3 Perkara yang Mengherankan Ibnu Mas’ud hingga Membuatnya Tertawa


Sayyidina Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu merupakan salah seorang sahabat Nabi Muhammad ﷺ yang dikenal memiliki kedalaman ilmu, ketakwaan, dan kepekaan hati terhadap kehidupan akhirat.
Ada sebuah nasihat yang dinisbatkan kepada beliau tentang tiga perkara yang mengherankan hingga membuatnya tertawa. Jika direnungkan dengan hati yang jernih, tiga perkara ini sebenarnya merupakan teguran yang sangat dalam bagi manusia yang terlalu sibuk mengejar dunia tetapi sering lupa mempersiapkan kehidupan akhirat.

Tiga perkara tersebut adalah:

«1. Orang yang selalu berangan-angan terhadap dunia, padahal kematian selalu mengintainya.
2. Orang yang lalai, padahal dia tidak pernah luput dari pengawasan Allah.
3. Orang yang senantiasa tertawa, padahal dia tidak mengetahui apakah Allah, Rabb semesta alam, sedang murka kepadanya atau ridha kepadanya.»

1. Orang yang Berangan-Angan tentang Dunia, Padahal Kematian Mengintainya

Manusia memang memiliki banyak keinginan.
Ada yang ingin memiliki rumah yang besar, kendaraan yang bagus, pekerjaan yang mapan, usaha yang sukses, tabungan yang banyak, dan kehidupan yang nyaman.

Tidak ada yang salah dengan memiliki cita-cita duniawi. Islam tidak melarang seorang Muslim untuk bekerja, kaya, memiliki rumah yang baik, ataupun menikmati rezeki Allah.

Yang menjadi masalah adalah ketika angan-angan terhadap dunia membuat manusia lupa bahwa kehidupannya memiliki batas.

Seseorang bisa berkata:
"Nanti kalau sudah kaya, saya akan banyak bersedekah."
"Nanti kalau sudah pensiun, saya akan rajin beribadah."
"Nanti kalau sudah tua, saya akan memperbanyak membaca Al-Qur'an."
"Nanti kalau urusan dunia sudah selesai, saya akan memperbaiki diri."
Namun, siapa yang menjamin kita akan sampai pada kata "nanti"?

Kematian tidak mengenal usia.
Kematian tidak menunggu seseorang kaya.
Kematian tidak menunggu seseorang selesai membangun rumah.
Kematian tidak menunggu anak-anaknya selesai sekolah.
Dan kematian tidak menunggu seseorang merasa sudah siap.

Allah SWT berfirman:
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ

"Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian."
(QS. Ali 'Imran: 185)

Ayat ini mengingatkan bahwa sehebat apa pun manusia merencanakan masa depan, tetap ada satu perkara yang pasti datang: kematian.

Karena itu, jangan sampai kita terlalu sibuk membangun rumah di dunia, tetapi lupa membangun rumah di akhirat.

Jangan sampai kita menghitung kekayaan yang kita miliki, tetapi lupa menghitung amal yang akan kita bawa menghadap Allah.

2. Orang yang Lalai, Padahal Tidak Pernah Luput dari Pengawasan Allah

Perkara kedua adalah seseorang yang lalai, padahal dirinya selalu berada dalam pengawasan Allah SWT.

Manusia mungkin bisa bersembunyi dari manusia.
Kita bisa menutup pintu kamar.
Kita bisa menghapus riwayat di ponsel.
Kita bisa menyembunyikan perbuatan dari keluarga.
Kita bahkan bisa membuat orang lain percaya bahwa kita adalah orang baik.
Tetapi tidak ada satu pun perbuatan yang tersembunyi dari Allah.

Allah SWT berfirman:

وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
"Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan."
(QS. Al-Baqarah: 234)

Inilah yang seharusnya membuat seorang mukmin selalu berhati-hati dalam menjalani kehidupan.

Ketika sendirian, Allah melihat.
Ketika tidak ada manusia yang mengetahui, Allah mengetahui.
Ketika sebuah dosa berhasil disembunyikan dari manusia, dosa itu tidak pernah tersembunyi dari Allah.

Maka jangan hanya takut kepada penilaian manusia.

Takutlah kepada Allah.
Sebab terkadang manusia begitu menjaga penampilannya di hadapan manusia, tetapi tidak menjaga hatinya di hadapan Allah.

Ia takut reputasinya rusak, tetapi tidak takut amalnya rusak.

Ia takut ketahuan manusia, tetapi tidak takut ketika Allah mengetahui seluruh perbuatannya.

3. Orang yang Banyak Tertawa, Padahal Tidak Mengetahui Apakah Allah Ridha atau Murka Kepadanya

Perkara ketiga adalah orang yang senantiasa tertawa, sementara ia tidak mengetahui bagaimana kedudukannya di hadapan Allah.

Tertawa tentu bukan sesuatu yang haram. Rasulullah ﷺ juga pernah tersenyum dan bercanda dengan para sahabat.

Namun, yang menjadi renungan adalah ketika seseorang terlalu larut dalam kesenangan dunia hingga lupa kepada akhirat.

Kita sering merasa bahagia karena mendapatkan sesuatu.
Mendapatkan uang, kita bahagia.
Mendapatkan jabatan, kita bahagia.
Membeli kendaraan baru, kita bahagia.
Membangun rumah, kita bahagia.
Mendapatkan banyak pengikut di media sosial, kita bahagia.

Tetapi pernahkah kita bertanya:
Apakah Allah ridha kepada kita?
Itulah pertanyaan yang jauh lebih penting.

Sebab ukuran keberhasilan seorang Muslim bukan hanya berapa banyak harta yang berhasil dikumpulkan, tetapi apakah Allah ridha terhadap kehidupan yang kita jalani.

Apa gunanya dunia semakin indah jika hubungan kita dengan Allah semakin jauh?

Apa gunanya rumah semakin megah jika hati semakin kosong dari zikir?

Apa gunanya wajah selalu tersenyum jika kelak kita menghadap Allah membawa sedikit amal?

Jangan Sampai Rumah Semakin Indah, Tetapi Akhirat Semakin Hancur

Ada manusia yang sangat memperhatikan keindahan rumahnya.

Dinding dicat dengan warna terbaik.
Lantainya dibuat semakin indah.
Perabotannya diperbarui.
Halaman dipercantik.
Semua dilakukan agar rumah terasa nyaman.
Itu tidak salah.

Tetapi jangan lupa bahwa rumah dunia pada akhirnya akan kita tinggalkan.

Ada rumah yang sedang kita bangun dengan batu bata dan semen.

Namun ada pula rumah yang sedang kita bangun dengan shalat, sedekah, membaca Al-Qur'an, berbakti kepada orang tua, membantu sesama, dan berbagai amal saleh.

Rumah pertama akan kita tinggalkan.
Rumah kedua akan kita tempati.
Karena itu, jangan hanya bertanya:
"Sudah seindah apa rumah saya di dunia?"
Tetapi tanyakan pula:
"Sudah seindah apa rumah saya di akhirat?"
Dunia Hanya Sementara, Akhirat Selamanya

Allah SWT mengingatkan:
وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

"Kehidupan dunia itu hanyalah kesenangan yang memperdayakan."(QS. Ali 'Imran: 185)

Dunia boleh kita nikmati, tetapi jangan sampai dunia menguasai hati.

Kita boleh memiliki harta, tetapi jangan sampai harta memiliki kita.

Kita boleh membangun rumah yang indah, tetapi jangan sampai keindahan rumah membuat kita lupa membangun bekal menuju akhirat.

Kita boleh tertawa dan menikmati kebahagiaan, tetapi jangan sampai kita lupa bahwa suatu hari nanti kita akan berdiri di hadapan Allah SWT untuk mempertanggungjawabkan seluruh kehidupan kita.

Renungan untuk Diri Kita

Tiga perkara yang dinisbatkan kepada Ibnu Mas'ud radhiyallahu ‘anhu tersebut seharusnya menjadi bahan introspeksi bagi kita.

Pertama, jangan terlalu panjang berangan-angan tentang dunia karena kematian bisa datang kapan saja.

Kedua, jangan merasa bebas melakukan apa saja ketika tidak ada manusia yang melihat, karena Allah tidak pernah lalai mengawasi kita.

Ketiga, jangan terlalu larut dalam kegembiraan dunia hingga lupa bertanya apakah Allah sedang ridha atau murka kepada kita.

Mungkin hari ini kita masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri.

Masih bisa bersujud.
Masih bisa bertaubat.
Masih bisa meminta maaf.
Masih bisa bersedekah.
Masih bisa membaca Al-Qur'an.
Masih bisa berbuat baik kepada orang tua.

Tetapi suatu hari nanti kesempatan itu akan berakhir.

Saat itulah manusia baru menyadari bahwa dunia yang selama ini dikejar ternyata tidak dibawa ke dalam kubur.

Yang menemani hanyalah amal.

Penutup
Semoga Allah SWT tidak menjadikan kita termasuk orang yang panjang angan-angannya terhadap dunia, tetapi pendek persiapannya menuju akhirat.

Semoga Allah menjadikan hati kita selalu sadar bahwa kita berada dalam pengawasan-Nya.

Dan semoga Allah memberikan kepada kita kehidupan yang penuh keberkahan, rezeki yang halal, keluarga yang sakinah, serta hati yang selalu dekat kepada-Nya.

Jangan hanya membuat rumah kita semakin indah.

Buatlah pula amal kita semakin indah.

Karena rumah dunia akan kita tinggalkan, sedangkan rumah akhirat akan menjadi tempat tinggal kita selamanya.

اللَّهُمَّ أَحْسِنْ خَاتِمَتَنَا، وَارْزُقْنَا رِضَاكَ وَالْجَنَّةَ، وَأَعِذْنَا مِنْ سَخَطِكَ وَالنَّارِ

"Ya Allah, perbaikilah akhir kehidupan kami. Karuniakanlah kepada kami keridhaan-Mu dan surga-Mu, serta lindungilah kami dari kemurkaan-Mu dan neraka."

Wallahu a'lam bish-shawab.

Komentar