Ciri-Ciri Ahli Ilmu yang Bermanfaat: Tidak Suka Pujian dan Tidak Sombong
Ilmu yang bermanfaat bukan hanya membuat seseorang semakin banyak mengetahui, tetapi juga membuatnya semakin rendah hati. Semakin seseorang memahami ilmu agama, seharusnya semakin ia menyadari bahwa dirinya masih memiliki banyak kekurangan.
Di antara tanda yang menunjukkan bahwa ilmu seseorang memberikan manfaat adalah ia tidak merasa memiliki kedudukan istimewa, tidak senang dipuji, dan tidak menyombongkan diri kepada orang lain.
Hal ini sebagaimana nasihat yang disebutkan:
«مِنْ عَلَامَاتِ أَهْلِ الْعِلْمِ النَّافِعِ أَنَّهُمْ لَا يَرَوْنَ لِأَنفُسِهِمْ حَالًا وَلَا مَقَامًا، وَيَكْرَهُونَ بِقُلُوبِهِمُ التَّزْكِيَةَ وَالْمَدْحَ، وَلَا يَتَكَبَّرُونَ عَلَى أَحَدٍ»
Artinya:
«“Di antara tanda-tanda ahli ilmu yang bermanfaat adalah mereka tidak memandang dirinya memiliki kedudukan atau maqam tertentu. Mereka membenci dalam hati pujian dan sanjungan terhadap dirinya, serta tidak menyombongkan diri kepada siapa pun.”»
Apa yang Dimaksud dengan Ilmu yang Bermanfaat?
Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang membawa seseorang semakin dekat kepada Allah dan mendorongnya untuk memperbaiki amal serta akhlaknya.
Ilmu tidak hanya diukur dari banyaknya buku yang dibaca, banyaknya materi yang dikuasai, atau banyaknya orang yang mendengarkan ceramahnya.
Ilmu yang benar-benar memberikan pengaruh akan terlihat dalam kehidupan.
Seseorang yang semakin berilmu seharusnya semakin mengenal kelemahan dirinya, semakin takut kepada Allah, semakin menjaga lisannya, dan semakin baik akhlaknya kepada manusia.
Allah SWT berfirman:
«إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ»
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah orang-orang yang berilmu.”(QS. Fathir: 28)
Ayat ini menunjukkan bahwa ilmu memiliki hubungan erat dengan rasa takut kepada Allah.
1. Tidak Merasa Memiliki Kedudukan Istimewa
Salah satu ciri ahli ilmu yang bermanfaat adalah tidak merasa dirinya memiliki kedudukan khusus di hadapan manusia.
Ia mungkin memiliki ilmu yang lebih banyak daripada orang lain, tetapi ilmu tersebut tidak membuatnya merasa lebih mulia.
Ia tetap menghormati orang lain.
Ia tidak merasa bahwa dirinya selalu benar.
Ia juga tidak merasa bahwa setiap perkataannya harus diterima tanpa kritik.
Justru semakin luas ilmunya, semakin ia menyadari betapa luasnya perkara yang belum diketahuinya.
Karena itu, orang berilmu yang benar-benar memahami hakikat ilmu biasanya tidak mudah merasa bangga dengan dirinya sendiri.
2. Tidak Mencari Pujian
Tanda berikutnya adalah tidak menjadikan pujian manusia sebagai tujuan utama.
Pujian memang menyenangkan bagi hati. Seseorang bisa merasa senang ketika orang lain mengatakan bahwa dirinya pintar, alim, hebat, atau memiliki banyak ilmu.
Namun, apabila hati mulai bergantung kepada pujian, seseorang dapat kehilangan keikhlasan.
Ia mulai beramal agar dilihat.
Ia berbicara agar dipuji.
Ia mengajar agar dikenal.
Ia berdakwah agar mendapatkan pengakuan.
Padahal tujuan utama mencari ilmu adalah mendapatkan keridaan Allah dan memperbaiki kehidupan.
Karena itu, orang yang memiliki ilmu yang bermanfaat berusaha menjaga hatinya dari kecintaan berlebihan terhadap pujian.
3. Tidak Sombong kepada Orang Lain
Ilmu seharusnya melahirkan tawadhu, bukan kesombongan.
Orang yang berilmu tidak seharusnya merendahkan orang yang ilmunya lebih sedikit.
Ia tidak memandang orang lain dengan sebelah mata hanya karena pendidikan, pekerjaan, ekonomi, atau kemampuan mereka berbeda.
Sebab manusia memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.
Bisa jadi seseorang memiliki ilmu yang tidak kita miliki.
Bisa jadi amal yang dilakukan seseorang secara diam-diam jauh lebih baik daripada apa yang terlihat oleh manusia.
Karena itu, seseorang tidak boleh menjadikan ilmu sebagai alasan untuk merendahkan orang lain.
4. Ilmu Seharusnya Memperbaiki Akhlak
Salah satu pertanyaan penting bagi setiap pencari ilmu adalah:
“Apakah ilmu yang saya pelajari sudah memperbaiki akhlak saya?”
Jika seseorang semakin banyak mengetahui tetapi semakin mudah menghina orang lain, mudah marah, suka merendahkan, senang dipuji, dan merasa dirinya paling benar, maka ia perlu melakukan introspeksi.
Ilmu seharusnya memberikan pengaruh kepada hati.
Ilmu tentang kesabaran seharusnya membuat seseorang belajar bersabar.
Ilmu tentang tawadhu seharusnya membuat seseorang semakin rendah hati.
Ilmu tentang dosa seharusnya membuat seseorang semakin takut kepada Allah.
Ilmu tentang akhirat seharusnya membuat seseorang tidak berlebihan mengejar pujian dunia.
Dengan demikian, ilmu tidak berhenti di kepala, tetapi turun ke hati dan terlihat dalam perilaku.
5. Tidak Merasa Dirinya Lebih Baik daripada Orang Lain
Salah satu penyakit yang harus diwaspadai oleh orang yang menuntut ilmu adalah merasa lebih baik daripada orang lain.
Perasaan tersebut dapat muncul secara perlahan.
Awalnya seseorang merasa senang karena mendapatkan ilmu. Kemudian ia mulai membandingkan dirinya dengan orang lain. Setelah itu, muncul perasaan bahwa dirinya lebih paham, lebih alim, atau lebih dekat kepada Allah.
Padahal manusia tidak mengetahui kedudukan dirinya di sisi Allah.
Karena itu, sikap yang lebih selamat adalah terus memperbaiki diri dan tidak sibuk mencari kekurangan orang lain.
6. Semakin Berilmu, Semakin Takut kepada Allah
Ilmu yang bermanfaat seharusnya menumbuhkan rasa takut kepada Allah.
Bukan takut dalam arti putus asa, tetapi rasa takut yang membuat seseorang semakin berhati-hati dalam menjalani kehidupan.
Ia takut ilmunya tidak diamalkan.
Ia takut perkataannya tidak sesuai dengan perbuatannya.
Ia takut mendapatkan pujian manusia tetapi kehilangan keikhlasan.
Ia takut mengetahui kebenaran tetapi tidak mengikutinya.
Karena itu, ukuran keberhasilan seseorang dalam menuntut ilmu bukan hanya seberapa banyak yang dapat ia jelaskan kepada orang lain, tetapi seberapa banyak ilmu tersebut mengubah dirinya menjadi hamba Allah yang lebih baik.
Jangan Sampai Ilmu Menjadi Jalan Menuju Kesombongan
Ilmu merupakan nikmat yang sangat besar. Namun, nikmat juga dapat menjadi ujian.
Ketika seseorang mendapatkan ilmu, ia diuji dengan bagaimana ia menggunakan ilmu tersebut.
Apakah ilmu itu membuatnya semakin dekat kepada Allah?
Ataukah ilmu tersebut justru membuatnya senang dipuji dan merasa lebih tinggi daripada orang lain?
Inilah pentingnya menjaga hati bagi setiap penuntut ilmu, guru, ustaz, pendakwah, dan siapa pun yang diberikan kesempatan untuk mengajarkan ilmu kepada manusia.
Jangan sampai seseorang mengajarkan tentang tawadhu, tetapi dirinya sendiri tidak mau menerima nasihat.
Jangan sampai seseorang berbicara tentang keikhlasan, tetapi hatinya selalu menunggu pujian.
Jangan sampai seseorang mengajarkan larangan kesombongan, tetapi dirinya merasa paling benar dan paling tinggi.
Menuntut Ilmu Harus Disertai Muhasabah
Setiap kali mendapatkan ilmu baru, hendaknya kita tidak hanya bertanya:
“Apa yang bisa saya ajarkan kepada orang lain?”
Tetapi juga bertanya:
“Apa yang harus saya perbaiki dari diri saya?”
Inilah salah satu bentuk muhasabah.
Ilmu yang bermanfaat seharusnya membuat seseorang lebih banyak memperbaiki dirinya daripada sibuk menilai orang lain.
Jika ilmu tentang shalat dipelajari, maka perbaikilah shalat.
Jika ilmu tentang akhlak dipelajari, maka perbaikilah akhlak.
Jika ilmu tentang keikhlasan dipelajari, maka periksalah niat.
Jika ilmu tentang tawadhu dipelajari, maka perhatikanlah bagaimana kita memperlakukan orang lain.
Kesimpulan
Ciri ahli ilmu yang bermanfaat bukan sekadar banyaknya pengetahuan yang dimiliki, banyaknya ceramah yang disampaikan, atau banyaknya orang yang mengenalnya.
Salah satu tanda pentingnya adalah kerendahan hati.
Ia tidak merasa memiliki kedudukan istimewa. Ia tidak menjadikan pujian manusia sebagai tujuan. Ia tidak menyombongkan diri kepada siapa pun dan terus berusaha memperbaiki hatinya.
Ilmu yang bermanfaat semestinya membawa seseorang semakin dekat kepada Allah, semakin baik akhlaknya, semakin takut melakukan dosa, dan semakin rendah hati kepada sesama manusia.
Maka bagi siapa pun yang sedang menuntut ilmu, jangan hanya mengejar banyaknya ilmu, tetapi kejarlah pula keberkahan dan manfaat ilmu tersebut.
Sebab ilmu yang benar-benar bermanfaat bukan hanya membuat seseorang tahu lebih banyak, tetapi membuat dirinya menjadi lebih baik.
Komentar
Posting Komentar