Postingan

Menampilkan postingan dengan label CORETAN

Jangan sia-siakan Kesempatan Menjadi Ahlul Qur'an

Kesempatan Menjadi Ahlul Qur'an

Kesempatan menjadi bagian dari Ahlul Qur'an tidak diberikan kepada setiap orang. Karena itu, ketika Allah SWT menghadirkan kesempatan tersebut dalam hidupmu, jangan pernah menyia-nyiakannya.

Jangan pernah menganggap menjadi guru ngaji sebagai pekerjaan yang hina, rendah, atau tidak bernilai di mata manusia. Bisa jadi justru itulah cara Allah SWT memuliakanmu dan menjadikanmu termasuk orang-orang yang dekat dengan-Nya, yaitu keluarga Allah dan orang-orang pilihan-Nya, para Ahlul Qur'an.
Memang, tidak sedikit orang yang memandang bahwa profesi guru ngaji bukanlah pekerjaan yang prestisius atau sesuatu yang layak dibanggakan di hadapan masyarakat. Anggapan itu mungkin benar menurut ukuran sebagian manusia. Namun, ukuran kemuliaan di sisi Allah SWT sangat berbeda dengan ukuran kemuliaan di mata manusia.

Di saat banyak orang mengejar kedudukan, jabatan, dan pujian, Allah justru memilih sebagian hamba-Nya untuk mengajarkan firman-Nya, menjaga kalam-Nya, dan menanamkan kecintaan kepada Al-Qur'an dalam hati generasi penerus.

Maka renungkanlah sejenak:

Apa yang sebenarnya engkau harapkan?
Apakah penilaian manusia yang sementara dan mudah berubah?
Ataukah penilaian Allah SWT yang abadi dan menentukan kemuliaanmu di dunia serta keselamatanmu di akhirat?

Jika Allah telah memberimu amanah untuk mengajar Al-Qur'an, bersyukurlah. Sebab tidak semua orang mendapatkan kehormatan yang agung tersebut.

Khutbah Jumat Singkat: Makna Bulan Rajab dan Cara Memuliakannya

Kaum muslimin jamaah Jumat, rahimakumullah.

Dalam menghitung bulan, menghitung minggu, dan menghitung hari, tentu tidak lama lagi kita akan berjumpa dengan bulan yang agung, bulan Ramadan. Sebelum memasuki bulan Ramadan, kita akan ditemukan dengan bulan Syakban, dan pada saat ini kita berada di bulan Rajab. Berarti tidak lama lagi Ramadan akan kita jumpai. Tetapi perlu kita ketahui bahwa bulan Rajab ini merupakan bulan yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Jika kita lihat di dalam Al-Qur'an, Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman bahwa bulan di sisi Allah Subhanahu Wa Ta'ala ada 12 bulan. Dari 12 bulan itu, ada di antara bulan-bulan itu yang sangat Allah muliakan, yang sangat diagungkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ

"Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram." (QS. At-Taubah: 36)

Dalam hadis Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam disebutkan, tiga di antara bulan itu berurutan yakni Zulkaidah, Zulhijah, dan Muharram, dan satu lagi berada sendiri yakni bulan Rajab. Kita saat ini berada di bulan Rajab, bulan yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Apa maksud bulan ini dimuliakan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala? Syekh Abdul Qadir al-Jilani menyebutkan, mengartikan dan mendefinisikan bulan Rajab itu sesuai dengan namanya.

Yang pertama, رَجَبٌ yakni ada huruf ro, kemudian huruf jim, dan huruf ba. Huruf ra, Syekh Abdul Qadir al-Jilani menyebutkan bahwa ra itu maknanya rahmat, yakni pada bulan Rajab ini Allah Subhanahu Wa Ta'ala banyak melimpahkan rahmat-Nya ke muka bumi ini. Allah menaburkan kasih sayang-Nya, Allah memberikan kasih sayang itu kepada siapa pun yang memuliakan bulan Rajab. Sehingga ada perbedaan bagaimana Allah memberikan rahmat di bulan yang lain dengan Allah memberikan rahmat di bulan Rajab ini. Orang yang mendapatkan rahmat Allah Subhanahu Wa Ta'ala pada bulan Rajab, pada bulan yang Allah muliakan, mereka akan lebih mudah melaksanakan amal ibadah, mendekatkan dirinya kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Kenapa orang dapat rahmat itu? Tidak lain berpikirannya bagaimana kehidupanku ini bisa dekat kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Karena dia sadar bahwa hidup ini terus berjalan, waktu terus berputar, dan kematian itu semakin dekat.

Dengan menyadari bahwa kematian itu semakin dekat, dia akan meningkatkan kualitas ibadahnya kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Terlebih lagi, kalau kita lihat histori, kita lihat sejarah, pada bulan Rajab inilah ada peristiwa yang sangat mewah, yakni peristiwa Isra' dan Mi'raj. Apa yang kita dapat, apa yang kita petik dari peristiwa Isra' dan Mi'raj? Kalau Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam dipanggil untuk menghadap Allah Subhanahu Wa Ta'ala menerima shalat, berarti perintah shalat ini merupakan perintah yang sangat agung, perintah yang sangat istimewa yang Allah berikan kepada hamba-hamba-Nya, kepada umat Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam.

Sehingga mereka yang memuliakan bulan Rajab, dia sadar bahwa ada momen yang paling bersejarah dalam bulan ini, yakni dapatnya perintah shalat dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam dan itu untuk kita semua. Sehingga dengan kesadaran ini, dia akan meningkatkan kualitas dan kuantitasnya dalam melaksanakan ibadah shalat kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Kaum muslimin jamaah Jumat, rahimakumullah.

Ini yang pertama, yakni mereka yang mendapatkan kemuliaan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala pada bulan Rajab ini, mereka mendapatkan rahmat oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Kemudian di bulan Rajab ini, kata Syekh Abdul Qadir al-Jilani, maknanya adalah **جَ** itu adalah judun. Judun itu adalah kebaikan. Allah taburkan begitu banyak kebaikan di bulan Rajab. Apa maksudnya Allah taburkan kebaikan itu? Kebaikan itu adalah jika kita melakukan kebaikan di bulan-bulan yang lain, tentu itu akan mendapatkan pahala di sisi Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Tetapi jika kebaikan itu kita lakukan di bulan Rajab, maka kebaikan itu akan berlipat ganda pahalanya di sisi Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Kaum muslimin jamaah Jumat, rahimakumullah.

Jika kita lihat, dunia ini begitu luasnya, begitu banyak terhampar-hamparan berbagai macam bentuk yang ada di muka bumi ini. Tetapi ada tempat yang paling istimewa yang Allah muliakan yakni Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Yakni itu merupakan tanah haram, tanah yang tempat yang sangat dimuliakan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Sehingga mereka yang diberikan kesempatan untuk hadir di sana, ibadah di sana, dia akan mendapatkan kebaikan yang berlipat ganda. Sebagaimana kalau kita lihat satu rakaat orang yang beribadah di Masjidil Haram, pahalanya sama dengan 100.000 rakaat orang beribadah di masjid yang lain. Apa maksud dari ini? Bahwa Allah memuliakan tempat itu, Allah memuliakan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi sehingga kebaikan di sana berlipat ganda yang Allah berikan kepada hamba-Nya yang melakukan kebaikan.

Sekarang kita lihat, ada juga di antara bulan itu dari 12 bulan yang Allah berikan, yang Allah tetapkan, ada bulan yang sangat Allah muliakan. Apa maksudnya? Jika kita melakukan kebaikan di bulan Rajab ini, tentu kebaikan itu akan dilipatgandakan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Kita melaksanakan kebaikan di selain bulan Rajab, Allah beri pahala. Tetapi kalau kita melakukan kebaikan di bulan Rajab, maka kebaikan itu akan Allah lipatgandakan.

Kaum muslimin jamaah Jumat, rahimakumullah.

Imam Ghazali menyebutkan di dalam kitabnya apa tanda orang itu mendapatkan kemuliaan Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Dia menyebutkan seseorang itu dimuliakan di hari-hari yang mulia, di tempat-tempat yang mulia, di waktu-waktu yang mulia. Allah mudahkan ia untuk melakukan kebaikan berada di bulan Rajab, sehingga dia tertarik, dia bersemangat untuk beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Bisa jadi ini adalah kategori bahwa mereka dimuliakan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Sebaliknya sama, jika ada orang yang melakukan keburukan di hari-hari yang mulia, di bulan-bulan yang mulia, di tempat-tempat yang mulia, berarti ia sedang mendapatkan kemarahan Allah, kemurkaan Allah. Kenapa? Karena dia di tempat yang mulia, di waktu yang mulia, di bulan yang mulia, dia berani-beraninya melanggar aturan-aturan Allah dan bermaksiat kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Sehingga keburukan yang dilakukan di bulan yang haram, di bulan yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala, itu pun akan berlipat ganda hukumannya di sisi Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Kaum muslimin jamaah Jumat, rahimakumullah.

Inilah keistimewaan bulan Rajab, yang mana kita saat ini sedang berada di bulan ini. Tugas kita sebagai bentuk kemuliaan kita, sebagai bentuk rasa kita menghormati bulan ini, mari kita meningkatkan ketaatan kita kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Memperbanyak kebaikan-kebaikan sebagaimana banyak ulama mengatakan bulan Rajab ini adalah bulan kita menanam. Tentu kalau kita berkebun, pada saat menanam kita ingin menanam bibit-bibit yang terbaik. Tentu pada saat kita menanam, kita ingin menanam begitu banyak bibit-bibit supaya kita akan mendapatkan hasil yang lebih banyak. Oleh sebab itu, pada bulan ini, mari kita memperbanyak kebaikan kita, memperbanyak shalat kita, memperbanyak zikir kita, memperbanyak membaca Al-Qur'an kita. Untuk apa? Supaya nanti pada saat kita panen di bulan suci Ramadan, buahnya sudah layak untuk kita petik. Buahnya sudah bisa kita nikmati, sehingga pada saat itu kita tinggal merasakan kenikmatan begitu dekatnya kita kepada Allah, begitu enaknya kita bisa bersama dan dekat kepada Allah Subhanahu Wata'ala

Khutbah Jumat; Menumbuhkan Keyakinan dalam beribadah

Di dalam Al-Qur'an, Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:

وَٱعْبُد ربك حتي ياتيك اليقين

"Sembahlah Allah, beribadahlah kepada Allah, taatlah kepada Allah, lakukan perintah-perintah Allah."

Hatta sehingga timbul dalam dirimu keyakinan bahwa Allah itu memang layak untuk kamu sembah. Jadi, kalau selama ini kita menyembah kepada Allah belum timbul rasa keyakinan kita bahwa Allah itu memang Tuhan kita, berarti ibadah kita selama ini belum sempurna. Berarti ketaatan kita selama ini belum sempurna.

Kalau kita lihat di dalam ibadah kita, di dalam salat kita, kita selalu mengucapkan kalimat di dalam surah Al-Fatihah:

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

"Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan." (QS. Al-Fatihah: 5)

Ini bukan hanya ungkapan tetapi pengakuan kita kepada Allah subhanahu wa ta'ala. Wahai Tuhanku, hanya kepada-Mu aku menyembah dan hanya kepada-Mu aku memohon pertolongan. Dua pernyataan ini harus sinkron, harus saling mendukung. Kalau kita meyakini bahwa Tuhan tempat kita menyembah, kita harus yakin juga dalam aktivitas kita sehari-hari bahwa Allahlah yang akan membantu kehidupan kita, yang akan memuluskan segala rencana kita, yang akan memberikan kemudahan dalam melakukan segala aktivitas.

Jika ini sinkron antara "إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ", maka inilah yang disebut dengan 'Abdullah yakni hamba Allah yang taat kepada Allah subhanahu wa ta'ala. Tetapi jika kedua ini bertolak belakang, pada saat di momen-momen tertentu kita menyebut "إِيَّاكَ نَعْبُدُ" hanya kepada-Mu aku menyembah Ya Allah, di mana itu momennya mungkin kita laksanakan itu di masjid, mungkin pada saat kita mengadakan pengajian-pengajian, mungkin pada saat kita lagi butuh kepada Allah subhanahu wa ta'ala, tetapi dalam praktiknya terkadang "نَسْتَعِينُ" kita minta pertolongan kepada yang lain. Ini menandakan belum paripurnanya, belum sempurnanya "نَعْبُدُ" kita kepada Allah subhanahu wa ta'ala.

Sehingga keyakinan kita terhadap Allah, Tuhan yang berhak kita sembah, itu belum sempurna. Sehingga ada ulama menyebutkan bagaimana menimbulkan atau memunculkan keyakinan dalam hati kita bahwa Allah subhanahu wa ta'ala itu memang Allah yang berhak kita sembah. Disebutkan di dalam kitab:

Yang pertama, setidaknya jika engkau ingin menumbuhkan rasa keyakinanmu kepada Allah subhanahu wa ta'ala, mantapkan tauhid di dalam dirimu. Mantapkan keesaan kita kepada Allah subhanahu wa ta'ala. Allah bukan hanya tempat kita menyembah, Allah bukan hanya tempat kita mengadu, tetapi kita harus meyakini bahwa Allahlah yang mengatur segala kehidupan kita. Tarikan nafas kita itu tidak lepas dari aturan yang Allah berikan. Ayunan tangan kita, apapun posisi kita saat ini, profesi apa kita saat ini, di manaun kedudukan kita saat ini, itu semua adalah campur tangan dari Allah subhanahu wa ta'ala. Allah bukan hanya tempat kita menyembah tetapi Allahlah yang mengatur dalam kehidupan kita ini. Inilah yang disebut dengan tauhid, keyakinan tauhid.

Keyakinan yang disebutkan:

لا يرى شيئاً كلّها إلا من الله

Dia tidak melihat segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan ini, tidak ada segala sesuatu yang bergerak yang ada di sekelilingnya, kecuali itu adalah campur tangan dari Allah subhanahu wa ta'ala.

Orang yang semacam ini jika keyakinannya sudah mencapai ke posisi ini maka sifat-sifat keburukan yang ada di dalam dirinya akan hilang. Disebutkan dalam sebuah kisah sahabat Anas bin Malik, pembantunya Rasulullah ﷺ. Dia menceritakan:

"Saya menjadi khadamnya Rasulullah ﷺ kurang lebih 10 tahun. Selama saya menjadi pembantunya, tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulut Rasulullah ﷺ kepada saya yang bersifat mencela, mencaci maki, merendahkan, atau menyalahkan."

Padahal kalau kita lihat bagaimana posisi seorang atasan dengan bawahan, biasanya dengan mudahnya lisan kita berkata yang tidak pantas kepada orang yang ada di bawah kita, apalagi status ekonominya, status sosialnya rendah di bawah kita. Ini Rasulullah ﷺ mencontohkan, kata Anas bin Malik, selama 10 tahun saya hidup bersama Rasulullah, menjadi pembantunya, menjadi bawahannya, Rasulullah tidak ada satu kata pun yang menyalahkan saya. Ini menandakan bahwa Rasulullah ﷺ mencontohkan kepada kita bahwa tidak ada segala sesuatu yang terjadi di dunia ini kecuali itu memang sudah takdir dari Allah, sudah ada campur tangan dari Allah subhanahu wa ta'ala.

Kenapa? Karena Rasulullah ﷺ tidak pernah melihat sebab. Kalau kita memiliki bawahan, memiliki pembantu, memiliki pelayan dalam kehidupan ini, kita akan senang jika dia melakukan apa yang kita sukai dan kita akan marah dan mencela jika dia melakukan sesuatu yang tidak kita senangi. Kenapa kita bisa melakukan hal semacam itu? Karena kita melihat sebab. Sebab dia melakukan sesuatu sehingga kita mencelahinya, sebab dia melakukan sesuatu sehingga kita memuji. Ya, ini kita terdinding dengan bahwa tidak ada yang bisa menyebabkan sebab itu kecuali musabbibnya yakni Allah subhanahu wa ta'ala.

Orang yang sampai pada keyakinan ini, niscaya segala keburukan-keburukan sifat-sifat keburukan akan hilang dari dalam dirinya.

Kaum Muslimin jemaat Jumat rahimakumullah, sehingga jika orang sudah sampai posisi tauhid, keyakinan tauhid, maka sifat dendam akan hilang di dalam dirinya. Kalau kemarin kita berkontestasi, ada pemilihan A, ada pemilihan B, dia akan menghilangkan segala hal semacam itu karena itu merupakan sebab dari terciptanya seorang pemimpin. Masalah-masalah yang lain semua dia keluarkan, dia hilangkan. Kenapa? Karena itu adalah proses demokrasi sehingga yang tercipta adalah kedamaian dan kerukunan.

Jika sudah mencapai posisi keyakinan tauhid ini tadi, maka hilanglah rasa iri dan dengki. Orang mencapai posisi apapun, kita tidak akan pernah pusing kepala kita. Apapun yang keluar dari komentar orang tidak akan pernah masuk ke dalam hati kita. Karena kita yakin segala sesuatu terjadi karena izin dari Allah subhanahu wa ta'ala.

Yang ketiga, sifat ujub yang ada di dalam dirinya. Dia tidak akan pernah membanggakan dirinya, dia tidak pernah merasa dirinya paling hebat, dia tidak pernah merasa dirinya paling mulia. Apapun posisinya saat ini, apapun yang ia dapatkan saat ini, berapa banyak harta yang ia dapatkan, berapa pelayan yang dia miliki, atau popularitas yang ia dapatkan, dia akan selalu ingat bahwa itu datangnya dari Allah subhanahu wa ta'ala. Dan kalau Allah akan mengambilnya dalam sekejap pun semuanya akan hilang dan akan sirna. Kita ingat kembali pada saat kita hadir ke dunia ini, tidak ada sehelai kain pun yang kita bawa, tidak ada sedikit pun jabatan yang kita miliki, tidak ada satu rupiah pun yang kita bawa. Dan kita pun akan kembali kepada Allah subhanahu wa ta'ala dalam keadaan tidak membawa apapun.

Oleh sebab itu, jangan sekali-kali kita sombong dalam kehidupan ini, jangan sekali-kali kita ujub merasa diri kita paling mulia. Yang mulia di sisi Allah subhanahu wa ta'ala, karena hakikatnya kita sama. Sesungguhnya disebutkan di dalam Al-Qur'an:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

"Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa di antara kalian." (QS. Al-Hujurat: 13)

Dan takwa itu tidak bisa kita nilai dengan kasat mata, tidak bisa kita nilai dengan angka, tidak bisa kita nilai dari materi-materi yang nampak dengan mata kita.

Kaum Muslimin jemaat Jumat rahimakumullah, demikianlah khutbah kita pada kesempatan kali ini. Semoga Allah subhanahu wa ta'ala selalu membimbing kita, memberikan taufik dan hidayah kepada kita sehingga apapun yang terucap dari lisan kita, apapun yang terpikir dari pemikiran kita, apa yang terbenak dalam hati kita, selalu kita harapkan mendatangkan ridha dari Allah subhanahu wa ta'ala. Aamiin ya rabbal 'alamin.


Bangunan yang akan Masuk Syurga

Masjid adalah tempat yang sangat istimewa dan dicintai oleh Allah di muka bumi ini. Masjid bukan hanya sekadar bangunan fisik, tetapi juga memiliki makna spiritual yang sangat dalam. Berikut adalah penjelasan lebih detail mengenai keutamaan masjid dan peran pentingnya dalam kehidupan umat Islam:

Berikut adalah penjelasan lebih detail mengenai keutamaan masjid dan peran pentingnya dalam kehidupan umat Islam, dilengkapi dengan dalil dari Al-Qur'an dan hadis:

1. Masjid sebagai Tempat yang Dicintai oleh Allah
   - Masjid adalah rumah Allah (Baitullah) di bumi, tempat di mana umat Islam berkumpul untuk melaksanakan ibadah, terutama shalat lima waktu, shalat Jumat, dan shalat Tarawih pada bulan Ramadan.
   - Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa sebaik-baiknya tempat di muka bumi ini adalah masjid. Hal ini menunjukkan betapa besar kecintaan Allah terhadap masjid sebagai tempat ibadah dan pusat kegiatan keagamaan.
   - Dalil dari hadis:
    قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "أَحَبُّ الْبِقَاعِ إِلَى اللَّهِ مَسَاجِدُهَا، وَأَبْغَضُ الْبِقَاعِ إِلَى اللَّهِ أَسْوَاقُهَا" 
    "Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda: 'Tempat yang paling dicintai Allah adalah masjid-masjidnya, dan tempat yang paling dibenci Allah adalah pasar-pasarnya.'" (HR. Muslim)


2. Masjid sebagai Bangunan yang Kelak Akan Masuk Surga
   - Dalam keyakinan Islam, masjid memiliki keutamaan yang sangat tinggi sehingga kelak di akhirat, masjid akan masuk surga. Ini menggambarkan betapa mulianya fungsi dan peran masjid dalam kehidupan umat Islam.
   - Masjid bukan hanya sebagai tempat untuk melaksanakan ibadah ritual, tetapi juga sebagai tempat untuk mendapatkan ilmu, menguatkan silaturahmi, dan membangun kebersamaan dalam kebaikan.

3. Peran Umat dalam Memakmurkan Masjid
   - Allah berfirman kepada masjid setelah masjid tersebut masuk surga, "Wahai rumah-Ku, adakah orang yang ingin engkau ajak masuk surga bersamamu?" Maka masjid menjawab, "Iya, mereka yang menyedekahkan hartanya untukku, dan mereka yang memakmurkanku."

Ini menunjukkan bahwa ada dua golongan orang yang mendapatkan keutamaan besar, yaitu:
     a.Orang yang Menyedekahkan Hartanya untuk Masjid: Mereka yang berinfak atau bersedekah untuk pembangunan, pemeliharaan, dan kegiatan masjid. Setiap harta yang disedekahkan untuk masjid akan menjadi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir meskipun orang tersebut telah meninggal dunia.

     b. Orang yang Memakmurkan Masjid: Mereka yang secara aktif terlibat dalam memakmurkan masjid dengan berbagai kegiatan ibadah, seperti shalat berjamaah, kajian ilmu, pengajian, dan kegiatan sosial lainnya. Mereka yang memakmurkan masjid akan mendapatkan keutamaan besar di sisi Allah karena masjid menjadi hidup dan bermanfaat bagi banyak orang.

Dalil dari Al-Qur'an:
    إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ فَعَسَىٰ أُولَٰئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ
    "Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk." (QS. At-Taubah: 18)

Dengan demikian, masjid memiliki kedudukan yang sangat mulia dalam Islam. Memakmurkan masjid dan berkontribusi untuk kemajuannya adalah amalan yang sangat dianjurkan. Setiap muslim diharapkan untuk mencintai masjid, menjadikannya sebagai pusat kehidupan spiritual, dan berusaha untuk selalu memakmurkannya dengan berbagai kegiatan positif yang mendekatkan diri kepada Allah dan mempererat ukhuwah Islamiyah (persaudaraan Islam).

Ilmu pemantasan itu Penting


Terkadang kita sering mengeluh dengan keadaan yang ada..
Misalnya:
kenapa ya rizki yang saya dapatkan berbeda dengan orang lain..?
Kenapa yang saya tidak mendapatkan juara..?
Kenapa ya saya selalu gelisah..?

Jika itu timbul mari kita tanyakan kedalam diri kita...
apakah layak kita medapatkan rizki yang melimpah
apakah kita layak untuk mendapatkan juara..
apakah kita layak untuk selalu bahagia..
dll
.
Jika belum..
mari kita memantaskan diri untuk menyesuikan dengan hasil yang akan kita raih dan impikan..
.
sebagai ilustrasi..
jika kita ingin memiliki air yang banyak..
jangan gayung yang kita sediakan..
minimal kita harus menyediakan / membawa ember atau gentong..
supaya air yang akan kita dapat lebih banyak..
.
begitu juga dengan diri kita..
kalau mau mendapatkan income 1 Miliyaran
berarti kita harus menyipakn mental / mindset untuk posisi 1 milyaran..

Berusaha bukan Berharap Pujian

Dalam kehidupan yang fana ini banyak diantara manusia selalu mengharap imbalan dari apa yang dilakukan.. walaupun saat ditanya apakah dia sudah berbuat dengan sebaik mungkin dan seikhlas mungkin.. tetap aja menganggap itulah yang terbaik.


padahal jika masih terbesit dalam hati untuk mendapatkan imbalan baik berupa materi ataupun pujian itu menandakan bahwa kita belum ikhlas dalam melakukan perbuatan itu.

Khutbah Jumat:Empat Golongan Manusia

Dalam salah satu wasiatnya sebagaimana dinukil oleh Syikh Nawawi Al-Bantani dalam Nashaihul Ibad, Sayyidul Auliya Syaikh Abdul Qadir al-Jailani pernah berpendapat bahwa tipe manusia dapat dibagi dalam empat kelompok besar:


Pertama,
رَجُلٌ لاَ لِسَانَ لَهُ وَلاَ قَلْبَ وَهُوَ العَاصِى العَبِيّ
Yaitu kelompok manusia yang tidak berlidah dan tidak berhati merekalah para pendurhaka kepada Allah. Maka janganlah kita

Makna Taqwa yang jarang diungkapkan

Kalimat ini sering sekali kita dengar, apalagi kaum adam yang setiap jumatnya melaksanakan sholat jumat, khotib diawal khutbahnya selalu menyampaikan makna taqwa, kerena berwasiat dan mengingatkan akan ketaqwaan merupakan salah satu rukun khutbah.


Kalimat taqwa ini berasal dari bahasa Arab yang memiliki ari takut; bisa kita lihat dalam sebuah hadits yang berbunyi: 
اتقوا فراسة المؤمنين فانه ينظروا بنور الله
yang artinya takutlah kamu dengan firasat orang mukmin, kerena dia melihat dengan cahaya Allah

Makna Takut ini biasanya kita mengartikannya bahwa kita harus menjauh, misalnya kita takut dengan binatang buas (harimau, ular, dll) biasanya kita menjauh dan menghindar dari binatan tersebut. lalu bagaimana jika kita takut kepada Allah SWT. apakah kita mesti menjauh?

Takut kepada Allah SWT berbeda dengan kita takut kepada makhluk, kerena dengan adanya rasa takut maka kita harus selalu mendekat kepadaNya. yang mesti kita takutkan kepada Allah adalah azab dan siksanya. kerena tidak ada seorang manusiapun yang bisa menghindar dari ketentuan Allah SWT.

Takut dengan Azab Allah maka kita harus mendekat kepadaNya
Takut dengan Neraka maka kita harus mendekat kepadaNya
Takut dengan Siksa dan janji-janji Allah maka kita juga harus mendekat kepadaNya

Semoga saja di dalam hati kita selalu ditanamkan rasa takut kepada Allah SWT, dengan rasa takut tersebut kita bisa selalu mendekatkan diri kepadaNya, sehingga kita banyak melakukan segala yang Allah perintahkan dan menjauhi yang dilarang oleh Allah SWT. aamiin

Wallauhu Alam
Kamis Pagi 07 Januari 2016


Tanda-tanda orang yang Membicarakan aib sendiri

Apakah ada orang yang membiracakan aibnya sendiri dan mengakui kesalahan tanpa ada maksud dan tujuan?
Silakan dijawab dalam benak masing-masing. Kerena pada tabiatnya manusia itu tidak ada yg mau disalahkan ataupun dicaci, walaupun sebenarnya dia sendiri mengakui bahwa dia mempunyai kesalahannya dan kekurangan.


Nah, pernah kan kita menemukan orang yang membicarakan aib nya sendiri?
Diceritakan bahwa ada seseorang yg sangat benci kepada temannya, sehingga dengan kebencian itu setiap dia  berjumpa dengan orang lain selalu yang dia bicarakan adalah kejelekan temannya yang dia benci, bukan hanya itu, tapi dia juga mulai mennghasud orang lain supaya orang lain menjauh dari orang yg dia benci tersebut.

Pendek cerita, lama kelamaan dia sendiri yang dijauhkan oleh teman-temannya,  kerena kebiasaannya yg membicarakan aib orang lain, banyak orang curiga jangan2 suatu saat aib dia juga yang menjadi korban gunjingannya.

Jika kita perhatikan ternyata orang yang membicarakan aib orang lain itu, sebenarnya dia sedang membicarakan aibnya sendiri. Sering kita jumpa, orang yang bilang orang lain sombong, ternyata dirinya yang sombong. Bilang orang lain dengki padahal dirinya yang dengki, dst

Semoga saja kita dijauhkan oleh Allah dari sifat-sifat yang tercela, apalagi sibuk mencari-cari kesalahan orang lain. Dan kita berharap semoga Allah menyibukkan kita untuk selalu mengingatNya. Aamiin

Wallau 'alam
Selasa siang 05 januari 2016

3 Manfaat Liburan yang Positif: Menyegarkan Pikiran, Mempererat Silaturahmi dan Keharmonisan Keluarga

Hari libur merupakan waktu yang selalu dinantikan oleh banyak orang. Setelah menjalani rutinitas pekerjaan, sekolah, kuliah, maupun aktivitas lainnya, liburan menjadi kesempatan untuk beristirahat sejenak dan mengembalikan semangat.

Liburan sering kali dimanfaatkan dengan berbagai kegiatan, seperti jalan-jalan bersama keluarga, rekreasi, mengunjungi tempat wisata, bersilaturahmi kepada saudara, atau sekadar berkumpul bersama orang-orang terdekat.

Namun, tahukah kita bahwa manfaat liburan bukan hanya untuk bersenang-senang? Jika dimanfaatkan dengan baik, waktu liburan dapat memberikan banyak manfaat positif bagi diri sendiri, keluarga, maupun hubungan sosial.

Ada beberapa manfaat liburan yang dapat kita rasakan dalam kehidupan sehari-hari.

1. Mengembalikan Semangat dan Motivasi Kerja

Salah satu manfaat liburan yang paling terasa adalah membantu mengembalikan semangat setelah menjalani rutinitas yang padat.

Aktivitas pekerjaan yang dilakukan terus-menerus terkadang membuat tubuh dan pikiran merasa lelah. Karena itu, waktu istirahat sangat diperlukan agar kita dapat kembali menjalani aktivitas dengan kondisi yang lebih segar.

Liburan dapat menjadi salah satu cara untuk memberikan kesempatan kepada tubuh dan pikiran untuk beristirahat.

Ibarat sebuah telepon genggam yang digunakan terus-menerus, baterainya akan semakin berkurang dan pada akhirnya perlu diisi kembali. Begitu pula dengan manusia. Setelah menjalani berbagai aktivitas, kita membutuhkan waktu untuk beristirahat agar energi dan semangat dapat kembali.

Dengan demikian, setelah liburan selesai, kita dapat kembali bekerja, belajar, dan menjalankan berbagai aktivitas dengan semangat dan motivasi yang lebih baik.

2. Mempererat Silaturahmi dengan Keluarga dan Sahabat

Manfaat liburan berikutnya adalah dapat menjadi sarana untuk mempererat silaturahmi.

Kesibukan sehari-hari terkadang membuat seseorang tidak memiliki cukup waktu untuk berbincang dengan keluarga, sahabat, teman kerja, maupun saudara. Bahkan, orang yang setiap hari bertemu di tempat kerja belum tentu memiliki kesempatan untuk mengenal satu sama lain secara lebih dekat.

Waktu liburan dapat menjadi kesempatan untuk kembali membangun komunikasi tersebut.

Liburan bersama keluarga besar, teman, maupun rekan kerja dapat menciptakan suasana yang lebih santai dan hangat. Dalam suasana seperti itu, komunikasi biasanya menjadi lebih terbuka sehingga hubungan yang sebelumnya terasa renggang dapat kembali dekat.

Kegiatan sederhana seperti makan bersama, berjalan-jalan, berbincang, atau mengunjungi saudara dapat memberikan kenangan yang berharga.

Karena itu, liburan bersama keluarga bukan hanya tentang mengunjungi tempat wisata, tetapi juga tentang menyediakan waktu berkualitas untuk orang-orang yang kita sayangi.

3. Meningkatkan Keharmonisan dan Semangat Kekeluargaan

Liburan juga memiliki manfaat dalam meningkatkan keharmonisan keluarga.

Ketika orang tua, anak, kakek, nenek, dan anggota keluarga lainnya berkumpul dalam suasana yang menyenangkan, akan muncul rasa kebersamaan yang lebih kuat.

Anak dapat menikmati waktu bersama orang tua. Orang tua dapat lebih dekat dengan anak-anaknya. Begitu pula dengan anggota keluarga lainnya yang mungkin selama ini jarang bertemu karena kesibukan masing-masing.

Momen seperti ini dapat menjadi kesempatan untuk menunjukkan perhatian, kasih sayang, dan kepedulian kepada keluarga.

Keharmonisan keluarga tidak selalu dibangun melalui sesuatu yang besar. Terkadang, waktu bersama keluarga, percakapan sederhana, makan bersama, dan tertawa bersama justru menjadi bagian penting dalam membangun hubungan yang penuh kasih sayang.

Jika kebersamaan seperti ini terus dijaga, insyaallah hubungan antaranggota keluarga akan semakin erat.

Liburan Tidak Harus Mahal

Sebagian orang mungkin menganggap bahwa liburan harus dilakukan dengan pergi ke tempat wisata yang jauh dan mengeluarkan banyak biaya. Padahal, hakikat liburan tidak selalu demikian.

Liburan sederhana di rumah, berkumpul bersama keluarga, mengunjungi saudara, pergi ke tempat yang dekat, atau sekadar menghabiskan waktu bersama orang-orang tercinta juga dapat memberikan manfaat yang besar.

Yang paling penting adalah bagaimana kita memanfaatkan waktu liburan secara positif.

Jangan sampai waktu libur justru digunakan untuk kegiatan yang tidak memberikan manfaat. Sebaliknya, jadikan waktu tersebut sebagai kesempatan untuk beristirahat, memperbaiki hubungan dengan keluarga, mempererat silaturahmi, dan mempersiapkan diri menghadapi aktivitas berikutnya.

Jadikan Liburan sebagai Waktu yang Bermakna

Pada akhirnya, liburan bukan hanya tentang pergi ke suatu tempat. Liburan adalah kesempatan untuk berhenti sejenak dari kesibukan dan memberikan ruang bagi tubuh, pikiran, serta hubungan sosial untuk mendapatkan kembali keseimbangannya.

Ada banyak cara untuk mendapatkan manfaat liburan, mulai dari berwisata bersama keluarga, mengunjungi saudara, bersilaturahmi dengan teman, hingga melakukan kegiatan sederhana yang menyenangkan.

Semoga setiap waktu liburan yang kita jalani dapat memberikan manfaat positif bagi diri kita dan keluarga.

Semoga setelah liburan, kita mendapatkan semangat baru untuk kembali bekerja, belajar, beribadah, dan menjalankan berbagai aktivitas dengan lebih baik.

Manfaatkan waktu liburan dengan sebaik-baiknya, karena kebersamaan yang sederhana hari ini bisa menjadi kenangan berharga di kemudian hari.

Aamiin.

Makna Iman kepada Allah SWT

Beriman kepada Allah merupakan rukun iman yang pertama,  jika kita mengaku beragama Islam sudah sepatutnya kita beriman kepada Allah, jika kita tidak beriman kepada Allah berarti kita belum bisa dibilang sebagai seorang mukmin.

Iman dalam makan bahasa indonesia yakni percaya, percaya kepada Allah berati kita yakin betul bahwa dalam kehidupan ini semuanya Allah yang mengatur dan mengeksekusi. Jika masih ada keraguan dalam benak kita itu berarti iman kita perlu dipertanyakan.

Kita percaya betul klu Allah itu samiun ( maha mendengar) niscaya kita tidak akan pernah mengucapkan ucapan-ucapan kotor dan tidak bermanfaat, kita percaya jika Allah itu bashirun ( maha melihat) niscaya kita tidak akan pernah bertindak yg tidak sesuai aturan agama, misalnya mencuri, korupsi, bermaksiat, dll, kita percaya betul jika Allah itu aliimun ( maha mengetahui) niscaya kita tidak akan pernah menyeleweng baik itu tindakan maupun hati, semua nya kita pasrah kepada Allah.

Kita ambil contoh, jika kita percaya atasan kita, orang tua kita, guru kita, mengetahui semua yang kita perbuat, niscaya kita akan berprilaku yang sangat hati-hati, karena kita tidak mau apa yang kita lakukan mengecewakannya apalagi membuatnya marah dan murka. Begitu juga semestinya sikap kita kepada Allah SWT. kerana Allah itu maha mengetahui apa yg kita perbuat, apa yang kita ucapakan, apa yang kita niatkan dalam hati, semuanya Allah maha mengetahui, klu dalam hadist disebutkan sampai semut hitam di dalam laut yang hitam dan di lapisi oleh batu hitam sekalipun Allah maha mengetahui.

Itulah makna Iman kepada Allah,  sudah seharusnya kita berhati-hati dalam berperilaku jika kita yakin Alah itu ada, kita percaya Allah itu ada.

Semoga saja kita, khususnya saya pribadi bisa menerapkan ini dalam kehidupan sehari-hari, kerena  kita sangat berharap hidup kita di dunia ini punya makna di sisi Allah, sehingga apa yang kita perbuat bernilai ibadah dan mendapatkan ridho Allah SWT. AAMIIN...

12 Ajara Pokok Rodulullah

Rasulullah hadir ditengah- tengah kita mayoritas ulama sepakat pada tanggal 12 robiul awal, kehadiran beliau sebagai seorang nabi dan rosul yang membawa risalah Allah SWT kemuka bumi dan juga kehadirannya sebagai nabi yang terakhir.

Rahasia Umur yang Allah Berikan

Lucu, tapi maknanya dalam sekali. Dulu ketika TUHAN menciptakan SAPI, MONYET, ANJING, dan MANUSIA, TUHAN berkata:

"Hari ini aku ciptakan kau sebagai SAPI. Engkau harus pergi ke padang rumput, bekerja di bawah terik matahari sepanjang hari. Aku tetapkan umurmu sekitar 50 tahun." Si SAPI keberatan, "Kehidupanku akan sangat berat selama 50 tahun, kiranya 20 tahun cukuplah untukku, ku kembalikan kepadamu yang 30 tahun." Maka setujulah TUHAN.

Gaji dan Sholat


Berapa Gajimu sampai KAU berani tinggalkan Sholatmu
Kalimat yang sederhana tapi mempunyai makna yang sangat dalam... Nyesek bacanya, ya yak?? hehehe



ini merupakan tamparan keras buat kita yang sering melalaikan sholat. dengan alasan sibuk dan lagi tanggung mengerjakan pekerjaan, padahal Sholat itu panggilan Allah lho.... nah berarti mengabaikan Sholat kita telah mengabaikan Allah... nah lho... pasti kualat tho...

Rahasia Tentang Cermin

المؤمن مرات المومنَ 
Seorang mukmin adalah cermin bagi mukmin lainnya (HR. At-thabbrani) 

Beberapa rahasia tentang cermin 
1. Kualitas terbaik
Kaca termasuk barang yang dibuat dari pasir jenis yang terbaik apabila dibandingkan dengan barang barang lain yang dibuat dengan pasir juga , misalnya saja keramik dan perkakas lainnya. Untuk membuat cermin

Berapa Gajimu Sehingga Kau Meninggalkan Sholat

Hujjatul Islam, Al-Ghazali, mengatakan, “Ketika anda mendengar panggilan sholat oleh muadzin, maka berusahalah membayangkan hingar bingarnya teriakan di hari kiamat. Persiapkan diri lahir batin untuk menjawabnya. Mereka yang segera menjawab ajakan tersebut, niscaya akan menjadikan dirinya orang yang mendapat perlakuan lemah lembut di hari Pembalasan nanti.”Adzan dan Iqomah adalah wujud “peringatan Ilahi” bagi para hamba-hambaNya untuk melakukan sholat.

Suasana Sekolah Madrasah Darussalam

Entah kenapa sore ini saya ingin "jepret" anak-anak bermain dihalaman Sekolah Darussalam, padahal suasana seperti ini sudah biasa dan ini setiap hari saya lihat.
ya mungkin kerena rasa kangen dengan suasana waktu kecil dulu kayaknya. hehehe

MI darussaalam Lubuklinggau

Kenangan Bersama Anak "Ngaji"

Ini salah satu kenangan saya yang berkesan, kerena pada saat ini, ada salah satu anak yang saya ajar mengaji dia khatam belajar membaca IQROpada usia 4 Tahun.
Kerena Senang orang tuanya, akhirnya dia adakan Syukuran 




"EMOSI BUTA"

Seorang pengusaha muda mengendarai sedan mewah menuju ke luar kota. Saat melewati perbukitan yg berkelok, ia melihat sebuah truk dari arah berlawanan. Ketika berpapasan ditikungan jalan, pengemudi truk agak melambat, membuka kaca jendela dan berteriak dgn keras, "SAPI!"...

Pelajaran berharga "Dampak kesombongan"

Nu'man bin Tsabit yg dikenal dg sebutan Abu Hanifah, atau populer disebut IMAM HANAFI , pernah berpapasan dg anak kecil yg berjalan mengenakan sepatu kayu (terompah kayu).

Sang imam berkata :"Hati-hati nak dg sepatu kayumu itu, Jangan sampai kau tergelincir".