Taat Saat Susah, Lupa kepada Allah Saat Senang: Renungan dan Dalilnya
Taat Saat Susah, Lupa kepada Allah Saat Senang: Jangan Menjadi Hamba yang Hanya Mengingat Allah Ketika Membutuhkan
Ada orang yang ketika mendapatkan kesulitan, tiba-tiba rajin berdoa. Ketika sakit, ia banyak berdzikir. Ketika rezekinya sempit, ia rajin datang ke masjid dan memohon pertolongan kepada Allah SWT.
Namun ketika kesulitan telah berlalu, rezekinya kembali lapang, pekerjaannya berhasil, usahanya berkembang, dan hidupnya dipenuhi kesenangan, perlahan-lahan ia mulai jauh dari Allah.
Shalat mulai ditinggalkan.
Doa semakin jarang.
Al-Qur'an tidak lagi dibaca.
Masjid mulai dilupakan.
Seolah-olah Allah hanya dicari ketika sedang membutuhkan sesuatu.
Padahal seorang Muslim seharusnya mengenal Allah bukan hanya ketika berada dalam kesulitan, tetapi juga ketika mendapatkan kelapangan.
Jangan hanya menjadi hamba Allah ketika sedang susah. Jadilah hamba Allah dalam keadaan susah maupun senang.
Allah Mengingatkan tentang Orang yang Beribadah Hanya Ketika Mendapat Kebaikan
Allah SWT berfirman:
«وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ عَلَىٰ حَرْفٍ ۖ فَإِنْ أَصَابَهُ خَيْرٌ اطْمَأَنَّ بِهِ ۖ وَإِنْ أَصَابَتْهُ فِتْنَةٌ انْقَلَبَ عَلَىٰ وَجْهِهِ ۖ خَسِرَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةَ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ»
"Dan di antara manusia ada yang menyembah Allah hanya di tepi. Jika dia memperoleh kebaikan, dia merasa puas, tetapi jika dia ditimpa suatu cobaan, dia berbalik ke belakang. Dia rugi di dunia dan di akhirat. Itulah kerugian yang nyata."(QS. Al-Hajj: 11)
Ayat ini memberikan peringatan yang sangat keras.
Ada manusia yang hubungannya dengan Allah bergantung kepada keadaan.
Ketika mendapatkan kebaikan, dia merasa nyaman dengan agamanya. Tetapi ketika mendapatkan ujian, dia mulai berpaling.
Dengan kata lain, keimanannya tidak kokoh.
Ia beribadah ketika keadaan sesuai dengan keinginannya, tetapi ketika Allah memberikan ujian, ia kecewa, berpaling, bahkan meninggalkan jalan Allah.
Allah menyebut keadaan tersebut sebagai kerugian di dunia dan akhirat.
Bagaimana dengan Orang yang Taat Saat Susah tetapi Lupa Saat Senang?
Ini juga merupakan keadaan yang sangat berbahaya.
Seseorang mungkin tidak meninggalkan Islam, tetapi ketika mendapatkan kelapangan ia mulai lalai.
Ketika sakit, ia rajin membaca Al-Qur'an.
Ketika sehat, Al-Qur'an ditinggalkan.
Ketika usahanya bangkrut, ia menangis dalam doa.
Ketika usahanya sukses, ia sibuk mengejar dunia.
Ketika tidak mempunyai uang, ia rajin meminta kepada Allah.
Ketika hartanya melimpah, ia lupa bersyukur kepada Allah.
Ketika berada dalam kesulitan, ia bersujud lama.
Ketika mendapatkan kesenangan, shalatnya justru semakin terlambat.
Inilah yang harus kita waspadai.
Jangan sampai kesulitan membuat kita mendekat kepada Allah, tetapi kesenangan justru membuat kita menjauh dari Allah.
Nabi Mengajarkan: Kenali Allah Saat Lapang
Rasulullah SAW memberikan nasihat yang sangat indah kepada Abdullah bin Abbas radhiyallahu 'anhuma:
«تَعَرَّفْ إِلَى اللَّهِ فِي الرَّخَاءِ يَعْرِفْكَ فِي الشِّدَّةِ»
"Kenalilah Allah pada saat lapang, niscaya Dia akan mengenalimu pada saat sulit."
Nasihat ini terdapat dalam rangkaian hadis tentang menjaga Allah dan meminta pertolongan hanya kepada-Nya. Maknanya adalah seorang Muslim hendaknya menjaga hubungan dengan Allah ketika kehidupannya dalam keadaan lapang, sehat, aman, dan berkecukupan.
Ini merupakan pelajaran yang sangat penting.
Masa senang adalah waktu untuk menyiapkan diri menghadapi masa susah.
Ketika sehat, gunakan kesehatan untuk beribadah.
Ketika memiliki harta, gunakan harta untuk bersedekah.
Ketika memiliki waktu, gunakan waktu untuk menuntut ilmu.
Ketika memiliki kedudukan, gunakan untuk membantu orang lain.
Ketika memiliki keluarga, bimbing mereka agar dekat kepada Allah.
Jangan menunggu kehilangan semuanya baru kita sadar betapa besar nikmat Allah.
Dua Nikmat yang Sering Membuat Manusia Lalai
Rasulullah SAW bersabda:
«نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ»
"Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu dan merugi karenanya: kesehatan dan waktu luang."(HR. Bukhari)
Perhatikan.
Manusia sering baru menyadari mahalnya kesehatan setelah sakit.
Baru menyadari mahalnya waktu setelah usia berlalu.
Baru menyadari pentingnya keluarga setelah kehilangan.
Baru menyadari pentingnya kesempatan setelah kesempatan tersebut tidak kembali.
Karena itu, jangan menunggu musibah untuk kembali kepada Allah.
Gunakan nikmat sebelum nikmat itu berubah menjadi penyesalan.
Jangan Hanya Mengingat Allah Ketika Membutuhkan
Ada sebuah kebiasaan buruk yang mungkin tanpa sadar terjadi dalam kehidupan kita.
Ketika ingin mendapatkan pekerjaan, kita berdoa.
Setelah mendapatkan pekerjaan, kita sibuk dan meninggalkan shalat.
Ketika ingin mendapatkan pasangan, kita berdoa.
Setelah menikah, kita lupa bahwa keluarga juga merupakan amanah dari Allah.
Ketika ingin memiliki anak, kita berdoa.
Setelah anak lahir, kita sibuk mengejar kebutuhan dunia tetapi lupa mendidiknya dengan agama.
Ketika sakit, kita memohon kesembuhan.
Setelah sehat, kita kembali melakukan kelalaian.
Ketika berada dalam kesulitan ekonomi, kita memohon rezeki.
Setelah kaya, kita lupa kepada Dzat yang memberikan rezeki.
Padahal semua nikmat itu berasal dari Allah SWT.
Allah berfirman:
«وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ»
"Dan segala nikmat yang ada padamu adalah dari Allah."(QS. An-Nahl: 53)
Maka sungguh tidak pantas seorang hamba hanya mengingat Allah ketika membutuhkan sesuatu.
Kesenangan Juga Merupakan Ujian
Banyak orang mengira bahwa ujian hanya berupa kemiskinan, penyakit, kehilangan, kegagalan, dan musibah.
Padahal kekayaan juga ujian.
Kesehatan juga ujian.
Jabatan juga ujian.
Ketenaran juga ujian.
Keluarga juga ujian.
Anak-anak juga ujian.
Bahkan waktu luang juga merupakan ujian.
Pertanyaannya bukan hanya:
"Apakah kita mampu melewati kesulitan?"
Tetapi juga:
"Apakah kita tetap dekat kepada Allah ketika hidup kita sedang mudah?"
Sebab terkadang seseorang mampu bersabar ketika miskin, tetapi tidak mampu bersyukur ketika kaya.
Mampu menangis ketika sakit, tetapi lupa bersujud ketika sehat.
Mampu berdoa ketika kehilangan pekerjaan, tetapi lupa kepada Allah ketika mendapatkan pekerjaan.
Padahal seorang mukmin membutuhkan sabar ketika mendapat musibah dan syukur ketika mendapatkan nikmat.
Bagaimana Nasib Orang yang Lalai Ketika Senang?
Kita tidak boleh memastikan nasib akhir seseorang secara individual karena keputusan akhir berada di tangan Allah.
Namun Al-Qur'an memberikan peringatan yang sangat jelas bahwa berpaling dari Allah dan kehidupan akhirat adalah jalan menuju kerugian.
Allah berfirman dalam QS. Al-Hajj ayat 11 bahwa orang yang menggantungkan keimanannya pada keadaan dapat mengalami kerugian dunia dan akhirat.
Karena itu, seorang Muslim harus berusaha agar hubungan dengan Allah tidak naik turun mengikuti kondisi dunia.
Saat kaya tetap shalat.
Saat miskin tetap shalat.
Saat sehat tetap beribadah.
Saat sakit tetap berharap kepada Allah
Saat berhasil tetap rendah hati.
Saat gagal tetap bersabar.
Inilah keseimbangan seorang mukmin.
Benarkah Kisah Tsa'labah yang Kaya Lalu Tidak Mau Membayar Zakat?
Dalam banyak ceramah dan tulisan di internet, sering diceritakan kisah seorang sahabat bernama Tsa'labah bin Hathib.
Dikisahkan bahwa Tsa'labah dahulu miskin, kemudian meminta Rasulullah SAW mendoakannya agar menjadi kaya. Setelah menjadi kaya, ia dikisahkan enggan membayar zakat hingga turun ayat tentang orang yang berjanji kepada Allah tetapi kemudian mengingkari janjinya.
Kisah ini memang sangat terkenal.
Namun kisah tersebut tidak boleh langsung disebut sebagai kisah sahih tentang Tsa'labah bin Hathib.
Para ulama telah membahas riwayat tersebut dan menyatakan bahwa sanad kisah itu bermasalah. Bahkan sejumlah ulama menilainya tidak sahih. Salah satu persoalan penting adalah bahwa Tsa'labah bin Hathib dikenal sebagai sahabat yang mengikuti Perang Badar.
Ibnu Hajar juga membahas persoalan identitas tokoh dalam kisah tersebut dan menyatakan bahwa apabila riwayat itu benar, terdapat persoalan apakah tokoh yang dimaksud adalah Tsa'labah bin Hathib yang merupakan sahabat Badar.
Karena itu, lebih aman untuk tidak menjadikan kisah tersebut sebagai dalil utama.
Pelajaran tentang bahayanya melupakan Allah ketika mendapatkan kesenangan tetap benar, tetapi hendaknya dibangun di atas ayat Al-Qur'an dan hadis yang sahih, bukan kisah yang status riwayatnya diperselisihkan atau lemah.
Jangan Menjadi Hamba Musiman
Ada orang yang ibadahnya seperti musim.
Musim susah: rajin ibadah.
Musim senang: lalai.
Musim sakit: rajin berdoa.
Musim sehat: lupa kepada Allah.
Musim Ramadhan: rajin membaca Al-Qur'an.
Setelah Ramadhan: kembali meninggalkan Al-Qur'an.
Musim mendapat masalah: rajin ke masjid.
Setelah masalah selesai: masjid kembali sepi dari dirinya.
Jangan seperti itu.
Allah yang kita sembah ketika susah adalah Allah yang sama yang memberikan kita kesenangan.
Allah yang kita panggil ketika sakit adalah Allah yang memberikan kesehatan.
Allah yang kita mohon pertolongan ketika miskin adalah Allah yang memberikan rezeki.
Allah yang kita tangisi di malam kesulitan adalah Allah yang memberikan kita kebahagiaan.
Maka jangan hanya mencintai Allah ketika membutuhkan pertolongan-Nya.
Bagaimana Agar Tetap Dekat kepada Allah Saat Senang?
Ada beberapa hal sederhana yang dapat kita lakukan.
1. Pertahankan shalat dalam keadaan apa pun
Jangan menjadikan kesibukan sebagai alasan untuk meninggalkan shalat.
Kesuksesan tidak boleh membuat kita lupa kepada Allah.
2. Jadikan dzikir sebagai kebiasaan
Jangan hanya berdzikir ketika mendapatkan masalah.
Biasakan lisan mengingat Allah ketika keadaan sedang baik.
3. Bersyukur ketika mendapatkan nikmat
Ketika mendapatkan rezeki, ucapkan Alhamdulillah dan gunakan rezeki tersebut pada jalan yang diridhai Allah.
4. Bersedekah ketika memiliki kemampuan
Jangan menunggu kaya untuk bersedekah.
Ketika memiliki sedikit, bersedekahlah sesuai kemampuan.
5. Tetap membaca Al-Qur'an
Jangan menjadikan Al-Qur'an sebagai bacaan ketika sedang sedih saja.
Jadikan Al-Qur'an sebagai teman dalam keadaan senang maupun susah.
6. Ingat bahwa semua kesenangan akan berakhir
Kesehatan akan berakhir.
Masa muda akan berakhir.
Kekayaan akan berakhir.
Jabatan akan berakhir.
Bahkan kehidupan dunia pun akan berakhir.
Yang tersisa adalah amal yang kita persiapkan untuk menghadap Allah.
Penutup: Jangan Menunggu Susah untuk Mengenal Allah
Saudaraku,
Jika hari ini kita sedang sehat, jangan tunggu sakit untuk rajin beribadah.
Jika hari ini kita sedang memiliki rezeki, jangan tunggu kehilangan untuk bersyukur.
Jika hari ini kita memiliki waktu luang, jangan tunggu kesibukan untuk membaca Al-Qur'an.
Jika hari ini kita memiliki keluarga, jangan tunggu kehilangan untuk menyadari betapa berharganya mereka.
Dan jika hari ini Allah memberikan kehidupan yang nyaman, jangan sampai kenyamanan tersebut membuat kita jauh dari Allah.
Sebab kehidupan dunia bukan hanya ujian ketika kita mengalami kesulitan.
Kesenangan juga merupakan ujian.
Maka jadilah hamba Allah dalam setiap keadaan.
Ketika susah, kita bersabar.
Ketika senang, kita bersyukur.
Ketika jatuh, kita kembali kepada Allah.
Ketika berhasil, kita semakin dekat kepada Allah.
Jangan hanya berkata:
"Ya Allah, tolong aku ketika aku membutuhkan-Mu."
Tetapi jadikan kehidupan kita sebagai bentuk pengakuan:
"Ya Allah, aku membutuhkan-Mu dalam setiap keadaan."
Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang selalu mengingat-Nya ketika lapang maupun sempit, ketika sehat maupun sakit, ketika kaya maupun miskin, dan ketika mendapatkan nikmat maupun ujian.
اللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ
"Ya Allah, bantulah kami untuk selalu mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah kepada-Mu dengan sebaik-baiknya."
Komentar
Posting Komentar