Syarat diterimanya amal syariat
Enam Hal yang Perlu Diperhatikan dalam Beribadah
Enam poin berikut sebaiknya dipahami sebagai rangkuman nasihat untuk mengevaluasi kualitas ibadah, bukan sebagai rumusan baku bahwa seluruh ulama menetapkan tepat enam syarat universal bagi diterimanya setiap amal.
Beribadah dengan ilmu
Ilmu membantu seseorang mengetahui bagaimana suatu ibadah dilaksanakan dengan benar, termasuk ketentuan, syarat, rukun, dan hal-hal yang harus dihindari sesuai jenis ibadahnya.
Menjaga keikhlasan
Niat memiliki kedudukan penting dalam amal. Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa amal bergantung pada niat dan seseorang memperoleh sesuai dengan apa yang diniatkannya.
Memenuhi syarat dan rukun
Ibadah yang memiliki ketentuan syariat perlu dikerjakan dengan memperhatikan syarat dan rukunnya. Karena itu, belajar tata cara ibadah merupakan bagian penting sebelum dan ketika mengamalkannya.
Menjaga adab
Selain aspek sah secara fikih, seorang Muslim juga dianjurkan menjaga adab, kekhusyukan, kerendahan hati, dan sikap yang baik ketika beribadah.
Menjauhi hal yang membatalkan dan dilarang
Perhatikan hal-hal yang dapat membatalkan ibadah serta perbuatan yang bertentangan dengan tuntunan agama. Ketentuannya dapat berbeda antara salat, puasa, zakat, haji, dan ibadah lainnya.
Memperhatikan yang halal
Kehalalan makanan, minuman, pakaian, dan penghasilan berkaitan erat dengan kehidupan seorang Muslim. Menjaga diri dari yang haram merupakan bagian penting dari usaha memperbaiki amal dan doa.
Dasar Penting: Niat dan Kehalalan
إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِMaknanya: amal-amal bergantung pada niat. Hadis ini diriwayatkan dari Umar bin Khattab r.a. dan tercantum dalam Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim.
Prinsip lain yang relevan adalah hadis Abu Hurairah r.a. dalam Sahih Muslim no. 1015. Rasulullah ﷺ menerangkan bahwa Allah itu baik dan menerima yang baik. Dalam hadis tersebut juga disebut seseorang yang berdoa, sementara makanan, minuman, pakaian, dan asupannya berasal dari yang haram. Hal ini menjadi peringatan penting agar seorang Muslim memperhatikan sumber rezekinya.
Catatan tentang Riwayat “Pakaian Sepuluh Dirham”
Dalam catatan lama artikel ini terdapat riwayat tentang seseorang yang membeli pakaian seharga sepuluh dirham sementara satu dirham berasal dari harta haram, lalu disebutkan bahwa salatnya tidak diterima selama pakaian tersebut dikenakan.
Adapun kutipan lama mengenai “satu suap makanan haram” dan tidak diterimanya amal selama empat puluh hari juga tidak saya jadikan landasan utama artikel ini karena status periwayatannya memerlukan kehati-hatian. Pesan tentang pentingnya makanan dan penghasilan halal sudah memiliki landasan yang lebih kuat dalam hadis sahih riwayat Muslim di atas.
Apa yang Bisa Kita Praktikkan?
Daripada menjadikan pembahasan tentang diterima atau tidaknya amal sebagai sarana menilai ibadah orang lain, enam poin di atas lebih bermanfaat sebagai bahan muhasabah diri: apakah kita sudah belajar ilmunya, meluruskan niat, mengikuti ketentuan ibadah, menjaga adab, menghindari perkara yang merusak amal, dan berusaha mencari rezeki yang halal.
Penerimaan amal pada akhirnya merupakan perkara yang berada dalam pengetahuan dan kehendak Allah. Tugas seorang hamba adalah berusaha memperbaiki ibadah, bertaubat dari kesalahan, dan terus belajar.
Wallahu a'lam.
Komentar
Posting Komentar