحَضَارَةُ الْإِسْلَامِيَّةُ بَيْنَ الْأَمْسِ وَالْيَوْمِ

Peradaban Islam antara Masa Lalu dan Masa Kini

Allah menurunkan Al-Qur'an kepada Rasul-Nya, Muhammad ﷺ, sebagai petunjuk bagi kaum Muslimin dan seluruh manusia. Oleh karena itu, kaum Muslimin merasa perlu untuk membaca kitab mulia ini dan memahami maknanya. Dari kebutuhan ini, lahirlah ilmu-ilmu tentang qira'at (cara membaca Al-Qur'an), tafsir, dan ilmu bahasa Arab.

Selain itu, kaum Muslimin juga membutuhkan pemahaman terhadap syariat Islam. Maka muncullah ilmu ushul fikih dan fikih. Al-Qur'an juga memerintahkan umat Islam untuk memikirkan keadaan alam semesta. Hal ini mendorong kaum Muslimin untuk mendalami ilmu-ilmu eksperimental, sehingga berkembanglah ilmu kimia, fisika, kedokteran, dan ilmu-ilmu alam lainnya. Bahkan, metode eksperimental pertama dalam sejarah peradaban manusia diperkenalkan oleh para ilmuwan Islam.

Jabir bin Hayyan dianggap sebagai salah satu tokoh pertama yang menggunakan metode ini dalam penelitiannya. Jabir adalah ahli kimia terbesar pada masanya. Di antara karya-karyanya yang terkenal dalam bidang kimia adalah Kitab al-Khawash, Kitab as-Sab’în, dan beberapa kitab lainnya. Ia juga bekerja sebagai apoteker di Kufah.

Ibnu Haytham dikenal sebagai salah satu pelopor yang merumuskan metode eksperimental dalam ilmu fisika, khususnya dalam ilmu optik. Al-Biruni terkenal dengan pengukuran dimensi bumi, penjelasan tentang gerhana matahari, serta pembahasan bukti-bukti mengenai bentuk bumi yang bulat dan rotasinya mengelilingi porosnya serta mengelilingi matahari. Ia juga menciptakan alat pengamatan untuk mempelajari pergerakan planet dan bintang.

Ar-Razi berhasil mencapai puncak kesuksesan dalam bidang kedokteran. Ia memiliki pengetahuan medis yang sangat luas, bahkan tidak ada seorang pun sebelum masanya yang menyamai kehebatannya. Oleh karena itu, ia dijuluki sebagai Amirul Athibba' (Pemimpin Para Dokter). Sementara itu, Ibnu Nafis adalah orang pertama yang menemukan sistem peredaran darah, menjelaskan sirkulasinya melalui paru-paru dan tubuh, serta dikenal dalam bidang anatomi, yang menjadi dasar ilmu anatomi modern.

Dalam bidang matematika, para ilmuwan Islam juga unggul. Di antaranya adalah Ibnu Jabir al-Bayani, Musa bin Syakir, dan al-Biruni.

Begitulah Islam menjadi salah satu faktor terkuat dalam kemajuan peradaban di berbagai bidang ilmu pengetahuan. Pada masa ketika peradaban Islam mencapai puncaknya, Eropa masih berada dalam kegelapan zaman pertengahan. Namun, saat ini kita menyaksikan banyak negara Barat di Amerika dan Eropa mendominasi negara-negara Islam serta seluruh dunia di berbagai bidang kehidupan, baik itu ekonomi, politik, maupun peradaban.

Lalu, di manakah posisi kita, umat Islam saat ini, dibandingkan dengan Barat?

Khutbah Jumat Singkat: Makna Bulan Rajab dan Cara Memuliakannya

Kaum muslimin jamaah Jumat, rahimakumullah.

Dalam menghitung bulan, menghitung minggu, dan menghitung hari, tentu tidak lama lagi kita akan berjumpa dengan bulan yang agung, bulan Ramadan. Sebelum memasuki bulan Ramadan, kita akan ditemukan dengan bulan Syakban, dan pada saat ini kita berada di bulan Rajab. Berarti tidak lama lagi Ramadan akan kita jumpai. Tetapi perlu kita ketahui bahwa bulan Rajab ini merupakan bulan yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Jika kita lihat di dalam Al-Qur'an, Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman bahwa bulan di sisi Allah Subhanahu Wa Ta'ala ada 12 bulan. Dari 12 bulan itu, ada di antara bulan-bulan itu yang sangat Allah muliakan, yang sangat diagungkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ

"Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram." (QS. At-Taubah: 36)

Dalam hadis Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam disebutkan, tiga di antara bulan itu berurutan yakni Zulkaidah, Zulhijah, dan Muharram, dan satu lagi berada sendiri yakni bulan Rajab. Kita saat ini berada di bulan Rajab, bulan yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Apa maksud bulan ini dimuliakan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala? Syekh Abdul Qadir al-Jilani menyebutkan, mengartikan dan mendefinisikan bulan Rajab itu sesuai dengan namanya.

Yang pertama, رَجَبٌ yakni ada huruf ro, kemudian huruf jim, dan huruf ba. Huruf ra, Syekh Abdul Qadir al-Jilani menyebutkan bahwa ra itu maknanya rahmat, yakni pada bulan Rajab ini Allah Subhanahu Wa Ta'ala banyak melimpahkan rahmat-Nya ke muka bumi ini. Allah menaburkan kasih sayang-Nya, Allah memberikan kasih sayang itu kepada siapa pun yang memuliakan bulan Rajab. Sehingga ada perbedaan bagaimana Allah memberikan rahmat di bulan yang lain dengan Allah memberikan rahmat di bulan Rajab ini. Orang yang mendapatkan rahmat Allah Subhanahu Wa Ta'ala pada bulan Rajab, pada bulan yang Allah muliakan, mereka akan lebih mudah melaksanakan amal ibadah, mendekatkan dirinya kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Kenapa orang dapat rahmat itu? Tidak lain berpikirannya bagaimana kehidupanku ini bisa dekat kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Karena dia sadar bahwa hidup ini terus berjalan, waktu terus berputar, dan kematian itu semakin dekat.

Dengan menyadari bahwa kematian itu semakin dekat, dia akan meningkatkan kualitas ibadahnya kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Terlebih lagi, kalau kita lihat histori, kita lihat sejarah, pada bulan Rajab inilah ada peristiwa yang sangat mewah, yakni peristiwa Isra' dan Mi'raj. Apa yang kita dapat, apa yang kita petik dari peristiwa Isra' dan Mi'raj? Kalau Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam dipanggil untuk menghadap Allah Subhanahu Wa Ta'ala menerima shalat, berarti perintah shalat ini merupakan perintah yang sangat agung, perintah yang sangat istimewa yang Allah berikan kepada hamba-hamba-Nya, kepada umat Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam.

Sehingga mereka yang memuliakan bulan Rajab, dia sadar bahwa ada momen yang paling bersejarah dalam bulan ini, yakni dapatnya perintah shalat dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam dan itu untuk kita semua. Sehingga dengan kesadaran ini, dia akan meningkatkan kualitas dan kuantitasnya dalam melaksanakan ibadah shalat kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Kaum muslimin jamaah Jumat, rahimakumullah.

Ini yang pertama, yakni mereka yang mendapatkan kemuliaan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala pada bulan Rajab ini, mereka mendapatkan rahmat oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Kemudian di bulan Rajab ini, kata Syekh Abdul Qadir al-Jilani, maknanya adalah **جَ** itu adalah judun. Judun itu adalah kebaikan. Allah taburkan begitu banyak kebaikan di bulan Rajab. Apa maksudnya Allah taburkan kebaikan itu? Kebaikan itu adalah jika kita melakukan kebaikan di bulan-bulan yang lain, tentu itu akan mendapatkan pahala di sisi Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Tetapi jika kebaikan itu kita lakukan di bulan Rajab, maka kebaikan itu akan berlipat ganda pahalanya di sisi Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Kaum muslimin jamaah Jumat, rahimakumullah.

Jika kita lihat, dunia ini begitu luasnya, begitu banyak terhampar-hamparan berbagai macam bentuk yang ada di muka bumi ini. Tetapi ada tempat yang paling istimewa yang Allah muliakan yakni Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Yakni itu merupakan tanah haram, tanah yang tempat yang sangat dimuliakan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Sehingga mereka yang diberikan kesempatan untuk hadir di sana, ibadah di sana, dia akan mendapatkan kebaikan yang berlipat ganda. Sebagaimana kalau kita lihat satu rakaat orang yang beribadah di Masjidil Haram, pahalanya sama dengan 100.000 rakaat orang beribadah di masjid yang lain. Apa maksud dari ini? Bahwa Allah memuliakan tempat itu, Allah memuliakan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi sehingga kebaikan di sana berlipat ganda yang Allah berikan kepada hamba-Nya yang melakukan kebaikan.

Sekarang kita lihat, ada juga di antara bulan itu dari 12 bulan yang Allah berikan, yang Allah tetapkan, ada bulan yang sangat Allah muliakan. Apa maksudnya? Jika kita melakukan kebaikan di bulan Rajab ini, tentu kebaikan itu akan dilipatgandakan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Kita melaksanakan kebaikan di selain bulan Rajab, Allah beri pahala. Tetapi kalau kita melakukan kebaikan di bulan Rajab, maka kebaikan itu akan Allah lipatgandakan.

Kaum muslimin jamaah Jumat, rahimakumullah.

Imam Ghazali menyebutkan di dalam kitabnya apa tanda orang itu mendapatkan kemuliaan Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Dia menyebutkan seseorang itu dimuliakan di hari-hari yang mulia, di tempat-tempat yang mulia, di waktu-waktu yang mulia. Allah mudahkan ia untuk melakukan kebaikan berada di bulan Rajab, sehingga dia tertarik, dia bersemangat untuk beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Bisa jadi ini adalah kategori bahwa mereka dimuliakan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Sebaliknya sama, jika ada orang yang melakukan keburukan di hari-hari yang mulia, di bulan-bulan yang mulia, di tempat-tempat yang mulia, berarti ia sedang mendapatkan kemarahan Allah, kemurkaan Allah. Kenapa? Karena dia di tempat yang mulia, di waktu yang mulia, di bulan yang mulia, dia berani-beraninya melanggar aturan-aturan Allah dan bermaksiat kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Sehingga keburukan yang dilakukan di bulan yang haram, di bulan yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala, itu pun akan berlipat ganda hukumannya di sisi Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Kaum muslimin jamaah Jumat, rahimakumullah.

Inilah keistimewaan bulan Rajab, yang mana kita saat ini sedang berada di bulan ini. Tugas kita sebagai bentuk kemuliaan kita, sebagai bentuk rasa kita menghormati bulan ini, mari kita meningkatkan ketaatan kita kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Memperbanyak kebaikan-kebaikan sebagaimana banyak ulama mengatakan bulan Rajab ini adalah bulan kita menanam. Tentu kalau kita berkebun, pada saat menanam kita ingin menanam bibit-bibit yang terbaik. Tentu pada saat kita menanam, kita ingin menanam begitu banyak bibit-bibit supaya kita akan mendapatkan hasil yang lebih banyak. Oleh sebab itu, pada bulan ini, mari kita memperbanyak kebaikan kita, memperbanyak shalat kita, memperbanyak zikir kita, memperbanyak membaca Al-Qur'an kita. Untuk apa? Supaya nanti pada saat kita panen di bulan suci Ramadan, buahnya sudah layak untuk kita petik. Buahnya sudah bisa kita nikmati, sehingga pada saat itu kita tinggal merasakan kenikmatan begitu dekatnya kita kepada Allah, begitu enaknya kita bisa bersama dan dekat kepada Allah Subhanahu Wata'ala