Kegelisahan dan Kesedihan Datang dari Dua Hal: Terlalu Mengejar Dunia dan Kurang Beramal

Kegelisahan dan Kesedihan Datang dari Dua Hal: Terlalu Mengejar Dunia dan Kurang Beramal

Kegelisahan, keresahan, dan kesedihan merupakan keadaan yang terkadang dirasakan oleh setiap manusia. Hati terasa tidak tenang, pikiran dipenuhi berbagai kekhawatiran, dan kehidupan yang dijalani seolah kehilangan ketenteraman.

Dalam nasihat yang dinisbatkan kepada Al-Imam Adz-Dzahabi rahimahullah, disebutkan bahwa kegelisahan, keresahan, dan kesedihan dapat bersumber dari dua perkara: terlalu menginginkan dunia dan kurang melakukan amal kebaikan serta ketaatan.
«“Kegelisahan, keresahan dan kesedihan itu datang dari dua hal: menginginkan dunia dan sangat berambisi terhadapnya, serta kurang melakukan amal kebaikan dan ketaatan.”»
Al-Imam Adz-Dzahabi rahimahullah
Siyar A'lam An-Nubala, Juz 4, Halaman 147.

Kegelisahan dan Ambisi Berlebihan terhadap Dunia
Dunia adalah tempat manusia menjalani kehidupan, mencari rezeki, belajar, bekerja, dan memenuhi berbagai kebutuhan. Islam tidak melarang seseorang memiliki harta, pekerjaan yang baik, ataupun cita-cita.

Namun, persoalan muncul ketika dunia menjadi tujuan utama hati.

Keinginan yang tidak pernah berhenti dapat membuat seseorang selalu merasa kurang. Ketika mendapatkan sesuatu, ia menginginkan sesuatu yang lebih besar. Ketika melihat keberhasilan orang lain, hatinya merasa gelisah karena membandingkan kehidupannya dengan kehidupan orang tersebut.

Akibatnya, seseorang dapat memiliki banyak hal tetapi tetap merasa tidak tenang.

Harta yang seharusnya menjadi sarana kehidupan justru dapat berubah menjadi sumber kegelisahan apabila hati terlalu bergantung kepadanya.

Ketika Dunia Menjadi Tujuan Utama
Salah satu penyebab hati sulit mendapatkan ketenangan adalah terlalu besar mengejar perkara dunia.

Seseorang mungkin sibuk memikirkan:
- Bagaimana mendapatkan lebih banyak harta?
- Bagaimana menjadi lebih sukses?
- Bagaimana mendapatkan pengakuan dari orang lain?
- Mengapa kehidupan orang lain terlihat lebih baik?
- Mengapa apa yang diinginkan belum juga tercapai?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat terus memenuhi pikiran apabila hati tidak memiliki tujuan yang lebih tinggi daripada kehidupan dunia.

Karena dunia memiliki sifat sementara. Apa yang hari ini dimiliki dapat berubah, berkurang, atau bahkan hilang.

Oleh sebab itu, seorang Muslim perlu menempatkan dunia pada tempat yang semestinya: sebagai sarana menuju kehidupan akhirat, bukan sebagai tujuan akhir kehidupan.

Kurangnya Amal Kebaikan Juga Dapat Membuat Hati Gersang
Perkara kedua yang disebutkan dalam nasihat tersebut adalah kurangnya amal kebaikan dan ketaatan.

Hati manusia tidak hanya membutuhkan kesenangan dunia. Hati juga membutuhkan kedekatan dengan Allah ﷻ.

Ketika seseorang semakin jauh dari ibadah, jarang membaca Al-Qur'an, meninggalkan doa dan dzikir, serta kurang melakukan amal kebaikan, kehidupan batinnya dapat menjadi kosong.

Kesibukan dunia mungkin membuat seseorang lupa bahwa ketenangan hati tidak hanya diperoleh dari keberhasilan duniawi.

Allah ﷻ berfirman:
«“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”» (QS. Ar-Ra'd: 28)

Ayat ini mengingatkan bahwa ketenteraman hati memiliki hubungan erat dengan mengingat Allah.

Bagaimana Cara Mengurangi Kegelisahan Hati?
Nasihat tersebut memberikan pelajaran agar kita tidak hanya mencari solusi dari sisi duniawi, tetapi juga memperbaiki hubungan kita dengan Allah.

Beberapa hal yang dapat dilakukan antara lain:

1. Mengurangi Ambisi terhadap Dunia
Bukan berarti meninggalkan pekerjaan, pendidikan, cita-cita, atau usaha mencari rezeki. Akan tetapi, kita perlu belajar agar dunia tidak menguasai hati.

Berusahalah mendapatkan dunia dengan cara yang halal, tetapi jangan sampai kehilangan ketenangan hanya karena sesuatu yang bersifat sementara.

2. Memperbanyak Amal Kebaikan
Mulailah dari perkara sederhana.
Perbanyak shalat, membaca Al-Qur'an, berdzikir, bersedekah, membantu orang lain, berbakti kepada orang tua, dan melakukan berbagai amal saleh sesuai kemampuan.

Tidak harus menunggu menjadi sempurna untuk berbuat baik.

3. Memperbaiki Ketaatan
Terkadang hati yang gelisah menjadi kesempatan bagi seseorang untuk kembali mendekat kepada Allah.

Evaluasi kembali shalat kita, doa kita, hubungan kita dengan Al-Qur'an, serta berbagai kewajiban yang mungkin selama ini terabaikan.

4. Belajar Bersyukur
Kegelisahan sering kali muncul karena terlalu banyak melihat apa yang belum dimiliki dan lupa terhadap nikmat yang telah diberikan.

Belajar bersyukur bukan berarti berhenti berusaha. Bersyukur berarti menyadari bahwa apa yang kita miliki hari ini juga merupakan nikmat dari Allah.

5. Mengingat Tujuan Akhirat
Kehidupan dunia hanyalah sementara. Sedangkan kehidupan akhirat adalah kehidupan yang kekal.

Ketika seseorang mengingat hal tersebut, ia akan lebih mudah menempatkan kesenangan, kesulitan, keberhasilan, maupun kegagalan dunia dalam perspektif yang benar.

Ketenangan Hati Bukan Berarti Tidak Memiliki Masalah
Perlu dipahami bahwa orang yang dekat dengan Allah bukan berarti tidak pernah sedih atau mengalami masalah.

Para nabi dan orang-orang saleh juga mengalami berbagai ujian dalam kehidupan.

Ketenangan hati bukan berarti hidup tanpa masalah. Ketenangan adalah ketika seseorang memiliki tempat untuk kembali ketika menghadapi masalah tersebut, yaitu kepada Allah ﷻ.

Karena itu, ketika sedang gelisah, jangan hanya bertanya, “Bagaimana agar masalah ini segera selesai?”

Tetapi tanyakan juga kepada diri sendiri:
“Bagaimana keadaan hubunganku dengan Allah?”
Pertanyaan tersebut dapat menjadi awal dari sebuah perubahan.

Penutup
Nasihat Al-Imam Adz-Dzahabi rahimahullah mengajarkan kepada kita untuk memperhatikan dua perkara yang sering kali menjadi sebab hati kehilangan ketenteraman: terlalu berambisi terhadap dunia dan kurangnya amal kebaikan serta ketaatan.

Dunia tetap boleh dicari. Kesuksesan tetap boleh diusahakan. Harta tetap boleh dimiliki. Namun, jangan sampai semua itu membuat hati jauh dari Allah.

Jika hati terasa gelisah, mari kita melakukan introspeksi. Bisa jadi kita terlalu sibuk mengejar sesuatu yang fana, sementara kita kurang mempersiapkan bekal untuk kehidupan yang kekal.

Semoga Allah ﷻ memberikan kepada kita hati yang tenang, mencukupkan kita dengan rezeki yang halal, serta memberikan kekuatan untuk senantiasa istiqamah dalam ketaatan dan amal kebaikan.
Wallahu a'lam bish-shawab.

Sumber
Al-Imam Adz-Dzahabi rahimahullah, Siyar A'lam An-Nubala, Juz 4, halaman 147.

Komentar